Fit for the Kingdom of God

Hasil gambar untuk counting the cost of discipleship

Renungan Rabu 4 Oktober 217

Bacaan : Neh. 2:1-8Mzm. 137:1-2,3,4-5Luk. 9:57-62 

“FIT FOR THE KINGDOM OF GOD”

“Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku”. Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:61-62)

Renungan: 
Sungguh siapkah kita, mengikuti Yesus ke mana pun Ia membimbing kita? Melalui panggilan-Nya, Tuhan memberikan kita rahmat untuk dapat menanggapi  dan memberi kekuatan untuk mampu mengikuti seluruh jalan-Nya hingga akhir. Mengapa kiranya Yesus memberikan kita tantangan melalui suatu panggilan? Yesus dengan jujur dan terbuka menjelaskan harga yang harus dibayar oleh mereka yang mengambil keputusan untuk mengikuti Dia. Ketika seseorang yang tertarik untuk mengikut Yesus, mendekati-Nya dan berkata bahwa ia siap untuk ikut dengan-Nya,  Yesus mengatakan dengan tegas bahwa mengikut Dia membutuhkan pengorbanan – mengorbankan banyak kenyamanan duniawi. Yesus menyentuh hati orang ini dan memintanya agar ia melepaskan diri dari segala hal yang dapat menjadi penghalang. Kebebasan spiritual adalah satu langkah yang diperlukan untuk mengikut Tuhan. Kita akan bebas memberikan diri kita kepada Tuhan dan melibatkan diri dalam pelayanan untuk Tuhan. Meskipun ada sebagian orang yang tidak perlu mengorbankan kenyamanan tinggal di rumah, tidur di tempat yang nyaman – kita harus tetap siap untuk rela meninggalkan semua itu jika kenyamanan tersebut menjadi penghalang terjadinya rencana Allah dalam hidup kita. 

Jangan biarkan apa pun juga menghambat kita untuk mengikut Yesus
Seorang bakal murid yang lain mengatakan ia mau mengikut Yesus setelah selesai menguburkan ayahnya. Orang ini merasa ia harus pulang lebih dahulu dan menyelesaikan tugasnya merawat ayahnya hingga ajal nanti. Bakal murid yang lain lagi tidak berkewajiban untuk pulang dulu tetapi ia hanya sekadar ingin pamit. Jawaban Yesus mengejutkan ketiga bakal murid ini karena dengan terus terang Yesus mengatakan janganlah ada suatu apa pun yang menjadi penghalang untuk mengikut Tuhan. Begitu kasarkah Yesus kepada orang-orang yang ingin mengikut Dia? Sama sekali tidak.  Kita bebas memutuskan apakah mau mengambil jalan yang Yesus tawarkan. Sebelum kita memutuskan untuk menerima tawaran tersebut, Tuhan ingin kita menghitung harga yang harus dibayar dan mengambil keputusan dengan bebas.

Jangan sia-siakan jalan yang Allah sudah tentukan dan tawarkan – jalan itu akan membawa kita kepada sukacita yang membebaskan
Bagaikan seorang petani yang sedang membajak sawahnya, ia tidak boleh menoleh ke belakang karena jalur yang dibajaknya akan menjadi tidak lurus. Satu jalur yang bengkok menyebabkan jalur lain juga menjadi bengkok dan kacaulah keadaan sawah tersebut.  Demikian juga dengan kita, jika kita menoleh ke belakang menyesali apa yang sudah kita tinggalkan untuk mengikut Tuhan – maka kita akan merasa berat menapaki jalan yang sudah Tuhan tetapkan dan lambat laun namun pasti kita akan menjauh dari Allah. 

Maukah kita mengatakan “ya” terhadap panggilan Tuhan dalam hidup kita?
Sudah siapkah kita menapaki jalan yang Tuhan Yesus tawarkan? Rahmat-Nya akan mencukupkan kita dan kasih-Nya akan menguatkan. Tak ada yang lebih besar selain memberikan hidup kita seutuhnya kepada Tuhan, Pencipta alam semesta.  Yesus berjanji kepada mereka yang bersedia mengikut Dia dan meninggalkan kesengan duniawi demi Dia “akan menerima seratus kali lipat lebih banyak dan akan mendapatkan kehidupan kekal” (Mat 19:29). Tuhan Yesus menawarkan kepaa kita Kerajaan Allah yang penuh dengan damai dan sukacita kekal, hidup dalam kasih yang berkelimpahan. Masih adakah yang menghambat kita untuk melangkah maju mengikut Yesus?

Doa: “Ya Tuhan, ambillah kebebasanku, kupersembahkan kepada-Mu seluruh pikiran, akal budi dan kehendak hatiku. Semua keberadaanku dan semua milikku yang berasal dari-Mu. Aku menyerahkan semua kepada-Mu, pakailah seturut kehendak-Mu.  Hanya kasih dan rahmat-Mu yang kurindukan – yang akan membuatku cukup kaya dan tidak menginginkan hal yang lain lagi.” (Ignatius Loyola, 1491-1556)

MM