Pembawa Harapan

Renungan Selasa 22 Agustus 2017

Bacaan: Hak. 6:11-24a; Mzm. 85:9,11-12,13-14; Mat. 19:23-30

Shalom sahabat-sahabat SEP dan KEP.

Bacaan Liturgi gereja hari ini mengungkapkan, bahwa di dalam Tuhan selalu ada pengharapan.

Sebagai anak Allah, sudahkah aku menyadari, mensyukuri dan menghayati hal ini dalam hidup sehari-hariku? Sudahkah aku menjadi pembawa harapan yang dengan penuh sukacita membagikan hal ini kepada orang-orang yang aku jumpai?

Di sekitar kita ada banyak orang-orang yang hidupnya penuh dengan kekuatiran dan ketakutan. Bahkan ada yang hidup di dalam keputus-asaan. Tuhan mengutus setiap kita untuk menjadi pembawa harapan bagi mereka, seperti yang dilakukan malaikat yang diutus Tuhan untuk menjumpai Gideon (Hak 6:11-24a).

Dikatakan, Gideon, anak Yoas, sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur, agar tersembunyi bagi orang Midian. Ini menunjukkan adanya satu ketakutan terhadap orang Midian.

Yang luar biasa adalah penyemangatan yang diberikan oleh malaikat itu saat berjumpa dengan Gideon yang sedang ketakutan terhadap orang Midian. Malaikat Tuhan lalu menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Tuhan sertamu, pahlawan gagah berani.” Sungguh luarbiasa.

Tetapi jawaban Gideon menunjukkan ketidak-percayaannya atas penyertaan Tuhan. “Ah Tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?”

Dan saat Tuhan mengutus Gideon untuk menyelamatkan orang Israel dari cengkeraman orang Midian, Gideon meragukan dirinya.

Tetapi Gideon menjawab, “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel?  Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye, dan aku pun yang paling muda di antara kaum keluargaku.”

Bersabdalah Tuhan kepadanya, “Akulah yang menyertai engkau,  sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian sampai habis.”

Maka jawab Gideon kepada-Nya, “Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang bersabda kepadaku…”

Saat Gideon menghidangkan makanan, Malaikat Tuhan menyentuhkan tongkatnya ke makanan tersebut dan timbullah api yang membakar habis semua makanan itu. Kemudian Malaikat Tuhan menghilang dari pandangan Gideon. Ketika Gideon ketakutan, Tuhan berbicara kembali kepada Gideon. Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi Tuhan, dan menamainya ‘Tuhan itu keselamatan.’

Kalau kita terus membaca di Alkitab, kita melihat Gideon taat maju melawan orang-orang Midian dengan mengikuti bimbingan Tuhan. Gideon menang perang atas bangsa Midian. Janji penyertaan Tuhan dan kemenangan atas Midian, Tuhan genapi.

Di dalam mazmur antar bacaan, Tuhan menjanjikan keselamatan, kasih dan kesetiaan, keadilan dan damai sejahtera kepada umat-Nya.

Begitu juga dalam bacaan Injil, saat Yesus mengatakan lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga, sehingga menimbulkan kegemparan para murid, Yesus melanjutkan, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Allah yang adalah kasih ini adalah Allah yang mampu melakukan segala sesuatu dan Dia adalah Bapa Surgawi kita.

Allah merindukan setiap kita menjadi pembawa harapan kepada dunia yang ada dalam keputus-asaan. Kita anak-anak-Nya, diharapkan menghadirkan Diri-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai, sebagai tindakan nyata dari doa yang diajarkan Tuhan Yesus, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak- Mu, di atas bumi seperti di dalam Surga.”

Kehadiran kita sebagai pembawa harapan bukan dengan sikap “aku lebih suci dan rohani dibanding kamu sebagai orang berdosa”, tetapi mau menempatkan diri sebagai sesama orang berdosa. Seperti yang pernah kita pelajari bersama di kelas Misi Evangelisasi, yaitu kita berteman dengan semua orang sebagai sesama pendosa melalui metode proses identifikasi “for sinners.”

Ada satu kesaksian yang dapat menginspirasi kita bagaimana menjadi “PEMBAWA HARAPAN” bagi orang lain, dari kehidupan Santo Yohanes Paulus II saat beliau menjadi Paus.

Seorang imam teman Scott Hahn kembali dari Roma dan menceritakan kisah ini kepada  Scott Hahn. Imam tersebut dalam perjalanan untuk audiensi pribadi dengan Paus Yohanes Paulus II. Dia berangkat lebih awal dan kemudian memutuskan untuk berhenti sejenak dan berdoa di sebuah gereja sebelum pertemuan dengan Paus. Beberapa langkah dari gereja tersebut terdapat beberapa orang pengemis, hal yang cukup biasa di Roma. Ketika imam tersebut berjalan mendekati gereja, imam itu berpikir bahwa ia mengenali salah satu pengemis. Setelah masuk ke dalam gereja, imam itu berlutut untuk berdoa. Sementara berdoa, pikirannya melayang ke seorang pengemis yang rasanya familiar baginya. Setelah selesai berdoa, imam tersebut segera keluar dan mendekati pengemis tersebut dan berkata: “Saya mengenal engkau. Bukankah kita pernah studi di seminari yang sama?”

Pengemis tersebut mengiyakan, “Iya, memang benar.”

“Jadi engkau adalah imam sekarang?” Imam tersebut bertanya lagi.

“Tidak. Tidak lagi. Saya telah jatuh. Tinggalkan saya sendirian.”,  jawab pengemis tersebut.

Imam tersebut yang sadar ia harus bergegas untuk pertemuan dengan Paus hanya berkata, “Saya akan berdoa untuk engkau.”

Imam itu lalu meninggalkan pengemis tersebut dan berangkat ke pertemuannya dengan Paus Yohanes Paulus II. Pertemuan bersifat sangat formal. Ada beberapa orang yang dianugerahi kesempatan untuk menghadiri audiensi pribadi dengan Paus pada waktu yang sama dan ketika Bapa Suci berjalan ke arah seseorang, sekretaris Paus akan memberikan rosario yang sudah diberkati kepada Sri Paus dan Bapa Suci akan memberikan rosario itu kepada orang tersebut. Pada saat itu, seseorang boleh mencium cincin Paus dan berkata sesuatu dengan rendah hati seperti memohon Paus mendoakannya, berterimakasih atas pelayanan Paus atau mendoakan Paus.  Saat Bapa Suci Yohanes Paulus II mendekat, Imam tersebut tidak dapat menahan dirinya dan berkata, “Saya mohon berdoalah untuk teman saya.” Tidak hanya itu, imam tersebut lalu menceritakan semuanya mengenai teman seminarinya yang menjadi pengemis tersebut. Bapa Suci dengan penuh perhatian meyakinkan imam tersebut bahwa ia akan mendoakan temannya itu.

Beberapa hari kemudian, imam tersebut menerima sebuah surat dari Vatikan. Dengan bahagia dan heran, imam tersebut membawa surat itu ke gereja di mana ia terakhir bertemu temannya, teman sekelas dulu sewaktu di seminari. Hanya sedikit pengemis yang tinggal dan ia bersyukur temannya termasuk di antara yang masih tinggal di gereja itu. Imam tersebut mendekati temannya itu dan berkata, “Saya telah bertemu Paus dan Beliau berkata akan mendoakan engkau juga.”

Imam tersebut melanjutkan, “Lebih dari itu, Paus mengundang engkau dan saya ke kediaman pribadi Beliau untuk makan malam.”

Pengemis itu berkata, “Mustahil. Lihatlah saya. Saya seorang yang kotor. Saya sudah lama sekali tidak mandi dan baju saya kotor.”

Sadar bahwa Paus ingin bertemu dengan temannya itu, Imam tersebut berkata, “Saya tinggal di sebuah kamar hotel di seberang jalan. Di sana engkau dapat mandi dan bercukur. Saya akan mencarikan baju yang cocok untuk engkau.”

Oleh karena rahmat Allah, pengemis tersebut setuju dan kemudian mereka berdua pergi berangkat untuk makan malam dengan Paus Yohanes Paulus II.

Keramahan Paus menakjubkan. Menjelang akhir makan malam sebelum menikmati makanan pencuci mulut, Paus melalui sekretarisnya meminta imam tersebut meninggalkan Paus sendirian bersama dengan pengemis tersebut.

Setelah 15 menit, pengemis tersebut keluar dari ruangan dengan berlinang air mata.

“Apa yang terjadi di sana?” tanya imam tersebut.

Jawaban tak terduga muncul, “Paus meminta saya mendengarkan pengakuan dosanya.”, kata pengemis tersebut.

Pengemis itu melanjutkan, “Saya berkata kepadanya: ‘Yang Suci, lihatlah saya. Saya seorang pengemis. Saya bukan seorang imam.’ Paus melihat saya dan berkata: ‘Anakku, sekali engkau imam, engkau adalah selamanya imam dan siapa yang di antara kita yang bukan seorang pengemis? Saya juga datang ke hadapan Tuhan sebagai seorang pengemis meminta pengampunan atas seluruh dosa-dosa saya.’ Saya memberitahunya: ‘Tetapi, saya tidak berada dalam persatuan dengan Gereja.’ Tetapi Paus meyakinkan saya: ‘Saya seorang Paus, seorang Uskup Roma. Saya dapat mengembalikan engkau sekarang juga.”

Pengemis itu melanjutkan bahwa ia telah lama tidak mendengarkan pengakuan dosa, sehingga Paus harus membantunya untuk mengucapkan kata-kata absolusi.

Imam itu bertanya, “Tetapi engkau di dalam selama 15 menit. Tentu pengakuan dosa Paus tidak berlangsung selama itu.”

“Tidak”, jawab pengemis itu, “Tetapi setelah saya mendengarkan pengakuan dosanya, saya meminta Beliau mendengarkan pengakuan dosa saya.”

Kata-kata dari Paus Yohanes Paulus II untuk anaknya yang hilang ini, datang dalam bentuk formulir dari sebuah komisi. Bapa Suci memberikan tugas pertama kepada imam-pengemis tersebut untuk pergi dan melayani orang-orang tunawisma dan pengemis di gereja tempat imam itu dulu mengemis.

Sungguh teladan yang agung dari Bapa Suci Yohanes Paulus II sebagai pembawa harapan kepada sesamanya. Seorang imam yang putus asa karena terbelenggu oleh dosa, sehingga menjadi pengemis, melalui perjumpaan dengan Sri Paus, hidupnya dipulihkan kembali, menjadi seorang imam yang bebas dari belenggu dosa dan siap menjalani hidup baru dengan menjadi pembawa harapan bagi setiap orang yang dilayaninya.

Doa: “Allah Roh Kudus, pimpinlah hidupku sehingga berkenan kepada Bapa di Surga. Jadikan aku pembawa harapan kepada setiap orang yang kujumpai, sehingga Kerajaan Allah dan kehendak Allah terjadi di bumi seperti di dalam Surga. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.” (HLTW)

Related image