Adakah Herodes dalam Diriku?

Renungan Sabtu 5 Agustus 2017

Bacaan: Im. 25:1,8-17; Mzm. 67:2-3,5,7-8; Mat. 14:1-12

Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. (Mat 14:10-11)

Apakah yang dapat kita renungkan dari Injil hari ini mengenai peristiwa Yohanes Pembaptis dibunuh?

  1. Jangan ragu menegur suatu perbuatan dosa

Seringkali kita melihat orang lain melakukan perbuatan dosa namun kita tidak mau peduli dan merasa bukan urusan kita. Yohanes Pembaptis mengetahui perbuatan dosa yang dilakukan Herodes dan Herodias maka dengan tegas ia menegur mereka berdua supaya bertobat tetapi mereka menolak bahkan membalas dendam dengan membunuh Yohanes Pembaptis.

Biasanya orang segan menegur kesalahan seseorang , apalagi jika orang tersebut mempunyai kedudukan lebih tinggi.Hal ini banyak terjadi pada masa sekarang ini, terlebih pada mereka yang berkuasa atau secara ekonomi mempunyai kehidupan finansial yang lebih baik dibandingkan dengan sesama mereka. Sebagian besar dari mereka-mereka ini tidak mau dikritik dan mengakui kesalahannya.

  1. Jangan pernah kita berkompromi dengan dosa

Dosa adalah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Berbohong itu dosa atau tidak? Berbohong merupakan tindakan mengucapkan saksi dusta, mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran.

Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Matius 5:37).

Mungkin Herodes berdalih macam-macam untuk membenarkan perbuatannya yang mengingini istri dari saudaranya laki-laki. 

Bagi kita, yang paling penting jika kita melakukan dosa adalah bertobat dan mengakui kesalahan kita di hadapan Tuhan. Tidak perlu mencari alasan untuk pembenaran diri. Seringkali yang kita lakukan jika kita berbuat dosa adalah dengan menutupi dosa kita dan melakukan pembenaran diri. Dan hal yang paling mudah kita lakukan adalah dengan mengkambing-hitamkan orang lain supaya dosa kita tidak terbongkar, seperti yang dilakukan Herodes maupun Herodias.

Mari kita refleksikan pada diri kita masing-masing, seberapa seringkah kita menutupi dosa kita dan mengkambing-hitamkan orang lain untuk menutupi dosa kita dan mencari pembenaran diri?

Pernahkah kita melihat orang dipasung? Biasanya orang yang dipasung adalah mereka yang sakit jiwa. Sangat menyedihkan melihat kebebasan mereka yang terbelenggu dan tidak mampu berbuat apa-apa. Jika yang dipasung biasanya adalah mereka yang sakit jiwa, bagaimana dengan kita? Pernahkah kita terpasung? Terbelenggu atau terpenjara? Memang secara fisik mungkin tidak pernah, tetapi hati kita pernah terbelenggu dan terpenjara. Tidak terlihat tetapi sakitnya lebih daripada sakit secara fisik.

Herodes membunuh Yohanes Pembaptis karena kebenaran. Herodes tidak mendengar suara hatinya dengan baik, dia mendengar kata anak dan istrinya. ‘Herodes’ dalam diri kita mungkin tidak pernah membunuh secara fisik tetapi dengan kata-kata, sikap dan perbuatan kita telah membunuh karakter sesama kita. Lebih menyakitkan daripada sebilah pisau tajam yang mematikan dalam sekejap tanpa sakit yang berkepanjangan.

Secara sadar atau tidak, kita yang mengaku sebagai anak Allah, hamba Tuhan, bahkan pelayan Tuhan sering kali melakukan hal yang dapat memasung, membelenggu dan memenjarakan hidup seseorang dengan apa yang kita lakukan sebagai berikut:

  • Kata-kata kasar dan menyakitkan.
  • Fitnahan.
  • Menceritakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenarannya tetapi karena kehebatan kita bercerita dan meyakinkan orang, sehingga orang lain yang mendengarkan menjadi percaya dengan apa yang kita ceritakan itu seakan-akan merupakan suatu kebenaran yang telah terjadi.
  • Berbohong, mengkambing-hitamkan orang lain, mengalihkan cerita untuk menutupi dosa yang telah kita lakukan.
  • Kebiasaan kita yang hanya mendengar sepenggal cerita tetapi bisa menceritakannya kembali kepada orang lain dengan ‘membumbui’ cerita tersebut sehingga menjadi kemasan cerita yang menarik.
  • Sikap yang arogan.
  • Perbuatan yang melukai perasaan orang lain.

Jika demikian adanya, apakah ‘herodes’ dalam diri kita tidak lebih kejam dari Herodes yang membunuh Yohanes Pembaptis?

Melalui Injil hari ini, kita diajak untuk merefleksikan lebih dalam tentang:

  • Siapakah diriku di hadapan Tuhan dan sesama?
  • Adakah ‘Herodes’ dalam diriku?
  • Sanggupkah kita menjadi pribadi yang hening dalam mendengar suara hati, agar apa pun sikap, kata dan perbuatan kita tidak bertentangan dengan cinta kasih Allah?

Berkat dan kasih Tuhan menyertai kita semua.

VRE

Image result for herod and john the baptist