Tamak

 

Hasil gambar untuk ketamakan

Renungan Senin 23 Oktober 2017

Bacaan: Rm. 4:20-25; MT Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Luk. 12: 13-21

TAMAK

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Luk 12:15)

Kalau kita mengamati keadaan zaman sekarang ini, banyak orang berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan. Meski kekayaan itu diperoleh dengan cara yang tidak benar misalnya dengan korupsi atau memeras orang lain, mereka tidak peduli. Ada pula yang beranggapan bahwa kekayaan dapat menaikkan derajat status seseorang. Yang lebih parah lagi orang mengumpulkan kekayaan dengan menjadi serakah, kikir dan mementingkan diri sendiri.

Dalam Injil Lukas, Yesus menolak untuk menyelesaikan pertikaian tentang uang yang terjadi antar saudara, karena perselisihan itu timbul dari ketamakan. Injil Lukas 12 ayat 16-21 menunjukkan bahwa ketamakan itu tidak berguna. Harta kekayaan, meskipun berlimpah ruah tidak dapat memberikan jaminan tetapi hanya memberikan ilusi tentang rasa aman. Ilusi ini dapat mengalihkan perhatian kita dari sumber sejati perasaan aman itu yakni penyelenggaraan Allah. Kebodohan orang kaya itu tidak terletak pada lumbung-lumbungnya yang penuh tetapi pada kepercayaan bahwa lumbung penuh merupakan segalanya yang dia butuhkan.

Menurut Yesus, orang bisa berpikir bahwa hidupnya sudah nyaman ketika dia mempunyai banyak harta. Akan tetapi damai sejahtera yang diberikan dunia melalui harta benda bukanlah damai sejahtera yang masuk dalam kriteria surgawi. Orang tidak akan menjadi bahagia dengan harta bendanya karena dia sangat tergantung dari hidup yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Oleh karena itu sebagai murid-murid Yesus harus waspada terhadap segala ketamakan karena hidup tidak tergantung pada kekayaan. Jika kita percaya kepada Allah dan bukan kepada apa yang kita miliki, maka kita menjadi lebih bebas untuk mempergunakan kekayaan kita dengan cara yang terbaik. Apakah cara yang terbaik itu? Caranya adalah mempergunakan kekayaan untuk menolong sesama dengan cara memberi sedekah dan menolong orang miskin. Yang terpenting lagi dengan tidak tamak maka kita tidak harus merugikan orang lain.

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk beriman kepada Bapa serta mampukan kami untuk tidak mempunyai sifat serakah dan tamak sehingga tidak merugikan orang lain. Sebaliknya mampukan kami bertindak dalam iman untuk semakin bermurah hati kepada orang-orang miskin atau yang membutuhkan. Amin. (EH)