Merebut Hak Milik

Hasil gambar untuk matthew 21:33-43

Renungan Minggu 8 Oktober 2017

Bacaan: Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9,12,13-14,15-16,19-20; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43

MEREBUT HAK MILIK

Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. (Mat 21:39)

Dalam 1 Samuel 8:1-22, ketika orang-orang Israel menghendaki seorang Raja, seperti bangsa-bangsa lain, dan menolak Allah sebagai rajanya, melalui Samuel, Allah mengingatkan bahwa apa yang diminta oleh orang Israel tersebut membawa risiko. Raja adalah orang yang berkuasa dan bisa merebut apa saja dari rakyatnya, yang akhirnya membuat berbagai kesulitan atau pun ketidakadilan bagi rakyat itu sendiri.

Dalam kisah Daud dan Bathsheba, dosa terbesar Raja Daud bukanlah membunuh Uria (suami Bathsheba), tetapi dosa yang terbesar Raja Daud adalah merebut istri Uria dengan cara keji yaitu membunuh.

Dalam Yesaya 5:1-7, Sang Nabi mengutarakan keluh kesah pemilik kebun anggur yang tidak berhasil, walaupun sang pemilik telah menyiapkan tanah yang subur, mengamankan ladangnya dengan pagar dan membangun berbagai fasilitas di dalam kebun anggur tersebut.

Dalam perumpamaan Yesus, (Matius 21:33-43) kegagalan kebun anggur untuk tumbuh dan berbuah, bukan karena pohon anggurnya yang jelek ,tetapi karena ulah para penggarap-penggarapnya yang jahat dan berusaha MEREBUT HAK MILIK sang empunya kebun anggur.

Pesan Injil di atas sangat jelas, Merampas Hak Milik adalah hal yang sangat buruk, karena merampas adalah tindakan paksa yang mengakibatkan kesusahan, ketidakadilan dan penderitaan bagi para korbannya.

Kebun anggur adalah perumpamaan tentang umat-umat Allah dan pemilik kuasa atas umat tersebut adalah Allah sendiri. Para penggarap adalah Para Pemimpin umat yang dipercaya Allah untuk memelihara, menyejahterakan dan menyelamatkan umat-umat-Nya.

Dalam realita kehidupan, banyak penggarap-penggarap kebun anggur atau para pemimpin umat yang tidak baik, yang jahat, menyesatkan, merebut kemuliaan Allah, karena keegoisan dan kepentingan pribadi atau kelompok-kelompoknya sendiri. Mereka merebut kemuliaan Allah dan digantikan dengan kemuliaannya sendiri.

Para pemimpin yang jahat ini akhirnya merusak dan mengakibatkan kebun serta tanaman anggur tidak berbuah. Buah-buah kehidupan rohani, itulah Kerajaan Allah, di mana orang bisa menikmati rasa “damai, sejahtera, bahagia dan suka cita dalam Roh Kudus”. Kebun anggur yang berbuah-buah adalah Kerajaan Allah dan di situlah terjadi keselamatan yang diharapkan serta dirindukan oleh umat manusia.

Jadi, sebagai murid-murid Kristus, para pemimpin umat Allah,

“Apakah kita sudah hidup dalam kekudusan dan berbuah?”

“Apakah kita sudah membangun relasi yang baik dengan Allah?

“Buah-buah apa yang sudah kita berikan kepada Allah sebagai pemilik kebun anggur?”

“Ataukah kita hanya sibuk memberontak dan berebut kebun anggur, menimbulkan konflik-konflik, tekanan-tekanan, ketidakadilan, dan penderitaan-penderitaan?”

Mari kita renungkan, seberapa jauh Kuasa Allah ada di dalam kehidupan kita. Apabila karya-karya Allah tidak ada dalam diri kita, maka kita pun tidak akan pernah berbuah.

Salam dan doa,

FXST