Batu Sandungan

Renungan Senin 14 Agustus 2017

Bacaan: Ul. 10:12-22; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; Mat. 17:22-27

Injil hari ini berbicara tetang dua hal: yang pertama Yesus berbicara tentang anak Manusia yang akan diserahkan ke dalam tangan manusia, mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan (Mat 17:23), bagian yang kedua, tentang hal jangan menjadi batu sandungan tentang membayar bea bait Allah dan penulis akan fokus pada bagian kedua.

Bacaan Injil hari ini menjadi permenungan penting bagi kita supaya jangan menjadi “batu sandungan”. Saya yakin setiap orang tidak ingin hidupnya menjadi batu sandungan bagi orang lain. Setiap orang punya kehendak baik dan mau menjadi berkat bagi orang lain, terutama keluarganya. Namun pada kenyataannya sering kali kehendak dan perbuatan tidak selalu sejalan, bisa jauh berbeda.

Yesus hadir memberi teladan, sebagai orang Yahudi Dia juga membayar pajak bait Allah, Yesus tidak menghindar, sekalipun hal membayar bea Bait Allah yang mana tidak ada dalam Hukum Taurat. Peraturan itu adalah buatan para pemimpin agama Yahudi, Yesus tetap membayarnya karena Ia tidak ingin menjadi batu sandungan.

Bagaimana dengan kita? Sebagai anak-anak Tuhan, sebagai pelayan Tuhan baik dalam keluarga maupun dalam gereja, apakah kita sering menjadi batu sandungan bagi orang lain?

Kata batu sandungan sendiri mempunya arti sesuatu yang menjadi rintangan/penghalang, sesuatu yang mendatangkan kesukaran bagi orang lain, contoh:

  1. Di gereja kita sebagai aktivis yang baik dan saleh, banyak membantu umat yang membutuhkan pertolongan, namun di kantor; kita sebagai orang yang suka menindas karyawan atau suka menggosipkan sesama teman karyawan (Amsal 14:31).
  2. Karena fanatik pada agamanya, sehingga menjelek-jelekkan agama lain, menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk mengenal Yesus.
  3. Aktif dalam pelayanan baik mendoakan orang sakit maupun pelayanan-pelayanan lainnya, tapi di rumah tidak pernah mendoakan suami, istri, anak, orang tuanya, bahkan menjadi monster bagi keluarganya, menjadi batu sandungan bagi pasangan, anak, orang tua, mereka bertanya itukah yang diperoleh dengan mengikuti Yesus (Mat 7:6).
  4. Akhir akhir ini terdengar berita pemimpin tertinggi dari sebuah gereja yang mengkorupsi uang jemaatnya, bukankah ini menjadi batu sandungan baik bagi umat Kristen sendiri, terlebih bagi umat non Kristen (Mrk 10:19).
  5. Belum lagi khotbah-khotbah kita yang menjelekkan/menyudutkan keyakinan umat beragama lainnya.
  6. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Saudara terkasih, kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus baik bagi diri sendiri juga bagi sesama, maka kita tidak boleh menjadi batu sandungan bagi orang lain. Apa yang tampak di luar haruslah sama dengan yang ada dalam hati kita, apa yang kita ucapkan haruslah sama dengan apa yang kita lakukan (Mzm 26: 2-3) agar kita sungguh layak menjadi bait Allah, menjadi pelayan kasih-Nya bagi sesama terutama keluarga kita. Segala sembah sujud, pujian kita sungguh dapat menyenangkan hati Tuhan, karena kita bukan menjadi batu sandungan tapi justru kita menjadi batu penjuru (Yesus kecil). Sembah sujud kepada Tuhan harus menjadi nyata dalam tindakan dan perkataan kita (1 Korintus 7:35). Semoga Tuhan memberkati kita semua. (IGP)