Gunung Yang Tinggi

Renungan Minggu 6 Agustus 2017, Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

Bacaan: Dan. 7:9-10,13-14, Mzm. 97:1-2,5-6,9; 2Ptr. 1:16-19; Mat. 17:1-9

Peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan-Nya merupakan peristiwa penting dalam perjalanan pemuridan para rasul, khususnya Petrus, Yakobus dan Yohanes, yang dibawa serta oleh Yesus untuk menyaksikan kemuliaan-Nya. Perubahan rupa Kristus hendak menguatkan iman para rasul menjelang kesengsaraan yang akan datang. Kenaikan ke “gunung yang tinggi” mempersiapkan kenaikan ke gunung Kalvari. Kristus, Kepala Gereja, mewahyukan, apa yang tubuh-Nya miliki dan sinarkan dalam sakramen-sakramen: “harapan akan kemuliaan” (Kol 1:27) [Katekismus Gereja Katolik No. 568].

Sebagai seorang murid, rasul Petrus juga mengalami suatu proses pemuridan. Mulai dengan panggilan Tuhan Yesus yang akan menjadikan dia sebagai penjala manusia. Kemudian pengakuan Petrus, bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang hidup (Mat 16:16), kemudian penolakan Petrus terhadap rencana Allah, di mana Yesus harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat 16:21-23).

Dan sebelum dihadapkan pada realitas penderitaan dan salib Kristus, Petrus dikuatkan dengan pengalaman kemuliaan Allah, yang dalam tradisi Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di Gunung Tabor. Tetapi walaupun sudah dikuatkan dengan pengalaman Tabor ini, tetapi ketika menghadapi realitas gurunya ditangkap dan dianiaya, Petrus mengalami kelemahannya dan menyangkal Gurunya sampai tiga kali. Tetapi kerahiman Allah jauh lebih besar dari kelemahan dan kejatuhan Petrus, dia dipulihkan, dia disembuhkan dengan pengalaman kebangkitan Kristus, dia juga diutus untuk menggembalakan domba-domba Kristus. Pada hari Pentakosta, Petrus bersama para murid yang lain mengalami turunnya Roh Kudus, yang membarui seluruh diri mereka, memberi mereka keberanian dan kekuatan untuk mewartakan Injil dalam kuasa Roh Kudus.

Ada sebuah cerita dari tradisi mengenai masa tua Petrus, sebagai Paus pertama. Ketika kekaisaran Romawi pada zaman itu melakukan pengejaran dan penganiayaan yang hebat kepada orang-orang Kristen, Petrus sebagai Paus pertama, oleh jemaat dianjurkan untuk pergi dari kota Roma menuju tempat yang aman. Di tengah perjalanan, Petrus mendapat mendapat penampakan dari Tuhan Yesus yang memikul salib menuju ke kota Roma. Petrus bertanya, “Quo vadis Domine?” (Mau ke mana, Tuhan?). Lalu Yesus menjawab: “Aku mau masuk ke kota Roma, untuk disalibkan kembali.” Lalu Petrus mengatakan, “Jangan Engkau Tuhan, tetapi biarlah aku yang disalibkan untuk-Mu.”

Akhirnya Petrus masuk kembali ke kota Roma, lalu ditangkap, dan karena dia bukan warga negara Romawi seperti Paulus, maka dia dijatuhi hukuman terberat, yaitu salib. Dan sebelum disalib, Petrus memberkati kota Roma, kemudian dia minta supaya disalibkan terbalik, karena dia merasa tidak layak mati seperti Tuhannya. Inilah perjalanan pemuridan seorang rasul Petrus, mari kita renungkan bersama perjalanan dan teladan rasul Petrus ini. Petrus yang dipilih oleh Tuhan Yesus menjadi paus pertama ini bukan orang sempurna, punya kelemahan, tetapi bagaimana keterbukaannya terhadap rahmat Allah, yang membarui dan menyempurnakannya.

Demikian juga kita, dalam segala kelemahan dan jatuh bangun, kita dipanggil untuk mengikuti Kristus seperti Petrus. Peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan-Nya memberikan peneguhan kepada kita, bahwa Yesus sungguh-sungguh Putera Allah, dalam hal ini Petrus menjadi saksinya (2 Ptr 1:16-18). Peristiwa ini juga memberikan kekuatan dan pengharapan, ketika kita menghadapi realitas penderitaan dan salib dalam kehidupan sehari-hari, bahwa kita tidak pernah berjuang sendirian, tetapi selalu ada Yesus yang mendampingi kita. Amin. (ET)

Image result for Matthew 17:1-9;