Sungguh dan Tulus

Renungan Senin 28 Agustus 2017

Bacaan: 1Tes. 1:2b-5,8b-10Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9bMat. 23:13-22

MENJALANKAN PERINTAH TUHAN DENGAN SUNGGUH DAN TULUS

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat. (Mat 23:14)

Dalam injil hari ini (Mat 23:13-22), Yesus sekali lagi mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi atas kelakuan mereka yang tidak baik dan tidak benar di mata Tuhan. Sebagai seorang yang lebih paham mengenai Hukum Taurat, seharusnya mereka juga memiliki sikap yang lebih benar, dalam arti hidupnya seharusnya lebih sesuai dengan apa yang sudah mereka pelajari dan mengerti, dibandingkan rakyat biasa yang tidak terlalu tahu mengenai Hukum Taurat itu.

Banyak dari kita juga sudah tahu dan paham mengenai isi Alkitab. Beberapa dari kita bahkan diberi talenta lebih untuk bisa menjadi pewarta, untuk bisa menjelaskan isi Alkitab, menjelaskan kepada orang lain apa yang Tuhan mau kita pelajari dari suatu ayat dalam Alkitab. Namun tidak cukup sampai di situ. Kita dituntut untuk menjalankan semua kebenaran Allah yang sudah kita pelajari dan mengerti itu. Terlebih mereka yang notabene adalah pewarta atau pun pemimpin umat.

Satu hal yang Yesus minta adalah ketulusan dalam menjalankan semua itu. Dia tidak mau kita menjadi orang munafik, yang tampak di luarnya punya hidup yang saleh, yang kalau berdoa suka berpanjang kata, namun semuanya itu hanya sekedar tampak luar, bukan berasal dari dalam hati yang tulus. Bahkan yang lebih parah, bukan hanya tidak melakukan perintah Tuhan dengan tulus, namun ternyata semua yang tampak baik itu hanyalah suatu kedok untuk menutupi kelakuan yang buruk yang jelas-jelas melanggar Firman Tuhan.

Menjadi pemimpin umat adalah suatu berkah yang harus dijaga, dengan kelakuan yang baik dan hidup yang kudus. Punya talenta untuk mengerti isi Firman Tuhan juga harus digunakan dengan benar, terutama untuk diri sendiri terlebih dulu, baru kemudian diwartakan kepada orang lain. Tidak hanya dengan kata-kata, namun terlebih dengan tingkah laku kita sehari-hari lebih dulu. Mengapa? Karena tingkah laku adalah contoh terbaik dan bukti nyata yang pastinya akan dilihat orang tentang bagaimana melakukan Firman Tuhan itu dengan baik dan benar, lebih daripada kata-kata yang kita ucapkan.

Kalau kita melaksanakan itu dengan hidup yang tidak kudus, yang sering melanggar Firman Tuhan, Dia yang Maha Adil tak akan segan-segan menghukum kita. Bukan karena kemarahan sebab kita tak melaksanakan perintah-Nya, namun karena Dia sungguh mengasihi kita dan mau kita segera bertobat serta membenahi diri supaya punya hidup yang lebih benar di hadapan-Nya.

Doa: Tuhan, beri aku kekuatan dan hikmat untuk menjalankan perintah-Mu dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan, bukan cuma sebagai kamuflase supaya orang melihat hidupku saleh padahal di dalamnya penuh dengan kebobrokan dan kemunafikan. Amin. (LCEST)