Dikasihi dan Ditinggikan

Hasil gambar untuk to proclaim and to heal

Renungan Rabu 27 September 2017, Peringatan Wajib St. Vinsensius a Paulo

Bacaan: Ezr. 9:5-9; MT Tob. 13:2,3-4a,4bcd,5,8; Luk. 9:1-6

DIKASIHI DAN DITINGGIKAN

Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. (Luk 9:2)

Kasih Tuhan kepada manusia seringkali sulit dipahami. Sejak dunia dijadikan sampai hari ini, dosa manusia tidaklah berkurang, manusia bahkan terkesan semakin jahat. Tetapi coba kita renungkan segala upaya yang dilakukan Allah Bapa kita untuk menyelamatkan umat manusia.

Bacaan hari ini, baik bacaan pertama maupun bacaan Injil menggambarkan Allah yang masih peduli akan martabat manusia.  

Dalam bacaan pertama kita bertemu dengan umat Perjanjian Lama yang direndahkan sampai menjadi budak. Namun masih disebutkan betapa Allah tidak meninggalkan mereka, Dia membuat mata umat-Nya bercahaya dan memberi kelegaan dalam masa yang sulit (Ezra 9 : 8-9).

Dalam bacaan Injil Lukas 9:2, Yesus mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. Pola Allah tetaplah konsisten yaitu menyelamatkan yang tertindas, tersesat dan terhilang, dan menganugerahkan pemulihan martabat.

Hari ini, Gereja merayakan St. Vinsensius a Paulo, hamba-Nya, yang telah menjalankan dengan sepenuh tenaga perutusan Yesus kepada para murid-Nya. St. Vinsensius juga menghayati panggilan-Nya sebagai pembawa Kabar Baik dengan penerapan utuh menolong orang miskin dan papa menemukan tangan Tuhan yang terulur penuh kasih untuk mengembalikan martabat orang-orang sengsara pada zamannya.

5 keutamaannya yang dikenal sampai kini adalah: kesederhanaan, kerendahan hati, kelemah-lembutan, matiraga dan keselamatan jiwa-jiwa.

Keutamaan yang terakhir inilah, yaitu: keselamatan jiwa-jiwa, yang menyemangati Vinsensius untuk melayani sehabis-habisnya para miskin dan papa, sehingga mereka merasa dikasihi dan dihiraukan martabatnya sebagai manusia.

Ke-4 keutamaannya yang lain akan membantu kita memerangi kelemahan kita, yang selalu menarik kita ke dalam dosa.

Kesederhanaan (hati), yang polos tanpa motivasi ‘njelimet’ dalam laku kita, akan memberikan rasa lega bagi orang lain dan membuat suasana terasa nyaman. Pelayanan tanpa target dilihat atau dikagumi orang, akan mempermudah pelayanan itu sendiri.

Kerendahan hati dan kelemah-lembutan akan membuat seseorang hanya melakukan sesuatu demi Allah yang Maha Kasih, sebagai kesadaran bahwa kita hanyalah alat Tuhan bagi sesama, tanpa motivasi pribadi; menjauhkan seseorang dari ambisi untuk dihargai dan dipuji yang akhirnya hanya akan menimbulkan ketidak-puasan baik bagi yang dilayani maupun yang melayani.

Matiraga dimaknai oleh Vinsensius sebagai jalan melayani Tuhan yang terkadang tidak mudah. Kesulitan dan tantangan akan selalu kita temui dalam menjalankan perutusan kita.

Bagi Vinsensius, matiraga bukanlah sekedar laku tapa atau puasa untuk mendapatkan sesuatu dari Allah. Menurut Vinsensius, rahmat Allah diberikan secara gratis bagi umat-Nya tanpa perlu ada ‘upeti’ dari kita.

Marilah, saudara-saudaraku, kita tetap setia mengerjakan perutusan kita, untuk membawa banyak jiwa ke dalam martabat aslinya seperti saat ia diciptakan dengan semangat Vinsensius, salah satu tokoh besar dalam Gereja Katolik, yang semangatnya sampai saat ini masih dipakai oleh banyak kelompok dalam misinya bagi sesama.

Doa: Ya, Bapa, biarlah Roh Kudus-Mu menerangi kami akan kami mengerti bahwa pelayanan kami harus dilakukan dengan segala kesederhanaan dan kepolosan hati, agar membawa berkat bagi sesama. Amin. (HCLK)