Keadilan dan Kemurahan Allah

Renungan Rabu 23 Agustus 2017

Bacaan: Hak. 9:6-15; Mzm. 21:2-3,4-5,6-7; Mat. 20:1-16a

KEADILAN DAN KEMURAHAN ALLAH

Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak. Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya. (Mzm 21:2-3)

Setiap kali saya membaca dari Mat 20:1-16, saya selalu teringat pergumulan Ayah saya dalam memahami perikop ini. Ayah saya mempunyai pandangan bahwa Allah sudah bertindak tidak adil. Beliau mempunyai pertanyaan: “Mengapa orang yang bekerja lebih lama, diberi gaji sama banyak dengan dengan orang yang bekerja hanya 1 jam? Itu kan tidak adil?” Hal tersebut selalu menjadi pergumulan dalam benaknya. Masa orang yang bekerja sejak pagi benar, pukul sembilan pagi, pukul dua belas siang, pukul tiga siang, pukul 5 sore, masing-masing menerima 1 dinar. Ketika dijawab, bukankah semua sudah menerima sesuai dengan perjanjian yaitu 1 dinar. Karena ketika pekerjaan ditawarkan, sudah disertai  janji bahwa akan diberi upah 1 dinar. Si pemilik tidak ingkar janji, bahkan sudah menepati janjinya dengan memberi 1 dinar. Tetapi beliau tetap tidak bisa menerima, karena tetap pada pendapatnya, pemilik sudah bertindak tidak adil.

Setiap bertemu dengan teman saya atau Suster atau Romo yang datang ke rumah, Beliau selalu menanyakan hal tersebut dan tidak ada seorang pun yang dapat mengubah pandangannya. Walaupun beliau pergi ke gereja tiap minggu tapi belum mau dibaptis. Mungkin karena terganjal oleh pandangannya tersebut. Bahkan sampai ditawari oleh Romo, untuk dibaptis tanpa belajar, karena melihat ketekunan dan kesungguhannya berdoa dan ke Misa tiap minggu, Beliau mengucapkan terima kasih dan menolak. Beliau selalu menjawab bahwa belum saatnya.

Setiap kali hendak keluar rumah, Ayah saya selalu berdoa kepada Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria, karena ada semacam altar kecil di rumah, dan Beliau membuat tanda salib. Bahkan ada teman yang bercerita pada saya bahwa dia pernah jalan di belakang mobil Ayah saya, karena dia mengendarai mobil sendiri. Teman saya mengatakan bahwa Ayah saya lebih Katolik dari pada saya. Di setiap perempatan atau mau belok, Beliau pasti membuat tanda salib, walau belum dibaptis.

Waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Suatu hari, datanglah seorang Romo yang berkunjung ke rumah untuk pertama kali. Kembali Ayah bertanya dengan pendapat yang sama, tentang perikop ini. Luar biasa. Romo itu menjawab dengan bijak, menjelaskan dengan baik dan sabar tentang arti yang tersirat. Perikop ini dihubungkannya dengan janji Tuhan yang murah hati dan adil tentang Kerajaan Allah. Apakah orang itu dibaptis sejak bayi, saat remaja, dewasa, lansia seperti Ayah (saat itu sudah 80 tahun lebih) semua diundang masuk dalam Kerajaan Allah. Ayah puas dengan jawaban Romo tersebut dan Beliau tidak mencari lagi. Saat ditanya kapan mau dibaptis, tetap mengatakan nanti. Beliau ingin saat terakhir dibaptis. Saya sering menggoda, kalau begitu senang, langsung masuk surga. Beliau tertawa.

Tuhan mengabulkan kerinduannya. Sebelum pulang, beliau sempat dibaptis. Saat mau diberi komuni, awalnya menolak. Sambil berdoa dalam hati saya berkata kepada Ayah saya bahwa Tuhan Yesus sangat mencintai dia. Bahwa Yesus telah mati untuk menebus dosa-dosanya, dan sekarang Yesus ingin masuk bersatu dengan Papi. Saya bertanya, “Apakah Papi mau menerima Yesus?” Beliau mengangguk tanpa berbicara. Saat menerima hosti, Beliau mengeluarkan air mata dan saya bisa ikut merasakan damai di hatinya.

Doa:

Aku bersyukur kepada-Mu Tuhan karena kami boleh bersukacita, karena kemenangan yang telah Kau anugerahkan seperti yang tertulis di dalam Mazmur. Apa yang menjadi keinginan hati Papi telah Kau karuniakan, dan permintaan bibirnya tidak Kau tolak. Aku bersyukur kepada-Mu Tuhan, karena aku sekarang tahu di mana Beliau berada. Aku bersyukur kepada-Mu Tuhan karena Engkau tidak pernah terlambat dan tahu yang terbaik untuk anak-anak-Mu. Aku bersyukur kepada-Mu Tuhan karena Engkau mampu menjadikan semuanya indah pada waktu-Nya. Amin. (JRW)