Beribadah dan Melayani Tuhan

Renungan Sabtu 19 Agustus 2017

Bacaan: Yos. 24:14-29; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,11; Mat. 19:13-15

Beribadah dan Melayani Tuhan

Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. (Ul 6:10-13)

Dalam renungan hari ini saya diingatkan kembali bahwa sebagai umat Kristen pada umumnya dan sebagai pemimpin khususnya, maka ketaatan, karakter, sikap hidup dan cara kita beribadah adalah untuk menyatakan cinta dan iman kita kepada Tuhan. Karena Allah begitu mencintai umat-Nya, dalam perjanjian lama Allah mengutus para nabi, membebaskan dan membawa bangsa Israel ke tanah perjanjian. Allah melengkapi, menuntun dan bekerja bersama dengan mereka para nabi yang diutus-Nya, hal ini pun pasti juga berlaku bagi kita semua.

Bagaikan bangsa Israel saat itu, betapa sering kita umat Kristen disadarkan, dikuatkan kembali akan Allah Tuhan kita yang menjadi tujuan hidup kita. Kita diingatkan kembali setelah kita mengikuti suatu persekutuan, seminar, retret, workshop rohani, perayaan liturgi di gereja, atau setelah membaca alkitab, renungan, dll. Tetapi kemudian betapa mudahnya kita lupa, lemah dan luntur lagi dan jauh dari Tuhan.

Allah memiliki rencana indah bagi umat-Nya. Gereja mengajak para pemimpin komunitas menjadi makin berani melakukan pelayanan dan penginjilan, dapat berkata-kata seperti Sang Penebus, “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” (Luk 4:43) dan kita dapat memiliki pribadi berkarakter seperti Paulus yang menyatakan, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri, sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Kor 9:16).

Saya merasa betapa baiknya Tuhan yang membuat saya terus mau belajar untuk lebih mengenal-Nya. Saya  sebagai umat Kristen masa kini pun membuat perjanjian dengan Tuhan kita pada saat pertama saya menerima-Nya sebagai Juru Selamat dan dipermandikan. Seperti bangsa Israel saya pun berulang-ulang melakukan perbaruan janji baptis, mengingatnya kembali bahwa saya ini milik-Nya. Bahkan saya telah diberi Roh Kudus dengan kematian Yesus. Salib Yesus memiliki tanda yang mengingatkan kita bahwa salib bukan sekedar benda mati, tetapi salib yang hidup di dalam jiwa dan roh kita.

Dalam perjanjian baru, Yesus telah mengajar bagaimana kita umat Kristen harus hidup. Dengan kematian-Nya, Yesus memerangi maut di atas kayu salib dan Yesus berkemenangan untuk memasuki suatu tanah perjanjian baru bagi kita. Yesus telah membawa kita umat Kristen dapat hidup di dalam kerajaan-Nya di dunia dan di surga dan memberikan Roh-Nya pada kita agar kita dapat hidup dalam sukacita-Nya.

Siapkah kita sebagai umat yang diutus untuk melakukan dan memiliki karakter dan semangat seperti para nabi dan sebagai murid-murid Yesus? (WN) 

Image result for by his grace and for his glory