Hati Yang Murni dan Tulus Seperti Anak Kecil

Gambar terkait

Renungan Senin 2 Oktober 217

Bacaan : Kel. 23:20-23aMzm. 91:1-2,3-4,5-6,10-11Mat. 18:1-5,10

HATI YANG MURNI DAN TULUS SEPERTI ANAK KECIL

Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga? (Mat. 18:1).

Kecenderungan manusia adalah ingin menjadi pusat perhatian. Manusia ingin menjadi yang utama, yang terutama, yang istimewa, karena dengan segala atribut itu manusia  akan mendapatkan penghargaan, penghormatan, diistimewakan dan disanjung.

Kecenderungan seperti ini bukan saja terjadi dalam dunia pekerjaan, bisnis dan lain sebagainya, tetapi juga dalam dunia pelayanan.

Dalam dunia kerja, seseorang yang ambisius akan melakukan cara-cara yang tidak ksatria untuk menjatuhkan temannya supaya mendapatkan perhatian atau nilai baik dari atasannya, sehingga memudahkannya untuk mendapat kepercayaan dan jabatan.

Dalam dunia bisnis ataupun pemerintahan, seseorang yang berambisi memenangkan sebuah tender atau posisi sebagai pejabat misalnya, akan melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain, melanggar norma-norma moralitas demi mencapai tujuannya. Kita dapat menyaksikan dan membaca hal-hal semacam ini di media sosial. 

Dalam dunia pelayanan, terkadang seseorang juga lupa tujuan atau visi misi pelayanannya. Banyak alasan yang mendasari seorang pelayan bahkan hamba Tuhan tidak lagi melayani dengan kemurnian hati hanya untuk Tuhan. Mereka juga disilaukan oleh posisi/jabatan, uang, kepentingan pribadi yang lain. Semuanya itu adalah untuk menyatakan jati dirinya dan menjadi pusat perhatian.

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  (Mrk 9:35). Firman Tuhan ini dengan jelas menyatakan bahwa justru kemurnian hati seorang pelayan, kepasrahan akan penyelenggaraan Ilahi, yang menjadikan seseorang menduduki posisi terhormat di mata Tuhan. Maka ketika para murid bertanya kepada Yesus tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga, Tuhan Yesus menjawabnya dengan membawa seorang anak kecil di tengah-tengah mereka.

Bukan untuk menyatakan tentang kesederhanaan atau masalah kesucian seorang anak kecil, tetapi lebih kepada kepasrahan dan kebergantungan seorang anak kecil kepada orang tuanya. Seorang anak kecil menerima segala sesuatu sebagai anugerah. Anak kecil tidak memiliki hak hukum atau pun kedudukan sehingga dia layak menjadi pusat perhatian. Seorang anak kecil hanya percaya kepada orang tuanya.

Maka, hanya mereka yang mengakui bahwa mereka tidak punya hak, tidak juga bisa menuntut tentang keberadaan mereka di dalam Kerajaan Allah seperti sikap seorang anak kecil, yang dapat memasukinya. Kecuali oleh karena penyelenggaraan dan keterlibatan Allah yang khusus terhadap seorang “anak”. (Luk 9:46-48).

Mari kita berdoa supaya Tuhan selalu menganugerahkan kebajikan, kerendahan hati bagi kita masing-masing supaya kita selalu rendah hati dan untuk selalu belajar memilliki hati yang murni dan tulus seperti hati seorang anak kecil.

Tuhan memberkati.

ANS