Time Is Money

Hasil gambar untuk time is money

Renungan Sabtu 28 Oktober  2017

Bacaan : Ef. 2:19-22Mzm. 19:2-3,4-5Luk. 6:12-19

Time Is Money

Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” (Luk 6:12)

Yesus telah memberi teladan yang sangat baik. Sebelum mengambil keputusan yang penting, Ia menarik diri dan menggunakan waktu yang tersedia untuk berdoa kepada Bapa semalaman. Ia harus memilih dua belas dari antara murid-murid-Nya yang sangat banyak untuk dijadikan rasul-Nya. Jika salah memilih maka risikonya adalah kegagalan misi-Nya dalam “grand design” Bapa.

Yesus tidak lantas menghabiskan waktu-Nya untuk menimbang, mengkonsep atau corat-coret kriteria seleksi di atas tanah. Mungkin hal itu dilakukan-Nya, tetapi yang pasti Ia tahu yang terpenting yaitu menghabiskan waktu semalaman bersama Bapa untuk menikmati kebersamaan, menimba hikmat dan mencari kehendak Bapa. Hasilnya terpilihlah dua belas rasul yang terbaik dengan segala keunikannya, walaupun di mata manusia mereka tidak sempurna, tetapi Allah tidak pernah salah memilih.

Kontras sekali dengan kebiasaan zaman sekarang yang cenderung menerapkan prinsip “Time is Money”, segala sesuatu harus kelihatan hasilnya dan produktif, sedangkan di luar itu disebut sia-sia. Tidak heran bila ada pertanyaan: “Apa sih untungnya kamu sering ke gereja, ke Persekutuan Doa (PD), doa lingkungan, latihan koor, pelayanan, rapat, rajin membaca Aklitab, doa rosario, pujian penyembahan satu jam? Semuanya buang-buang waktu!” Apapun jawabannya tidak akan pernah memuaskan karena pada umumnya mereka tidak membutuhkan jawaban. Seperti sekedar pertanyaan retorika. Tapi apabila Allah sendiri yang “menjawab” melalui berbagai macam cara maka manusia tidak akan pernah mampu berkelit atau menolak-Nya.

Semoga Bapa selalu membuka mata rohani kita dan orang-orang di sekitar sehingga dapat “melihat” setiap berkat-Nya dalam keseharian juga memampukan kita untuk menjalankan setiap komitmen sebagai bentuk mengasihi-Nya, sehingga semuanya bisa kita nikmati dengan penuh rasa syukur dan sukacita, bukan lagi sebagai beban dan tugas tetapi memang kitalah yang membutuhkan hikmat dan kekuatan dari-Nya. Tuhan memberkati. (LO)