Membangun Hidup Bersama Yang Bahagia

Related image

Renungan Jumat 13 Oktober 2017

Bacaan: Yl. 1:13-15;2:1-2; Mzm. 9:2-3,6,16,8-9; Luk. 11:15-26

MEMBANGUN HIDUP BERSAMA YANG BAHAGIA

“Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi” (Mzm 9:2-3)

Dalam kehidupan bersama entah dalam keluarga, tempat pekerjaan atau masyarakat umum; kecurigaan, tuduh-menuduh, usaha merendahkan yang lain karena iri hati masih sering terjadi. Iri hati karena keberhasilan orang lain pun marak. Dari iri hati tersebut muncul pikiran dan tindakan sebagaimana yang dituduhkan kepada Yesus bahwa Dia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan. Munculnya perpecahan itu karena masing-masing pihak saling melihat dan membesarkan kesalahan dan kekurangan masing-masing.

Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak saling menuduh atau menyalahkan satu sama lain dalam kehidupan bersama, jika kita mendambakan hidup bahagia, damai sejahtera secara lahir dan batin, fisik dan spiritual. Marilah kita saling melihat, menyadari dan mengakui segala kebaikan, keunggulan, kelebihan masing-masing dengan kata lain senantiasa berpikiran positif terhadap sesama kita.

Untuk membangun kebersamaan hidup yang baik dan sejahtera, maka marilah kita menghayati bahwa karya Tuhan dalam ciptaan-ciptaan-Nya adalah baik, indah, luhur dan mulia.

Bertepatan dengan bulan Rosario ini, mari kita tingkatkan berdoa Rosario. Dengan berdoa Rosario kita mengulang-ulang doa Bapa Kami dan Salam Maria, dan kiranya dengan mengulang-ulang kata-kata dari doa tersebut diharapkan meresap dalam hati, budi dan jiwa kita dan akhirnya menjadi nyata dalam ‘perilaku atau cara bertindak’ kita. Dengan sungguh-sungguh menghayati doa Bapa Kami dan Salam Maria, kita akan terbantu untuk mengembangkan dan memperdalam hidup persaudaraan/persahabatan sejati dengan siapa pun juga, tidak saling menuduh, mencurigai atau mencobai. Bunda Maria adalah Ibu kita, sebagaimana kebanyakan ibu pada umumnya adalah pendamai, penenang, penyegar, pelindung serta bagaikan ‘induk ayam yang rindu mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya’.

Marilah kita tunjukkan bahwa masing-masing dari kita adalah gambar atau citra Allah, artinya melalui cara hidup dan cara bertindak kita, orang lain dapat melihat Allah yang berkarya dan tergerak untuk semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah. Biarlah semua bangsa atau semua manusia di bumi ini terberkati, dan dengan demikian semuanya hidup bahagia, gembira, ceria dan damai sejahtera. Dan dalam hidup bersama hendaklah kita dapat menjadi teladan dalam usaha dan penghayatan membangun persaudaraan atau persahabatan yang sejati.

SWW