Tuhan Penolongku

Renungan Selasa 4 Juli 2017

Bacaan: Kej. 19:15-29Mzm. 26:2-3,9-10,11-12Mat. 8:23-27

Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” (Mat 8:25)

Bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal berkaitan dengan peristiwa Yesus meredakan angin ribut.

Yang pertama  secara simbolis Yesus meletakkan prinsip dasar Pemuridan, yakni mengikut Yesus;  Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. ( Mat 8:23 )

Seorang murid harus mengikuti gurunya. Meneladan dan melakukan apa yang gurunya lakukan. Hidup bersama gurunya, berelasi secara akrab dengan gurunya. Sehingga apa yang guru lakukan dapat dilakukan juga oleh para muridnya.

Dengan mengikuti sang guru, murid akan mengenal secara dekat sosok sang guru. Pengenalan ini akan menumbuhkan iman yang akan semakin diteguhkan, dewasa dan sempurna, seiring berjalannya waktu kebersamaan dan dari setiap peristiwa yang dialami bersama sang guru.

Yang kedua tentang iman. Peristiwa alam yang terjadi saat itu di mana laut yang bergelora, melambangkan kuasa kekacauan melawan Allah, badai sebagai gempa eskatologis,  dan perahu sebagai lambang Gereja-Nya. Kekacauan itu menimbulkan ketakutan, kekhawatiran para murid. Mereka bergegas menemui Yesus dan berseru: “…. Tuhan, tolonglah, kita binasa.” (Mat 8:25). Inilah doa iman para murid. Mereka mengakui Yesus adalah Tuhan yang sanggup mengatasi situasi saat itu. Tetapi kata Yesus: “Mengapa kamu takut? Kamu yang kurang percaya?” (Mat 8:26). Meskipun para murid memiliki iman kepada Yesus, tetapi mereka belum sepenuhnya mengenal siapa Yesus. Nyatanya mereka masih takut dan kuatir meskipun mereka sedang ada bersama Yesus di dalam satu perahu. Mereka masih harus menempuh perjalanan jauh untuk memiliki  iman yang sempurna. Seperti yang terungkap dari kata-kata mereka setelah Yesus membuat laut kembali tenang; “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan lautpun taat kepada-Nya?” (Mat 8:27)

Ketiga, Yesus adalah Tuhan. Dalam kepanikan situasi yang dialami para murid saat itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai penguasa atas segala sesuatu. Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. (Mat 8:26).

Peristiwa alam saat itu seakan melambangkan situasi Gereja dalam perjalanannya ke depan. Baik Gereja sebagai tubuh Kristus maupun Gereja sebagai individu jemaatnya. Bagaimana sikap iman kita ketika menghadapi situasi yang seakan tidak mampu kita atasi, menentukan seberapa sempurna iman kita kepada Yesus yang adalah Tuhan.

Mari terus berjalan menyempurnakan iman melalui setiap proses dalam kehidupan kita. Sampai tidak ada lagi rasa khawatir atas apapun yang sedang dan akan terjadi atas hidup kita. Sebab Yesus selalu dan selamanya ada bersama kita seperti yang telah disabdakan-Nya: “….Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 8:20b).

Tuhan memberkati.

ANS

Image result for Matthew 8:25