Belajar dari Sang Guru

Renungan Senin 4 September 2017

Bacaan: 1Tes. 4:13-17a; Mzm. 96:1,3,4-5,11-12,13; Luk. 4:16-30

BELAJAR DARI SANG GURU

Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (Luk 4:22)

Saat Yesus kembali ke kota Nazareth tempat di mana Yesus dibesarkan, Yesus berada di bait Allah dan membuka kitab Nabi Yesaya. Dia katakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, sebab aku diurapi-Nya, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan bagi orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, serta membebaskan orang-orang tertindas.” Ternyata orang-orang yang mengenal Yesus, anak Yusuf, mereka menolak Yesus. Tetapi Yesus tetap mengajar di tempat-tempat lain, bahkan tetap mengajar sampai mati di atas kayu salib untuk menyampaikan kabar baik bagi orang tawanan, orang miskin, orang buta dan membebaskan orang yang tertindas.

Kita perlu belajar dari Sang Guru yaitu Yesus Kristus, walaupun banyak orang menolak kita, mungkin kita ditolak oleh pasangan hidup kita, keluarga kita, anak kita, sahabat kita, tetapi kita tidak berhenti dan terus pergi mewartakan kabar baik. Kita tetap mendoakan mereka dan selalu berusaha tetap jadi penginjil bagi orang lain, supaya orang-orang di sekitar kita juga mengalami pembebasan dan boleh menerima Injl.

Saya mengalami pertobatan karena suami dan teman-teman di komunitas doa saya. Sungguh saya merasa sangat bahagia boleh merasakan sukacita menerima Injil, maka kehidupan saya mulai berubah 180 derajat.  Saya yang dulunya hidup bekerja terus, hidup hanya bagi diri sendiri dan keluarga, hidup hanya bagi hobi saya, tidak punya jam doa, tidak membaca kitab suci, tidak pernah datang ke persekutuan doa lingkungan, apalagi untuk melayani dan bersaksi. Saya mulai belajar mengatur waktu yang saya miliki, mulai mengatur waktu jam doa tetap, mulai setia membaca kitab suci dan merenungkannya, mulai punya komunitas doa dan ambil bagian dalam pelayanan. Saat saya mulai menginjil kepada kakak dan keluarga, saya pun mengalami apa yang dialami Yesus. Saya juga ditolak, bahkan dimarahi. Tetapi saya tetap bertahan dan setia, saya berdoa bagi kakak-kakak saya. Hal itu memerlukan waktu empat tahun. Puji Tuhan, akhirnya kakak saya juga mengalami Injil, ada sukacita dalam keluarganya dan dia juga mulai melayani di lingkungannya dan di parokinya. Sungguh saya berterima kasih kepada Tuhan Yesus.

Mari saudaraku yang terkasih, bila kita sering mengalami hambatan dalam memberitakan kabar baik, tetaplah bersemangat, tetaplah bersukacita di dalam-Nya.

Doa: Ya Bapa, bantu setiap kami untuk tetap setia kepada panggilan-Mu yaitu mewartakan kabar baik bagi setiap orang. Bantu kami untuk bisa mengatur waktu dengan baik, untuk kesehatan, keluarga, pekerjaan dan pelayanan kami. Tuhan Yesus memberkati kita semua. (KSM)