Kasih Allah Berbuah Pelayanan

Renungan Rabu 6 September 2017

Bacaan: Kol. 1:1-8; Mzm. 52:10,11; Luk. 4:38-44

KASIH ALLAH BERBUAH PELAYANAN

Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” (Luk 4:43)

Kedatangan Yesus ke dunia ini untuk memulihkan keadaan manusia. Ibu mertua Simon Petrus misalnya, disembuhkan dari demam yang dideritanya, sehingga dapat bekerja dan melayani. Melalui perikop Injil pada hari ini Yesus mengajar tentang beberapa hal kepada kita:

Pertama: Pengalaman akan kasih Allah, menimbulkan rasa syukur dan sikap iman, rasa syukur itu diwujudkan dalam pelayanan. Ibu mertua Simon Petrus adalah contoh yang baik bagi kita. Setelah kita mengalami kasih dan pertolongan Tuhan, maka kita pun menjadi pelayan bagi Tuhan dan sesama. Dalam bacaan pertama Paulus pun bersyukur oleh karya Allah dalam jemaat di Kolose yang telah menerima pewartaan tentang Yesus dan buahnya adalah hidup seperti teladan Yesus dengan saling mengasihi (Kol 1:3-4). Juga dalam mazmur, pemazmur menyatakan: “Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak, karena nama-Mu baik, aku hendak memashyurkannya di hadapan orang-orang yang Kau kasihi.” (Mzm 52:11). Pemazmur menyadari Allah selalu bertindak untuk menolong dia sehingga ia selalu ingin bersyukur dan menjadi saksi kasih-Nya.

Kedua: Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak larut dan terperangkap oleh pujian sesudah kita bekerja baik. Ia mengajarkan agar tidak membuat orang bergantung secara tidak sehat, Yesus mengajak kita untuk melihat rencana-Nya dalam hidup kita, yaitu kita diutus yaitu memberi diri, berbagi dengan orang lain di mana saja dan kapan saja. “…orang banyak mencari Dia dan ketika mereka menemukan-Nya, mereka berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.” (Luk 4:42b).

Ketiga: Yesus memberi teladan agar kita setia kepada Allah. Tetapi Yesus berkata: “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah, sebab untuk itulah Aku datang.” Kehendak Tuhan adalah agar dunia seisinya selamat, bukan hanya sebagian kecil saja.

Keempat: Yesus memberi teladan mengenai pentingnya keseimbangan antara karya dan doa. Keduanya dijalani secara seimbang dalam hidup-Nya. Ia berkarya dengan penuh semangat sepanjang hari dengan mengajar dan menyembuhkan banyak orang, namun Dia juga mencari tempat yang sunyi untuk berdoa. Ia menjaga hubungan-Nya dengan Bapa. Kedua hal ini yaitu doa dan karya mendapatkan tempat istimewa dalam dalam hidup Yesus.

Refleksi:
1. Bersediakah aku menjadi pelayan atau aku selalu minta untuk dilayani?
2. Adakah kenyamanan tertentu dalam hidupku yang dengan rela kulepaskan demi mewujudkan imanku?
3. Apakah hidupku sudah seimbang antara doa dan kerja?

Doa: Tuhan Yesus sembuhkanlah aku dari segala dosa dan kelemahanku. Bantulah agar aku mau dan mampu melayani sesamaku. Amin. (MLEN)