Abba, Bapa

 

Gambar terkait

Renungan Rabu 11 Oktober 2017 

Bacaan : Yun. 4:1-11Mzm. 86:3-4,5-6,9-10Luk. 11:1-4 

ABBA, BAPA

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. (Luk. 11:1-2)

Kita bersyukur, karena Firman Allah hari ini mengingatkan kita semua akan Doa Bapa Kami. Doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Doa yang sederhana. Tidak bertele-tele. Doa yang luar biasa dan sempurna.

Sebelum saya masuk dan bergabung di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) Surabaya, sebelum saya dapat berdoa spontan, hanya ada tiga doa yang seringkali saya panjatkan kepada Tuhan; Doa Bapa Kami, Salam Maria dan Novena Tiga Salam Maria. Namun saya beruntung karena sejak saya masih kanak-kanak, Gereja Katolik, orang tua saya dan para pendidik saya di sekolah Katolik telah memperkenalkan doa Bapa Kami dan Salam Maria kepada saya. Ketika di Sekolah Dasar, sebelum memulai pelajaran di kelas, para guru selalu mengajak semua muridnya untuk berdoa Bapa Kami dan Salam Maria. Tanpa saya sadari, melalui Doa Bapa Kami, saya diajar untuk menyapa Allah sebagai Bapa.

Setelah saya masuk ke SEP, saya diajar untuk menyadari dan meyakini bahwa Tuhan Yesus Kristus merupakan jawaban atas masalah manusia yaitu dosa. Dosa telah membuat jurang pemisah antara manusia dengan Allah. Dosa menyebabkan manusia mengalami kematian, penderitaan dan terputus relasinya dengan Allah. Oleh karena itu Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan, membebaskan dan memulihkan relasi-Nya dengan manusia. Agar manusia dapat dengan mudah berelasi dengan Allah, secara sederhana, Tuhan Yesus Kristus mengajar kita semua untuk memanggil Allah dengan sebutan yang paling akrab: Abba, Bapa.  

Dan keberuntungan saya bertambah besar karena selain saya telah diajar untuk menyapa, memanggil Allah dengan sebutan Bapa, saya juga boleh mengalami-Nya sebagai Bapa yang memelihara dan mengasihi saya sekeluarga. Ia senantiasa bersedia mendengarkan setiap keluh kesah anak-Nya dan memberi jalan keluar terhadap masalah saya tepat pada waktunya. Saya benar-benar mengalami-Nya sebagai Abba, Bapa yang tidak pernah meninggalkan diri saya sendirian.

Doa: Bapa di dalam Surga. Sungguh saya bersyukur dan bersukacita, karena Engkau telah mengajarkan kepada diri saya untuk memanggil-Mu Bapa sejak saya masih kanak-kanak. Engkau juga telah memberi keberuntungan kepada diri saya untuk mengalami-Mu sebagai Bapa yang penuh kasih, yang senantiasa memberi jalan keluar tepat pada waktunya terhadap masalah diri saya. Engkau benar-benar Bapa yang tidak pernah meninggalkan diri saya sendirian. Karena itu Bapa, doronglah terus menerus anak-Mu ini, agar dapat membagikan pengalaman ini kepada banyak orang, sehingga mereka pun dapat mengenal-Mu sebagai Bapa yang penuh kasih.

Tuhan memberkati.

Set