Dipercaya Tuhan

Image result for baby's hand holding cross

Renungan Senin 11 September 2017

Bacaan: Kol. 1:24-2:3; Mzm. 62:6-7,9; Luk. 6:6-11

DIPERCAYA TUHAN

Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu.. (Kol 1:25)

Menjadi orang yang dipercaya adalah suatu penghargaan bagi setiap orang, suatu kepercayaan, prestasi tidak bisa dianggap mudah. Tapi harus diraih dan dipertahankan sebagai sesuatu yang berharga dan membanggakan.

Ketika kita dipercaya oleh pimpinan di tempat kita bekerja, diangkat menjadi manager atau kepala bagian adalah suatu prestasi, kepercayaan yang tidak setiap orang memperoleh kesempatan yang sama. Setiap orang yang mengemban kepercayaan itu akan sungguh-sungguh mengerjakannya sampai tuntas tanpa lalai dan melakukan kecurangan. Karena orang yang dipercaya sesungguhnya dia memperoleh suatu penghormatan yang besar. Tanggung-jawab memang menjadi lebih berat, tapi status sosial kita menjadi lebih tinggi. Taraf kehidupan kita akan menjadi lebih baik.

Apalagi yang mempercayakan tugas dan tanggung jawab adalah Tuhan. Hal ini merupakan suatu anugerah yang tak ternilai harganya. Menjadi orang kepercayaan bukanlah hal yang mudah dan sederhana. 

Rasul Paulus merespons kepercayaan Tuhan dengan segenap hati dan penuh sukacita: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.  Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.”  (Kolose 1:24, 28, 29). 

Ia sadar bahwa memperoleh kepercayaan dari Tuhan bukan berarti perjalanan hidup ini akan menjadi mudah, mulus dan tanpa rintangan. Adakalanya hidup ini akan menjadi mudah, mulus dan tanpa rintangan.  Adakalanya kita harus diperhadapkan pada ujian dan tantangan yang berat. Tetapi Rasul Paulus tetap kuat dan bersukacita. Mengapa? Karena jika Tuhan mempercayai kita, kuasa-Nya akan senantiasa menyertai kita, dan melalui kita Ia akan mengerjakan perkara-perkara yang besar, heran, ajaib dan penuh mukjizat. Seperti apa yang disampaikan Rasul Paulus: “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”  (2 Kor 12:9).

Rasa syukur saya alami dalam tugas pewartaan, pengajar, katekis dan asisten imam yang dipercayakan Tuhan. Dengan sukacita, karena saya diberi kesehatan, keluarga yang harmonis, istri yang baik dan setia, anak-anak yang pandai dan berbakti kepada Tuhan dan orang tua, pekerjaan dan penghasilan lebih dari cukup.

Ingat! Tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk dipercaya oleh Tuhan, karena itu jika saat ini kita dipercaya Tuhan, jangan pernah sia-siakan hal itu. Mari kita kerjakan kepercayaan itu dengan setia, sepenuh hati dan segenap keberadaan hidup kita, karena beroleh kepercayaan dari Tuhan adalah modal untuk mengalami campur tangan-Nya. Tuhan memberkati kita semua. Amin. (SWK)