Berdamai Dengan Lawan

Hasil gambar untuk luke 12 54-59 images

Renungan Jumat 27 Oktober 2017

Bacaan: Rm. 7:18-25aMzm. 119:66,68,76,77,93.94Luk. 12:54-59

BERDAMAI DENGAN LAWAN

“Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara.”  (Luk 12:58)

Dalam kehidupan sehari-hari, orang dibiasakan bersaing sejak pendidikan usia dini. Sampai dewasa pun  tetap bersaing, baik dalam mendapatkan pekerjaan, usaha, jabatan maupun hal-hal yang lain. Masalah akan muncul ketika dalam persaingan orang saling menyakiti dengan kata-kata fitnahan yang menjatuhkan, memojokkan bahkan mematikan karakter lawannya.

Bacaan hari ini mengajarkan kepada kita untuk peka terhadap tanda-tanda zaman yang memengaruhi seluruh perilaku manusia. Dalam meraih suatu tujuan, seseorang akan mengalami banyak tantangan dan rintangan, baik dalam dirinya sendiri maupun di luar dirinya. Hal ini terjadi bukan hanya pada masalah duniawi saja tetapi juga masalah rohani. Seperti Paulus yang peka terhadap tanda-tanda yang ada di dalam dirinya. Dia mempunyai kehendak yang baik, namun yang dilakukannya tidak baik. Hal ini disadarinya karena dosa masih mengikatnya meskipun dia telah melakukan hukum Allah. Hanya  Tuhan yang mampu melepaskan dan mendamaikan dia dengan dirinya (Rm 7:25).

Ketika kita mau memutuskan suatu kebenaran, dunia dan setan tidak suka. Apalagi ketika kita mendekat kepada Allah. Setan memakai orang-orang yang ada di sekitar kita untuk menggagalkan rencana keselamatan Allah. Seperti yang pernah saya alami ketika saya mengikuti doa renungan setiap hari yang diadakan oleh kantor di mana saya bekerja. Atasan saya menegur saya, “Mbak, kok ikut renungan setiap hari seperti orang kudus saja.” Saya hanya menjawab dengan senyuman. Pertanyaan ini membuat  saya ragu, dalam hati saya berpikir dan bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apakah saya salah ikut renungan di kantor sebagai fasilitas yang diberikan kantor untuk karyawannya? Saya tidak mau kalah di dalam setan lho Tuhan, saya mau menang di dalam Engkau, tapi bagaimana saya menjawabnya.” Saat itu saya tidak mendengar jawaban Tuhan. Pertanyaan yang sama diberikan pada saya sampai tiga kali. Dan Tuhan memberikan jawaban yang luar biasa, pada pertanyaan yang ketiga. Secara otomatis Tuhan memberi hikmat untuk menggerakkan saya dengan mengatakan, “Justru saya belum kudus, maka saya ikut renungan. Kalau saya sudah kudus, saya tidak akan ikut renungan.” Ketika kalimat tersebut keluar dari bibir dan mulut saya, saya juga heran, kok bisa ya kalimat seperti itu meluncur begitu saja dari mulut. Saya baru menyadari dampak dari jawaban Tuhan tersebut ketika esok harinya atasan saya ikut renungan. Ternyata jawaban Tuhan ini secara tidak langsung menegur atasan saya juga. Puji Tuhan, saya boleh berdamai dengan diri saya sendiri dan berdamai dengan atasan saya serta tetap dapat mengikuti renungan setiap hari.  Selebihnya, saya boleh mengalami damai Tuhan yang luar biasa.

Doa: Tuhan, syukur dan terima kasih atas kebaikan-Mu, kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburku, rahmat-Mu selalu baru Kau curahkan bagiku. Ajari aku untuk  melakukan ketetapan-ketetapan-Mu karena aku milik-Mu. Amin.   

Tuhan Yesus memberkati.

ECMW