Pikiran, Cara Pandang dan Hidup Baru Sesuai Kehendak Bapa

Gambar terkait

Renungan Selasa 3 Oktober 2017

Bacaan : Za. 8:20-23Mzm. 87:1-3,4-5,6-7Luk. 9:51-56

PIKIRAN, CARA PANDANG, DAN HIDUP BARU SESUAI DENGAN KEHENDAK BAPA

Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka? Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.” (Luk 9:53-55).

Murid-murid Yesus telah 3 tahun hidup bersama dan mengikuti Yesus. Berbagai cara pelayanan diajarkan oleh Yesus dengan praktik pengalaman hidup mereka bersama Yesus. Sebelum Yesus diangkat ke sorga, para murid masih memiliki cara pandang dan pengetahuan bertindak yang berbeda tentang pelayanan mereka bagi Kerajaan Allah. Pada saat itu Yesus akan menuju Yerusalem. Yesus pun menggunakan kesempatan ini untuk mengajar murid-murid-Nya agar lebih mengenal cara dan melakukan kehendak Bapa untuk memperkenalkan Kerajaan Allah di bumi di dalam kehidupan cara berpikir dan proses tindakan pelayanan mereka.

Kita sebagai murid Yesus juga diutus untuk mempersiapkan segala sesuatu dalam kehidupan dan pelayanan kita bagi Tuhan dalam keluarga dan pelayanan. Tetapi bagaimana kita mempersiapkan suatu pelayanan, kita harus berhadapan dengan orang-orang di sekitar yang kurang bisa menerima kita dan belum lagi berbagai kondisi yang menghalangi tugas kita. Seperti dikatakan dalam Lukas 9:53: “Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.”

Dalam perjalanan kehidupan pelayanan kita sehari-hari sebagai murid Kristus, betapa seringnya kita ditolak di tengah lingkungan maupun keluarga meskipun kita berpikir bahwa kita sudah menyiapkannya dengan sungguh-sungguh dan mempunyai tujuan yang baik. Dengan adanya penolakan tersebut terkadang kita merasa tidak terima, marah dan ingin “menghukum” orang-orang yang menolak kita.

Terlebih pada saat kita lakukan pelayanan, menemui berbagai macam manusia yang mungkin menerima, mungkin menolak, kadang bahkan mempersulit karena mengetahui tujuan kita mengenalkan dan membesarkan Kerajaan Allah. Sifat kedagingan kita mudah timbul. Tidak ada penguasaan diri dan kesabaran seperti halnya yang dialami kedua murid Yesus itu, ingin mencapai sesuai tujuan mereka sebagai utusan Yesus. Maka untuk keberhasilan mereka menggunakan segala cara, apa  yang menghalangi hendak dimusnahkan

Lukas 9:54: “Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”

Namun hal itu tidaklah berkenan di hadapan Bapa kita. Kita harus selalu mencari hikmat Tuhan dengan mendekatkan diri dan bersatu dengan-Nya agar pikiran dan hati kita dapat menyatu dengan hati dan pikiran Bapa serta mengikuti dan menerima arahan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Dalam renungan hari ini, kita diajak untuk selalu belajar memiliki pikiran, cara pandang dan hidup baru yang lebih mulia yang sesuai dengan kehendak Bapa. Kita  murid-murid  Yesus dibawa ke suatu tujuan dan dapat belajar memiliki pandangan cara hidup yang lebih mulia. Bukan sekedar bertindak di mana kita mungkin mendapatkan kebanggaan dan kegagahan dunia karena kita dapat mengatasi atau melakukan dengan kekuatan diri kita. Tetapi pikiran dan kehendak Bapa di Surgalah yang dipentingkan.

Maka dalam setiap proses langkah kita, perlu kita mencari kehendak-Nya, berdevosi dengan menyatukan  pikiran dan hati yang damai dan benar dalam Tuhan. Kita mengenal suara dan arahan-Nya .

Sebagai murid-murid Yesus, kita terus belajar melayani di mana saja kapan saja dalam menghadapi proses  kehidupan ini dengan satu tujuan. Caranya kita terus belajar dalam hidup terus bersekutu agar mampu menyatu dalam Roh Kudus dan bersama Kristus membawa sesama kita jiwa-jiwa pada tempat yang dituju dan dijanjikan Yesus. Wahyu 21:2 mengatakan bahwa nama kota itu adalah “Yerusalem baru”. (WN)