Harta Yang Paling Berharga

Renungan Rabu 2 Agustus 2017

Bacaan: Kel. 34:29-35; Mzm. 99:5,6,7,9; Mat. 13:44-46

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus. Pernahkah dalam hidup kita, kita menginginkan sesuatu atau memimpikan suatu hal atau perubahan terjadi atas hidup kita? Seperti contohnya, setelah kita lulus sekolah dahulu, kita ingin mendapatkan pekerjaan atau membuka toko lalu kita bisa berkembang dalam pekerjaan kita dan bisa beli ini itu. Atau mungkin kita saat ini sedang menginginkan mobil baru? Rumah? Atau apa pun yang kita perlu mengusahakannya. Ketika kita hendak memiliki barang yang menjadi cita-cita atau impian kita, kita pasti akan mengusahakan apa pun untuk mendapatkannya, ada yang mungkin dengan menabung, mencicil, atau bekerja lebih keras lagi.

Saudara-saudara yang terkasih, bacaan Injil kita hari ini hendak mengingatkan kita akan sesuatu hal yang berharga dan diperlukan suatu usaha yang nyata untuk mendapatkannya. Harta kita yang paling berharga itu bukanlah hanya berbicara soal kekayaan materi namun berbicara tentang sesuatu hal yang lebih besar daripada itu semua, yaitu Kerajaan Surga. Pada Injil tersebut ditegaskan bahwa Kerajaan Surga adalah sesuatu hal yang bernilai sehingga diumpamakan seperti harta yang terpendam serta mutiara yang berharga. Ketika menemukan harta yang terpendam atau mutiara tersebut, reaksi dari para penemu harta tersebut adalah menjual segala apa yang dimilikinya untuk mendapatkannya. Hal ini mau mengingatkan kita bahwa Kerajaan Surga adalah sesuatu yang perlu diusahakan. Untuk menghadirkan Kerajaan Allah tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari, kita perlu menjual segala sesuatu yang menjadi harta kita sekarang ini, yang mungkin berupa uang, pekerjaan, pasangan, keluarga, dll., untuk ditukarkan dengan sesuatu yang tidak ternilai. Apakah artinya kita menjadi tidak bertanggung jawab kepada pekerjaan/pasangan/keluarga kita? Bukan hal itu yang dimaksud, terlebih apakah kita sudah berani keluar dari zona nyaman atau rutinitas duniawi kita untuk melayani Tuhan lebih lagi dengan tidak pilih-pilih jenis pelayan, lokasi pelayanan, dll. Atau sudahkah kita tidak menjadi pribadi yang serakah atas harta dunia kita?

Saudara-saudara yang terkasih, marilah kita semua mulai untuk mengerti akan pentingnya mendapatkan Kerajaan Surga yang berbicara akan kehidupan kita sekarang (Kerajaan Surga di dunia) dan yang di masa yang akan datang sehingga kita dengan sukacita mampu menukarkan harta dunia kita untuk mendapatkan harta yang abadi. Tuhan memberkati. (LT)