Beriman Sampai Akhir

Hasil gambar untuk martir korea

Renungan Rabu 20 September 2017, Peringatan Wajib St Andreas Kim Taegon, Paulus Chong Hasang

Bacaan: 1Tim. 3:14-16; Mzm. 111:1-2,3-4,5-6; Luk. 7:31-35

Hagiografi singkat para martir Korea,  bisa dibaca di tautan berikut:  [https://id.wikipedia.org/wiki/Martir_Korea]

BERIMAN SAMPAI AKHIR

Pada hari ini bunda Gereja mengajak kita memperingati kemartiran yang dipersembahkan oleh para martir Korea St. Andreas Kim Taegon, St. Paulus Chong Hasang, dkk. Setiap kali merayakan kemartiran para saksi iman, Gereja mengajak kita merenungkan kembali iman kepada Kristus yang telah dianugerahkan Allah kepada kita, dan bagaimana iman ini telah dibangun di atas kesaksian darah para martir.

Saya teringat dahulu saya sering mendengar khotbah-khotbah seorang imam, ketika beliau berbicara tentang iman, beliau akan menekankan: “Bagi kita yang sudah dibaptis, percaya kepada Kristus, kita akan hidup; tidak percaya kepada Kristus, kita akan mati. Iman bukan soal mana suka, tetapi iman kepada Kristus ini soal hidup dan mati kita.” Beberapa tahun lalu sering mendengar khotbah seperti ini, dan ketika diingatkan kembali khotbah-khotbah ini, saya jadi bertanya, adakah teks Kitab Suci yang menyatakan tentang ini. Sampai akhirnya dalam suatu misa harian, ketika pembacaan Injil, saya merasa menemukan jawabannya. 

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di Surga.”  (Mat 10:32-33).

Sabda Tuhan dalam pembacaan Injil, kemudian didukung juga oleh homili imam yang mempersembahkan misa harian itu.

Iman kepada Tuhan Yesus Kristus ini sungguh-sungguh anugerah Tuhan dan diperlukan untuk keselamatan kita, tentunya iman yang disertai harapan dan cintakasih. Mengenai KEBAJIKAN IMAN, bisa dibaca dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1814-1815.

Ketika kita dibaptis, ketika kita percaya kepada Kristus dan mengimani Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi. Iman ini bukanlah iman yang statis, tetapi iman yang dinamis, bisa bertumbuh dan berkembang, tetapi juga sayangnya bisa juga terkikis, bahkan orang bisa kehilangan iman kepada Kristus, alias murtad. Ketika orang jatuh dalam kemurtadan, yang termasuk salah satu dosa yang paling berat, sebenarnya orang tidak akan langsung jatuh begitu saja, kejatuhan ini juga suatu proses, sebagai gambaran ibarat “sebatang kayu yang dimakan rayap”, dari luar kelihatan kayu utuh, tetapi rupanya tanpa disadari, kayu itu pelan-pelan dimakan rayap, sehingga akhirnya keropos, sehingga ketika mendapat goncangan sedikit, langsung menjadi roboh. 

Sungguh-sungguh kita membutuhkan rahmat dan kerahiman Allah, supaya boleh tetap mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamat kita sampai akhir hidup kita. Bukan hanya mengimani saja, tetapi juga mempertahankan, hidup darinya, mengakuinya dan memberikan kesaksian, bahkan di tengah kesulitan dan penganiayaan.

Inilah teladan yang diberikan para martir sepanjang sejarah Gereja, termasuk para martir Korea yang diperingati Gereja pada hari ini. Berikut kita lihat pengertian kemartiran Kristiani, sebagaimana yang diajakan oleh Gereja dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2473. 

KGK 2473

Martirium adalah kesaksian teragung yang dapat diberikan orang untuk kebenaran iman; itulah kesaksian sampai mati. Seorang martir memberikan kesaksian untuk Kristus, yang telah wafat dan bangkit dan yang dengan-Nya ia terikat melalui kasih. Ia memberi kesaksian untuk kebenaran iman dan ajaran iman Kristen. Ia menerima kematian dalam kekuatan Kristen. “Biarlah aku menjadi makanan binatang-binatang buas, karena dengan demikian mungkinlah bagi saya untuk sampai kepada Allah” (Ignasius dari Antiokia, Rom 4, 1).

Jika belajar dari sejarah Gereja, para martir Kristiani ini hanyalah orang-orang biasa, tetapi dalam kelemahan dan kerapuhan mereka, Roh Kudus telah berkarya untuk memberikan keberanian, kekuatan, bahkan Roh Kudus mengerjakan mukjizat-mukjizat menyertai kemartiran mereka, sebagaimana yang diungkapkan dalam prefasi misa peringatan para martir : 

“Sekalipun lemah, Engkau telah memperkuat mereka, sekalipun rapuh, Engkau telah menjiwai mereka dengan Roh Kudus.”

Dari sejarah Gereja, kita jumpai para martir dari kanak-kanak seperti St.Tarsisius dan beberapa martir Jepang, sampai yang paling tua St. Polykarpus, usia 90 tahunan lebih; kita jumpai juga para ABG, seperti : St. Cicilia, St. Agnes, St. Agatha; orang-orang terpandang dan punya kedudukan penting, seperti : St. Sebastianus, St. Thomas More, tuan tanah yang menjadi martir Tiongkok; imam, biarawan/wati, awam; atau orang-orang sederhana, bahkan di antaranya baru katekumen (calon baptis), yaitu para martir Uganda.

Tetapi ada satu ciri khas, yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri para martir, -yang mungkin ‘tidak masuk akal’ dalam pandangan dunia ini-, mereka walaupun dianiaya begitu hebat, tetapi mereka tidak mati dalam kepahitan dan dendam, justru mereka mati dalam cintakasih dan pengampunan. Mati seperti Guru mereka, di mana saat Tuhan Yesus disalib, justru Dia berdoa untuk orang yang menyalibkan-Nya : “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). 

Akhirnya semoga oleh rahmat Allah, dan pertolongan Roh Kudus, serta doa-doa St. Andreas Kim Taegon dan St. Paulus Cong Hasang, serta para martir Korea lainnya yang diperingati oleh Gereja hari ini; iman kita kepada Kristus, semakin diteguhkan dan kita semua boleh semakin berakar di dalam Kristus dan dibangun di atas Kristus. AMIN.

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan  kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan  kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kol 2:6-7).