Siapakah Sesamaku

Hasil gambar untuk Luke 10: 25-37

Renungan Senin 9 Oktober 217

Bacaan : Yun. 1:1-17;2:10; MT Yun. 2:2,3,4,5,8Luk. 10:25-37

SIAPAKAH SESAMAKU?

Seperti halnya orang Farisi dalam bacaan di atas, kita juga tahu tentang Hukum Cinta kasih Allah yang tertulis dalam Kitab Suci. Hukum pertama ”Mengasihi Allah”  dan  hukum kedua “Mengasihi Sesama”. Dalam hal mengasihi Allah kita bisa mengetahui dengan benar siapakah Allah kita, tetapi tentang sesama, kita seringkali salah. Kita tidak bisa memilih atau menentukan dengan benar “siapakah sesamaku”. Yesus memberikan contoh atau perumpamaan yang tepat tentang siapakah sesamaku. Maka perumpamaan Yesus ini tidak hanya menjawab pertanyaan orang Farisi tersebut tetapi juga memberi pengertian yang benar kepada kita.

Dalam perumpamaan “Orang Samaria yang baik hati” Yesus memakai orang Samaria sebagai penolong dan orang Yahudi sebagai korban. Seperti yang kita ketahui orang Samaria adalah orang yang dibenci, direndahkan, dan dipandang sebelah mata oleh orang Yahudi, tetapi justru oleh Yesus dijadikan pahlawan yang menolong seorang Yahudi, korban perampokan.

Melalui perumpamaan ini Yesus dengan jelas mengajarkan kepada kita, bahwa sesama bagi kita adalah siapapun, tidak terbatas oleh ras ataupun golongan, tetapi mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Maka belas kasihan tidak hanya berarti merasa kasihan, tetapi belas kasihan itu harus dilanjutkan dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Kita sebagai murid-murid Kristus diajak untuk membagikan dan mewujudnyatakan belas kasih kita kepada sesama. Sesama di sini bukan hanya teman kita, tetapi juga mereka yang bukan teman, bahkan musuh atau orang yang membenci kita. Hal ini menegaskan akan perintah Kristus dalam Lukas 6:27 , “Kasihilah musuhmu, berberbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu”.  

Semuanya ini akan mampu kita lakukan dengan berpegang pada ajaran Yesus tentang Hukum Kasih, yang merupakan hukum utama dan yang terutama, yang mengatasi hukum-hukum yang lainnya. Hukum Kasih mengatasi batas ras/golongan, seperti yang ditunjukkan dalam perumpamaan ini. Sebab yang terluka karena dirampok itu adalah seorang Yahudi, sehingga sesungguhnya seorang imam Yahudi dan seorang Lewi yang lewat di sana mempunyai kewajiban yang lebih besar untuk menolongnya, karena mereka sebangsa, dan juga karena kedudukan mereka sebagai pemuka umat. Sebaliknya, akan lebih bisa dimengerti jika orang Samaria itu memilih untuk tidak menolongnya, sebab saat itu bangsa Yahudi tidak bergaul bahkan merendahkan orang Samaria. Namun demikian, yang terjadi dalam perumpamaan ini adalah sebaliknya: sesama orang Yahudi yang seharusnya menolong malah tidak menolong, sedangkan orang Samaria yang tidak dianggap teman, justru dialah yang menolong.

Dapat dikatakan bahwa sebenarnya perumpamaan ini menggambarkan diri Kristus sendiri sebagai “orang Samaria yang baik hati itu”, di mana Kristus telah menolong kita, menyembuhkan luka-luka kita dan mengangkat kita dari kejatuhan ke dalam dosa. Maka setelah mengalami pertolongan Tuhan, kita pun dipanggil oleh Kristus untuk melakukan hal yang sama, menjadi “Orang Samaria yang baik hati” bagi orang lain untuk mengasihi dan menolong orang yang membutuhkan, tanpa memandang bulu, tanpa membeda-bedakan ras dan golongan, dan tanpa mengharapkan balasan, baik itu teman ataupun orang yang membenci kita sebagaimana Kristus telah melakukannya bagi kita tanpa memilih-milih siapakah kita dan menilai bagaimana keadaan kita. 

Pesan iman dan moral dari perikop hari ini adalah bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa hanya dengan mengasihi Tuhan sebagai yang utamalah maka kita dapat hidup bahagia. Dan kasih kepada Tuhan itu mau tidak mau harus diikuti dan diwujudkan dengan kasih kepada sesama, karena kita percaya bahwa Tuhan juga hadir dalam diri sesama kita, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan (Matius 25:35: “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku maka; ketika Aku haus, kamu memberi aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku).

Mengakhiri perdebatan ahli Taurat itu, Yesus mengatakan “perbuatlah demikian”. Sampai dua kali Yesus mengatakan hal itu dalam pembicaraan ini, menunjukkan bahwa bagi-Nya, teori dan definisi tetang sesama manusia bukan merupakan hal yang penting. Yang terpenting adalah mempraktekkan kasih itu. Karena banyak orang, mungkin termasuk diri kita bahkan dunia tahu ajaran tentang “mengasihi sesama manusia”, tetapi perang, kebencian, kerusuhan, dan perselisihan yang sekarang ini terjadi di mana-mana dengan jelas membuktikan bahwa ajaran itu baru sebatas diketahui, tetapi belum dilaksanakan.

Dimulai dari diri kita, marilah dengan rendah hati kita mohon pertolongan Tuhan agar dimampukan untuk mengasihi Tuhan dan menjadi “Orang Samaria yang baik hati” bagi sesama kita seperti yang Tuhan mau. Karena hanya dengan melakukan perintah-Nya kita dapat memperoleh arti hidup sejati, yaitu kebahagiaan di dunia ini dan pada saatnya nanti, kebahagiaan hidup kekal di Surga. Tuhan memberkati. (MFBD)