Mari Mengasihi

Renungan Jumat 25 Agustus 2017

Bacaan: Rut. 1:1,3-6,14b-16,22; Mzm. 146:5-6,7,8-9a,9bc-10; Mat. 22:34-40

MARI MENGASIHI

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Mat 22:37-39)

Bacaan dari Injil Matius 22:34-40 terasa sangat akrab di telinga kita, karena sering kita dengar dan sering disampaikan baik oleh para Pewarta Sabda maupun oleh Romo dalam homili di gereja. Namun meskipun dua perintah ini sangat sering kita dengar, bukan berarti mudah untuk dilaksanakan. Kalau kita teliti, manusia secara kodrati dapat mengasihi Tuhan dan sesama. Kodrat manusiawi kita ditingkatkan derajatnya oleh rahmat Allah dalam Sakramen Baptis, sehingga manusia dapat mengasihi Allah secara lebih sempurna (adi-kodrati), yang berakibat pada kemampuan yang lebih pula untuk dapat mengasihi sesama. Mengasihi Tuhan dan sesama, akan menuntun manusia untuk dapat memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan juga kelak dalam Kerajaan Sorga.

Kasih kepada Allah – hukum yang terutama dan yang pertama.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Perintah untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi artinya mengasihi Tuhan dengan keseluruhan diri kita, menempatkan Tuhan sebagai yang utama dari segala sesuatu – setiap saat, di mana saja dan dalam segala kondisi.

Bagaimana kita mengasihi Allah? Dalam Yoh 14:15 Yesus mengatakan: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Kemudian dalam Yoh 14:23a, dikatakan: “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.” Yesus mengatakan dengan jelas sekali bahwa orang yang mengasihi Dia adalah orang yang menuruti atau melakukan perintah-Nya dan yang tidak menuruti perintah-Nya tidak mengasihi Dia. Jadi arti sesungguhnya dari mengasihi Allah adalah berusaha melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, apa yang menyenangkan hati-Nya. Dan ini adalah sesuatu yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Secara manusiawi mungkin kita melihat bahwa perintah ini sangat berat untuk dilakukan. Tetapi dalam 1 Yoh 5:3 dikatakan: “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.” Mari kita lihat apa yang dilakukan Allah supaya kita bisa melakukan perintah-perintah-Nya. Melalui baptisan kita telah menerima rahmat Allah yang begitu besar, yaitu diangkat menjadi anak-anak Allah, dibebaskan dari dosa asal, diampuni dosa-dosanya, menerima rahmat pengudusan, tiga kebajikan Ilahi dan tujuh karunia Roh Kudus. Rahmat Allah ini kemudian diperkuat dengan rahmat yang kita peroleh melalui sakramen-sakramen, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Dengan bekal rahmat Allah yang begitu luar biasa ini, sesungguhnya umat Allah telah diperlengkapi untuk dapat mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, sehingga pada akhirnya dapat mengasihi sesama dengan lebih baik lagi. Dan sebagai kunci kemampuan kita untuk mengasihi Allah sebagai yang utama dan terutama adalah kehadiran Roh Kudus yang hidup dalam diri kita yang membimbing dan mengarahkan kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Kasih kepada sesama – hukum yang kedua.

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Mengasihi Tuhan tidak bisa dipisahkan dari mengasihi sesama. Mengasihi sesama merupakan bukti bahwa kita mengasihi Tuhan. Kekuatan hubungan kita dengan Tuhan diperlihatkan lewat hubungan kita yang sehat dengan sesama 1 Yoh 4:20-21, “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah”, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya”.

Untuk dapat menaati perintah-Nya ini kita membutuhkan kasih karunia Tuhan. Sulit untuk benar-benar mengasihi jika kita sendiri belum mengalami kasih Allah. Kita hanya akan baik kepada orang yang juga baik terhadap kita – kepada orang-orang tertentu atau karena kita punya kepentingan. Namun, ketika menyadari akan kasih Allah kepada kita yang berdosa dan tidak layak ini, di mana Kristus mati ganti kita yang seharusnya mendapat hukuman kekal, maka kita pun akan digerakkan dan dimampukan untuk mengasihi sesama, termasuk mereka yang dalam pandangan dunia tidak layak untuk dikasihi.

Siapakah sesama kita? Contoh tentang sikap dan tindakan “orang Samaria yang murah hati” dalam Luk 10:25-37 memberikan gambaran tentang arti sesama kita yang dimaksud Yesus. Bukan hanya antar teman-teman saja atau orang-orang sekomunitas saja, tetapi Yesus mengajak kita untuk menunjukkan belas kasihan, perasaan empati terhadap siapa saja yang menderita dan kemudian melakukan tindakan nyata untuk menolong mereka, inilah sesama kita.

Dari pembahasan di atas, maka sudah seharusnya kita berjuang untuk melaksanakan perintah Kristus untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Karena hanya dengan mengasihi, manusia dapat memperoleh arti hidup, yaitu kebahagiaan di dunia ini dan pada saatnya nanti, kebahagiaan abadi di Sorga. Mari, mulailah dan bertumbuhlah dalam kasih, sebab kita semua diciptakan untuk mengasihi. Tuhan memberkati. (MfBd)

Image result for love god love people