Mengasihi Allah dan Sesama

Hasil gambar untuk matthew 22:34-40

Renungan Minggu 29 Oktober 2017

Bacaan: Kel. 22:21-27Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab1Tes. 1:5c-10Mat. 22:34-40

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Mat 22:37-39)

Selamat pagi para sahabat Kristus.

Beberapa waktu yang lalu, Tuhan Yesus mengizinkan saya untuk bisa melayani Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) di suatu kota. Sebelumnya, sekitar dua belas tahun yang lalu, melalui suatu peristiwa, saya harus bekerja di kota itu. Saya mengalami pertobatan dan pemulihan di kota itu pada waktu itu. Jadi, pada waktu saya diberitahu oleh sekretariat untuk melayani di kota itu, ada perasaan campur aduk, senang, sedih, dan teringat banyak peristiwa yang saya alami. Tetapi di antara semua perasaan campur aduk tersebut, saya sangat bersukacita untuk melayani di kota itu.

Dua belas tahun yang lalu, saya mengalami krisis keuangan yang sangat hebat. Namun, di tahun yang sama, melalui kemurahan Tuhan Yesus, saya berkenalan dengan pimpinan suatu perusahaan penanaman tembakau. Singkat cerita, saya mendapat pekerjaan di kota tersebut. Pemulihan demi pemulihan saya alami, bahkan saya mendapatkan hasil yang jauh lebih besar daripada saat sebelum bangkrut. Saya merantau di kota itu selama tiga tahun. Bukan hanya kehidupan jasmani saja yang Tuhan pulihkan, tetapi juga kehidupan rohani.

Saya berkenalan dengan seorang aktivis gereja, yang sangat luar biasa bagi saya. Dia mengajarkan banyak hal tentang arti mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Bapak ini adalah seorang suami dan ayah yang sedang terluka karena masalah rumah tangganya, istri dan anak perempuannya pergi meninggalkannya. Ada banyak alasan bagi dia untuk kecewa kepada Tuhan karena doa-doanya yang tak kunjung dijawab. Namun, saya melihat betapa gigih dia melayani pekerjaan Tuhan. Sekali waktu saya bertemu dengannya saat misa pagi. Kemudian dia ajak saya untuk berkomunitas di persekutuan doa. Bukan hanya mengajak, namun dia juga menjemput dan mengantar saya. Ternyata mengajak orang berkomunitas adalah kesenangannya. Dia mengatakan bahwa sangat bersukacita bisa membawa orang dekat kepada Tuhan. Suatu saat, dia mengajak saya untuk berkomunitas pada hari yang lain, yang bukan hari biasanya kami berkomunitas. Ternyata kerinduannya untuk membawa orang dekat pada Tuhan, dia tularkan juga kepada suatu gereja Kristen yang sedang berusaha bangkit di kota tersebut. Dia bantu setiap minggu untuk gereja tersebut bisa mengadakan doa malam (istilah di gereja itu).

Saya benar-benar belajar dari bapak ini tentang arti mengasihi Allah dan juga sesama. Peristiwa demi peristiwa saya alami bersama bapak ini. Tahun 2007 saat saya kembali ke Surabaya, istri saya ingin masuk Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP). Awalnya saya ragu-ragu, tetapi setelah mengetahui bahwa di SEP diajarkan untuk menjadi evangelizer (melakukan evangelisasi melalui tingkah laku dan perbuatan) dan juga saya teringat akan teladan bapak yang sangat mengasihi Allah dan sesama tersebut, maka saya beranikan diri untuk ikut SEP.

Jadi pelayanan saya kemarin di kota tersebut, adalah kenangan yang indah. Sekalipun ada sedikit kesedihan, karena bapak yang sangat menginspirasi saya tersebut sudah meninggal.

Sahabat, saya mengalami dikasihi oleh sesama yang juga memperkenalkan saya untuk mengasihi Allah. Marilah, apapun kondisi kita saat ini, tetaplah berusaha mengasihi Allah dan sesama, karena saat kita mengasihi sesama, sesungguhnya kita juga sedang memperkenalkan kasih Allah kepada sesama.

Selamat berhari minggu. Tuhan Yesus memberkati.   

Selamat jalan Bro. Renungan ini kupersembahkan untuk mengenangmu.

Tribute to Mr. Y.

BVJSW