Kebahagiaan Sejati

Renungan Sabtu 14 Oktober 2017

Bacaan: Yl. 3:12-21; Mzm. 97:1-2,5-6,11-12; Luk. 11:27-28

KEBAHAGIAAN SEJATI

“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Lukas 11:28).

Semua orang tanpa terkecuali pasti mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Tetapi berbicara tentang kebahagiaan, sebagian besar orang akan menilai dan mengukurnya dari sisi materi atau apa yang terlihat secara kasat mata. Bagi sales, dapat orderan itu kebahagiaan; bagi orang sakit, kesehatan itu kebahagiaan; bagi politikus, jabatan dan kuasa itulah kebahagiaan; bagi selebritis, popularitas itulah kebahagiaan; dll. Semua orang punya cara pandang sendiri-sendiri tentang kebahagiaan; seperti halnya apa yang dikatakan seorang perempuan kepada Yesus dalam Injil hari ini.(Lukas 11:27).

Salah satu sikap yang membedakan orang percaya dengan orang dunia adalah hal kebahagiaan. Bahagia memiliki arti keadaan atau suasana hati yang damai dan sukacita. Umumnya rasa bahagia yang dimiliki orang-orang dunia sangat ditentukan oleh situasi-situasi yang terjadi atau bergantung pada sesuatu yang dimilikinya. Namun fakta membuktikan bahwa sukacita yang mereka rasakan tidak bertahan lama atau bersifat musiman saja. Itulah kebahagiaan semu yang diberikan oleh dunia. Mungkin kita berkata, “Bagaimana bisa berbahagia kalau masalah yang kita hadapi datang secara bertubi-tubi, tiada kunjung berhenti di sepanjang hari?” Bagi orang percaya kebahagiaan seharusnya menjadi bagian hidup yang senantiasa terpancar dalam kehidupan sehari-hari. (Mazmur 97: 11-12).

Sukacita pun tidak bergantung pada ada tidaknya masalah. Sukacita adalah masalah hati, dan itu adalah pilihan dan keputusan. Jangan pernah mengizinkan sebuah keadaan atau situasi menjadi pengendali sukacita yang ada di dalam diri kita. Yang bertanggung-jawab atas kebahagiaan kita itu bukan siapa-siapa, yang bertanggung-jawab kita mau bahagia atau tidak, itu adalah diri kita sendiri.

Sahabat, jika Anda merasa bahwa kegembiraan Anda mulai dirampas oleh himpitan beban yang Anda hadapi hari ini, jika itu membuat senyum dari wajah Anda terampas dan sudut bibir Anda mulai sulit melengkung ke atas, ambillah keputusan untuk menghentikan itu semua. Gantikan dengan janji-janji Tuhan dan kembalilah bersukacita. Memelihara perasaan negatif tidak akan membawa manfaat apa-apa selain menambah lebih banyak lagi masalah. Apakah Anda merasa gembira hari ini? Apakah Anda sudah tersenyum? Sudahkah Anda merasakan kebahagiaan karena kebaikan Tuhan hari ini? Mari pancarkan kebahagiaan itu kepada sekitar kita dengan sebuah senyuman yang berasal dari hati yang bersukacita. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita karena dasar kita bersuka cita adalah karena Tuhan. Seperti tertulis “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mazmur 37:4). Kegembiraan atau sukacita sejati yang berasal dari Tuhan mampu menurunkan berkat-berkat Tuhan untuk memenuhi keinginan hati kita.

Injil hari ini mengajar kita bagaimana caranya memperoleh kebahagiaan yang sejati. Tuhan Yesus dengan sangat jelas menyatakan bahwa kebahagiaan hidup seseorang tidak ditentukan oleh faktor materi dan segala hal yang ada di dunia ini karena semuanya itu hanya bersifat semu dan mudah berubah sehingga tidak mampu memberikan jaminan kepastian kebahagiaan yang sejati dalam hidup kita.

Sumber kebahagiaan hidup yang sejati adalah ketika seseorang “mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya (menaati dan melakukannya)” (Lukas 11:28). Di sanalah sejatinya sebuah kebahagiaan bisa kita dapatkan. Dari sanalah kita bisa memperoleh kebahagiaan yang tidak gampang goyah, tidak hilang meski masalah dan prahara tengah menerpa kita. Karena hanya Tuhan yang tidak pernah berubah sejak dulu, sekarang dan selama-lamanya.

Sahabat, ketaatan melakukan firman Tuhan dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari itulah sumber kebahagiaan sejati. Yakobus menulis: “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yakobus 1:25). Itulah letak kebahagiaan yang sesungguhnya, yang tidak akan pernah terpengaruh oleh situasi maupun kondisi apapun yang bisa terjadi.

Ingin memiliki hidup yang penuh kebahagiaan? Jadilah pelaku firman Tuhan!
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin. (FHM)