Belas Kasih Yang Bertindak

Renungan Kamis 3 Agustus 2017

Bacaan: Im. 23:1,4-11,15-16,27,34b-37; Mzm. 81:3-4,5-6ab,10-11ab; Mat. 9:35-10:1

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat 9:36)

Dalam permulaan pelayanan Tuhan Yesus banyak dilihat manusia itu hidup tanpa gembala, orang-orang sakit bertebaran di jalan tanpa ada pengharapan, orang-orang yang haus akan firman Tuhan dan banyak yang akan mati karena kejahatannya. Melihat semuanya itu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Dan Yesus merasakan penderitaan yang mereka alami dan mengalami sengsara manusia itu sebagai sengsara-Nya sendiri dan belas kasihan-Nya akan kesengsaraan umat manusia yang membawanya di kayu salib untuk membawa sukacita yang dari Tuhan. Yesus memandang belas kasihan-Nya kepada orang bayak itu adalah sebagai “pekerjaan menuai”.

Yesus telah menjadi benih yang mati di tanah supaya hidup dan menghasilkan tuaian yang banyak. Memang tuaian banyak namun pekerja sedikit, untuk itulah Yesus memanggil ke-12 murid-Nya yang pertama sebagai pekerja untuk tuaian itu dan Tuhan juga membutuhkan lebih banyak lagi pekerja yaitu semua yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat dilibatkan menjadi pekerja untuk tuaian yang banyak itu.

Tuhan telah mengutus umat-Nya menjadi pekerja untuk tuaian-Nya dengan bermodalkan belas kasihan. Belas kasihan adalah alat yang akan digunakan dalam menuai. Melihat orang banyak menjadi bahagia dari diri kita, sehingga menjadi pengikut Kristus tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Dalam Lukas 6:36 Tuhan Yesus mengatakan: “Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu murah hati.”

Belas kasihan yang di perlihatkan oleh Tuhan Yesus adalah belas kasihan yang berbuat, hati Yesus tergerak oleh belas kasihan sehingga Ia pun bertindak dengan melakukan mukjizat dan pengajaran kepada yang membutuhkan. Inilah yang harus ditiru oleh pengikut Kristus yaitu belas kasihan yang berbuat dan tidak hanya perasaan iba bahkan Dia harus memberikan nyawa-Nya oleh karena kasih-Nya yang besar untuk dunia. Apa yang bisa kita berikan dari diri kita oleh karena belas kasihan kita tersebut dan jangan hanya memiliki rasa kasihan tanpa perbuatan nyata. Bagaimana mungkin sabit itu akan dikatakan alat penuai jika tidak digunakan? Tidak ada bedanya dengan besi tua yang tidak berguna. Bagaimana mungkin kita dikatakan pengikut Kristus yang memiliki kasih jika tidak mewujudkan kasih itu kepada kehidupan kita?

Belas kasihan tidak sekedar perkataan ataupun perasaan, tetapi belas kasihan itu adalah alat yang harus digunakan. Jumlah orang Kristen di seluruh dunia saat ini sekitar sepertiga penduduk dunia, “mungkin” Tuhan Yesus juga masih berkata sampai sekarang “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit”. Tuhan Yesus membutuhkan pekerja-pekerja yang benar-benar mau bekerja dan bukan pekerja yang pemalas yang hanya mementingkan diri sendiri. Apakah iman Kristen yang dianutnya adalah hanya untuk kepentingan diri sendiri yang hanya ingin menyelamatkan dirinya saja ataukah menjadi alat Tuhan untuk memberitakan “Tahun rahmat Tuhan” di tengah-tengah dunia ini.

Setelah merenungkan semuanya ini saya tergerak untuk menyanyikan lagu ini bersama –sama saudara:

Kerja buat Tuhan selalu manise.
Biar pikul salib selalu manise.
Ayo kerja buat Tuhan sungguh senang-senange.
Dipanggil Tuhan selalu manise.
Membawa diri ke ladang Tuhan saudara.
Ikut Tuhan selalu manise.
Mana mana Tuhan panggil. 
Mana mana Tuhan panggil.
Mana mana Tuhan panggil.
Saya kerja di ladang-Nya Tuhan. 
Saya kerja di ladang-Nya Tuhan.
Saya kerja di ladang-Nya Tuhan.

Selamat bekerja. Tuhan Yesus memberkati.

JH

Image result for it is not enough to be compassionate you must act