Kesepakatan

Renungan Rabu 16 Agustus 2017

Bacaan: Ul. 34:1-12; Mzm. 66:1-3a,5,8,16-17; Mat. 18:15-20

“Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:19-20)

Dorrr!!…. dan Sabori pun roboh seketika….

Sebuah Hikayat tentang Sabori dan Sarmani dua orang budak angkut di zaman penjajahan kolonial. Dengan badan yang lebih kuat, Sabori sanggup mengangkut empat keranjang sekali pikul untuk barang-barang keperluan tentara penjajah. Dia selalu berusaha menarik perhatian Von Lars – sang kepala logistik – dengan mengambil lebih banyak beban dan berjalan secepat yang dia bisa di depannya. Beda dengan Sarmani yang seperti budak pada umumnya, hanya mengangkut dua keranjang sekali pikul.

Setelah beberapa lama, Von Lars mulai menekan Sarmani, tapi tetap Sarmani tidak bisa memenuhi harapannya, akhirnya dia mulai dihukum.

Suatu hari Sarmani menangis dan meminta Sabori untuk membantu. Dia berkata, “Sahabat, hanya kita berdua di gudang ini. Mengapa kita bersaing satu sama lain? Jika kita bekerja sama kita bisa membawa beban yang sama dengan kecepatan normal.” Mendengar permohonan temannya, Sabori justru menjadi lebih kompetitif setelah itu. Keesokan harinya dia membual kepada Von Lars bahwa dia bisa membawa lebih banyak dan berlari lebih cepat daripada temannya, dan dia melakukannya. Von Lars, seperti yang diharapkan, menjadi semakin marah dan meminta Sarmani untuk lebih cepat dan menghukumnya lebih banyak bila tidak bisa! Di bawah tekanan, Sarmani ambruk karena kelelahan dan wafat.

Akibat keruntuhan temannya, Sabori merasa seperti berada di puncak dunia, telah membuktikan kemampuan dan kekuatan superiornya. Tapi, ahh… sekarang dia juga harus membawa muatan Sarmani. Untuk beberapa saat Sabori mampu membawa kedua muatan, tapi akhirnya ia menjadi lelah dan lemah. Von Lars tidak memiliki belas kasihan pada budak yang dulu lebih unggul, tapi sekarang lelah. Dia berteriak dan menuntut lebih banyak, tapi sekeras yang dilakukan budak ini, dia tidak bisa memenuhi permintaan tuannya.

Akhirnya hari itu tiba ketika Von Lars jenuh dengan budak yang tidak berguna lagi..

Dorrr!!…. dan Sabori pun roboh seketika….

Saat ini, terlepas dari seberapa kuat Anda berpikir dan berusaha, Anda tidak dapat selalu melakukan semua pekerjaan secara mandiri. Inilah pentingnya untuk bekerja sama menjadi tim rekan sekerja. Kita harus menyadari bahwa meminta semua tanggung jawab untuk menunjukkan diri yang superstar akhirnya justru berbalik menjadi beban yang tidak nyaman bahkan dapat menghalangi pemahaman akan rencana Allah bagi seluruh tim.

Apakah Anda memperhatikan Sarmani? Mungkin tidak menjadi yang terkuat dan tercepat, tapi ia sesungguhnya konsisten. Dalam dinamika kehidupan, baik dalam pekerjaan, keluarga maupun pelayanan, perlu adanya suatu kesepakatan. Setiap tim, kelompok, komunitas, atau bahkan keluarga, pasti menginginkan grupnya menjadi yang terbaik dan sempurna, penuh dengan keberhasilan.

Sayangnya hal ini tidak berlaku secara otomatis, karena tentu saja kemampuan dan pribadi setiap manusia berbeda-beda. Maka perlakukanlah Sarmani secara baik, seperti Anda juga memperlakukan Sabori, sehingga tim yang dibangun akan menjadi seimbang dan tentunya akan berkinerja tinggi.

Hari ini Alkitab memberikan gambaran yang baik dalam Mat 18:19-20 “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Bila dua orang atau lebih memohon kepada Bapa, maka permintaan itu pasti akan dikabulkan. Gagasan yang mendasarinya begini: bila pendapat satu orang mengenai apa yang baik bagi kehidupan umat diterima oleh orang lain sebagai pendapat yang jujur dan bisa dipertanggungjawabkan, maka pendapat tadi sejalan dengan yang dikehendaki oleh Yesus sendiri. Dan permohonan yang diungkapkan dengan dasar ini pasti dikabulkan Bapa.

Permohonan bersama yang dikatakan pasti dikabulkan seperti di atas tidak dapat dipisahkan dari sikap saling percaya dalam satu tim rekan sekerja. Yang digaris bawahi pada paragraf di atas menunjukkan hubungan mendatar pada iman kepercayaan. Di situ besar artinya hubungan antara “temanku dan diriku” (sesama). Sedangkan hubungan ke atas sebagai “Tuhan dan diriku”, saja belum mencukupi dalam kesepakatan sebagai rekan satu tim.

Gambaran tentang hubungan mendatar pada sesama dapat membuat hati lega dan bukan yang mengekang. Perasaan sepakat menuju arah yang sama membuat orang berani mencari kebenaran bersama dan berani pula mempercayai satu sama lain.

Mempunyai tim yang sepakat bukan berarti kesediaan meng-ia-kan begitu saja pernyataan temannya, bukan pula melaksanakan aturan-aturan secara ketat. Percaya, jujur dan tulus menjadi hal yang dipersyaratkan. Dalam hal ini, saya mengutip sebuah sumber yang mengatakan: “Iman kristiani memang pemberian dari atas, seutuhnya anugerah Ilahi, tetapi pertumbuhannya bergantung pada kesediaan manusia mengembangkannya bersama-sama dalam komunitas, dalam umat”.

Inilah kreativitas iman yang hidup itu:  tim yang memiliki integritas dalam kesepakatan mempunyai peluang lebih untuk bertumbuh dengan kelompok masyarakat luas. Maka wacana bukan hanya pada taraf rumusan doktrin kepercayaan, ibadat apalagi sampai syarat kalau mau dibaptis; melainkan langsung terarah pada penanganan masalah-masalah bersama di masyarakat. Kata sepakat adalah anugerah indah yang diberikan Bapa bagi umat-Nya yang juga menjadi sumbangan terbesar bagi masyarakat majemuk di negeri kita ini.

Selamat merayakan kemerdekaan.

Majulah Indonesia!

(vmg)

Image result for matthew 18:19-20