Hidup Perkawinan Adalah Panggilan

Renungan Jumat 18 Agustus 2017

Bacaan: Yos. 24:1-13; Mzm. 136:1-3,16-18,21-22,24; Mat. 19:3-12

“Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Mat 19:3)

HIDUP PERKAWINAN ADALAH PANGGILAN

Sejak awal mula Allah menciptakan manusia, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan (Kej 1:27). Bukannya tanpa tujuan Allah menciptakan keduanya. Allah mau bekerja sama dengan mereka untuk melangsungkan karya penciptaan-Nya dalam hal perkembangan hidup dan berlangsungnya generasi hidup manusia. (Kej 1:29).

Persatuan antara laki-laki dan perempuan disebut perkawinan. Maka sebuah perkawinan adalah sebuah panggilan Allah. Perkawinan dikuduskan dengan sakramen, yakni Sakramen Perkawinan. Dalam hal ini perkawinan bukan atas prakarsa manusia, tetapi Allah berperan mempersatukan mereka. Persatuan ini berawal dari rencana Allah: ”tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kej 2:18). “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Mat 19:5). Maka sebuah relasi antara laki-laki dan perempuan yang berujung pada perkawinan yakni dengan saling menerimakan Sakramen Perkawinan, adalah sebuah relasi yang di dalamnya Allah berperan dan berkuasa.

Allah mengukuhkan kelangsungan sebuah perkawinan dengan memberikan perintah: ”Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19:6).

Mengutip pertanyaan orang Farisi tentang perceraian: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Mat 19:3) mencerminkan dangkalnya sebuah pandangan tentang nilai sebuah perkawinan. Apalagi dengan alasan apa saja. Sebuah perkawinan haruslah berdasarkan cinta kasih yang tulus. Kasih Agape yakni kasih Allah sendiri yang murni tanpa syarat. Kasih yang murni akan disertai dengan kesetiaan yang tulus. Dalam keadaan baik ataupun sebaliknya. Di dalam perjanjian nikah secara Katolik, mempelai laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan kesetiaan seumur hidup dan hanya kematian yang memisahkan.

Perkawinan seharusnya tidak hanya memandang hal-hal lahiriah saja. Melainkan memandang lebih ke dalam makna perkawinan yakni panggilan Allah, bekerja sama dengan Allah dalam menyatakan kasih-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa cinta berasal dari hal-hal lahiriah, tetapi ketika kita menyadari bahwa kita sedang bekerja sama dengan Allah dalam sebuah perkawinan, apa pun yang sedang atau akan dialami dalam perkawinan kita akan dikuatkan menanggung dan melewatinya. Sebab Tuhan tak pernah janji langit selalu biru, tetapi Dia berjanji selalu menyertai.

Mari terus setia bekerja sama dengan Allah, menyelenggarakan ciptaan-Nya dan menyatakan kasih-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya, dengan cara tetap setia kepada janji perkawinan. Tuhan memberkati. (ANS)

Image result for wedding ring