Buahmu Menentukan Siapa Kamu

Image result for Luke 6:43

Renungan Sabtu 16 September 2017

Bacaan: 1Tim. 1:15-17; Mzm. 113:1-2,3-4,5a,6-7; Luk. 6:43-49

BUAHMU MENENTUKAN SIAPA KAMU

Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. (Luk 6:43-44)

Shalom saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus. Pada hari Sabtu ini, bacaan Injil berbicara cukup dalam bagi setiap kita. Bacaan Injil pada hari ini di mana Yesus menegaskan tentang buah seperti apa yang akan kita hasilkan itu bergantung dari kita sendiri. Di awal bacaan, Yesus dengan tegas menjelaskan mengenai buah itu sendiri, “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur”. Pada kata-kata ini membuat kita perlu merenungkan kembali apa yang sudah kita perbuat selama ini untuk menghasilkan buah bukannya duri. Kita semua yang dipanggil sebagai pembawa kabar gembira akan keselamatan, apakah sudah kita memancarkan kasih kita kepada sesama? Atau justru kehadiran atau tindakan kita itu menjadi penyebab orang lain membenci kita dan Tuhan?

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus, bacaan hari ini mau menegaskan bahwa ketika kita mau menghasilkan buah yang baik maka kita perlu membuat pohon tersebut siap berbuah. Bagaimana caranya membuat kita siap berbuah? Kita perlu memberikan nutrisi pada Roh kita dengan cara memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, berdoa, membaca kitab suci, berkomunitas, pelayanan dan menempatkan Tuhan sebagai pusat hidup kita. Menyambung ayat selanjutnya, Yesus mengajarkan bahwa dari hati yang baik akan timbul perkataan yang baik dan begitu sebaliknya. Dengan hal itu, Yesus mau menegaskan untuk ke sekian kalinya bahwa sikap hati serta kekudusan hidup itu adalah kunci kita untuk dapat menjadi pribadi yang taat serta untuk berbuah.

Saudara-saudara yang terkasih, marilah kita mengejar keselamatan dengan cara menjaga kekudusan hidup agar kita bisa berbuah dan niscaya kita memiliki dasar iman yang kokoh dan tidak mudah terbawa arus ketika badai hidup datang. (LT)