Tergerak Oleh Belas Kasihan

Image result for luke 7:13

Renungan Selasa 19 September 2017

Bacaan: 1Tim. 3:1-13; Mzm. 101:1-2ab,2cd-3ab,5,6; Luk. 7:11-17

TERGERAKLAH HATIKU OLEH BELAS KASIHAN

Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” (Luk 7:13)

Yesus selalu tergerak hati-Nya oleh belas kasihan ketika menolong orang dan ini menjadi suatu pelajaran penting bagi kita hari ini, yaitu harus memiliki hati yang berbelas kasihan kepada orang lain.

Seberapa jauh kita menghiraukan kemalangan orang? Apakah kita peka terhadap jeritan penderitaan orang lain? Ada banyak orang yang sangat memerlukan bantuan, bukan hanya soal materi, tidak selalu berhubungan dengan masalah ekonomi, tetapi juga yang disebut Bunda Teresa sebagai “kemiskinan sejati” (the real poverty, the greatest poverty), yaitu orang-orang yang tidak dipedulikan, tidak dicintai, bahkan tidak diinginkan.

Bercermin dari bacaan Injil hari ini, Yesus tidak menyepelekan penderitaan siapa pun. Yesus melakukan  mukjizat terhadap setiap orang dari latar belakang yang berbeda, apakah orang itu orang Yahudi atau tidak, teman atau tidak, kenal atau tidak, dan sebagainya. Yesus bergerak berdasarkan kasih dan kepedulian. Yesus melakukannya karena hati-Nya tergerak oleh belas kasihan.

Melalui firman Tuhan kita sering diberi pemahaman agar sadar diri akan keterbatasan kita sebagai manusia dan kita butuh orang-orang di sekitar kita. Tetapi firman Tuhan sering tidak menggores hati dan membawa kita kepada suatu perubahan, untuk lebih peka dan peduli terhadap sekeliling kita.

Dalam Injil hari ini, kita dapat menyaksikan tentang seorang janda di kota Nain yang menghadapi kematian anaknya. Janda tersebut terus menangisi kepergian anak laki-lakinya. Tangisan janda tersebut mau menyatakan ketidaksanggupan atas kehilangan anak satu-satunya yang ia miliki. Janda tersebut sadar telah kehilangan anak yang dikasihi untuk selama-lamanya, tetapi apakah mungkin ada pertolongan yang datang dan melampaui apa yang ia pikirkan? Dalam Lukas 7:13, ketika Tuhan Yesus melihat kesedihan dan air mata janda tersebut, maka disebutkan bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Lalu Tuhan Yesus menghampiri usungan itu dan menyentuh keranda jenazah sambil berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk 7:14). Dengan perkataan Tuhan Yesus tersebut, anak muda yang telah mati itu menjadi hidup kembali.

Mukjizat yang terjadi di kota Nain ini terjadi dengan dilandasi oleh belas kasihan dan kepedulian Tuhan Yesus kepada janda itu. Kita harus memahami bahwa karya-karya mukjizat Tuhan Yesus pada intinya merupakan wujud dari rasa kepedulian dan belas kasihan-Nya kepada orang yang sedang menderita.

Pada prinsipnya tindakan yang dilakukan Yesus merupakan sympathy for the suffering of others, often including a desire to help (rasa simpati terhadap penderitaan sesamanya yang dinyatakan dengan keinginan untuk menolong). Itu sebabnya setiap kali disebutkan tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, maka ada  suatu tindakan nyata dari Tuhan Yesus sebagai respon.

Dalam Lukas 7:16 orang banyak yang melihat karya mukjizat Tuhan Yesus yang dapat membangkitkan pemuda Nain tersebut memberikan suatu respon. Mereka segera memuliakan Allah sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah melawat umat-Nya.”

Hal ini membawa dampak penting dalam kehidupan iman kita, yaitu setiap orang percaya yang telah mengenal kasih Allah seharusnya ditandai oleh rasa kasih dan sikap kepedulian, sehingga setiap orang percaya bersedia ambil bagian dalam karya keselamatan Allah untuk menolong sesamanya.

Yang menjadi tanda tanya besar bagi kita semua yang mengakui sebagai anak Allah, sebagai hamba Tuhan adalah apakah kita ini mempunyai rasa belas kasih dan peduli terhadap sesama kita, terhadap keluarga kita, orang tua, bahkan saudara kandung kita yang sedang mengalami kesusahan? Apakah kita hanya menghibur dan berkata Tuhan mencintaimu, maka Tuhan punya rencana yang indah buatmu, tetapi tidak ada tindakan nyata dari kita yang didorong oleh rasa belas kasihan untuk membantunya secara nyata? Atau bagaimana sikap kita terhadap orang di sekeliling kita, orang yang tidak dipedulikan dan tidak diinginkan oleh sekelilingnya?

Yang harus kita garis bawahi, apakah karya pelayanan kita dilandasi oleh kasih dan kepedulian seperti yang Tuhan Yesus ajarkan pada kita?

Sering berbagai pelayanan atau kepedulian kita hanya didasari oleh rasa simpati belaka kepada sesama yang menderita. Bentuk rasa simpati yang demikian merupakan sikap yang humanistis. Dalam hal ini kita hanya berbelas kasihan saja, tetapi kita tidak pernah terlibat secara nyata untuk menolong mereka yang menderita dan berduka dengan seluruh hati kita. Padahal bentuk kasih yang humanistis juga mampu dilakukan oleh umat yang tidak mengenal Allah.

Dalam bahasa kerennya di zaman sekarang ini, apa yang kita lakukan itu hanya untuk pencitraan diri. Kita melakukan berbagai pelayanan agar terlihat hebat, agar dikenal lebih banyak orang dengan perbuatan yang kita lakukan. Atau sering juga apa yang kita lakukan dengan tangan kanan kita, hendaknya diketahui oleh tangan kiri kita, dengan kata lain apa yang kita perbuat harus diketahui banyak orang agar kita mendapat pujian oleh karena perbuatan baik yang telah kita lakukan.

Mari melalui renungan hari ini, kita berdiam diri sejenak, merenungkan dan merefleksi diri kita, mampu bersikap jujur dan rendah hati di hadapan Tuhan, apakah yang telah aku lakukan sampai saat ini benar-benar untuk menyenangkan hati Tuhan atau hanya untuk kesombongan diri dan popularitas diri saja.

Kerinduan untuk membantu adalah salah satu perwujudan nyata dari adanya kasih Kristus dalam hidup kita. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2). Kerinduan untuk membantu sesama itu hendaklah dinyatakan secara tulus, bukan karena maksud-maksud tersembunyi,  punya agenda tersembunyi di belakangnya, atau ingin mendapatkan pujian dari orang dan lain-lain, seperti yang ditulis dalam Roma: “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” (Roma 12:9). Pesan kasih ini begitu penting. Yesus mengajarkan: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Kita diminta untuk bisa mencapai sebuah tingkatan untuk mengasihi orang lain bukan hanya seperti kita mengasihi diri kita sendiri, namun terlebih lagi seperti bagaimana Yesus sendiri telah mengasihi kita. Dan salah satu bentuk kasih itu akan terlihat dari kerinduan kita untuk membantu sesama. Hati yang penuh kasih akan gelisah ketika melihat ada orang yang membutuhkan bantuan, dan akan penuh dengan sukacita ketika bisa berbuat sesuatu untuk menolong mereka. Bukan atas jumlah nominal atau persentase waktu yang kita curahkan untuk membantu, tetapi dari kesungguhan dan ketulusan kita atas kasih Yesus yang hidup di dalam diri kita.

Doa: Terima kasih Tuhan untuk ajaran kasih yang Tuhan Yesus berikan pada kami hari ini. Bantu kami Roh Kudus, ajar dan gerakkanlah hati kami agar kami mampu meneladankan kasih Yesus tanpa mengharapkan pamrih atau pujian. Tuhan Yesus, ubah hati kami, lembutkan hati kami, bentuk hati kami agar kami mempunyai hati yang selalu tergerak oleh belas kasihan dan kami peka terhadap siapa pun yang membutuhkan pertolongan kami. Amin.

Berkat dan kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kita semua. (VRE)