Pertumbuhan Iman dalam Komunitas

Renungan Senin 3 Juli 2017, Pesta Santo Tomas

Bacaan: Ef. 2:19-22; Mzm. 117:1,2; Yoh. 20:24-29

“Tanpa melihat pun, aku tetap percaya.”

Ungkapan iman ini timbul ketika saya menghadiri misa Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Berbagai macam analogi dipakai untuk menjelaskan Allah Tritunggal, namun tetap tidak ada satu pun yang bisa dipakai untuk menggambarkan dengan tepat. Iman ini saya peroleh bukan dari hasil usaha saya, melainkan sebagai anugerah besar yang Tuhan berikan kepada saya. Dan pertumbuhan iman saya alami karena hidup bersekutu dalam persekutuan umat beriman.

“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19)

Teringat ketika saya tidak hidup bersatu dengan Gereja dan komunitas kristiani, iman sama sekali tidak bertumbuh, bahkan bisa dikatakan mati. Tepat seperti ilustrasi tentang sebatang kayu bakar membara yang terpisah dari kumpulan kayu lainnya.

Demikian kisahnya. Pada waktu musim dingin, seorang imam datang ke rumah salah seorang umat yang tidak pernah bergabung dengan paroki dan tidak pernah hadir di misa maupun kegiatan lingkungan. Sambil berbincang santai, imam itu mengambil sebatang kayu bakar dari tempat perapian yang ada, lalu meletakkannya di lantai. Tak lama kemudian bara kayu itu padam. Tuan rumah heran dan menanyakan apa maksud perbuatan imam itu. “Demikianlah setiap orang beriman, bila dia hidup sendirian, terasing dari komunitas beriman, akan mengalami seperti sebatang kayu bakar yang tergeletak di lantai itu.”

Kini telah ada begitu banyak persekutuan umat dalam Gereja Katolik. Yang menjadi tantangan adalah membangun persekutuan yang dapat membantu sesama memjumpai Tuhan Yesus yang bangkit, sehingga sekalipun tidak melihat bukti, namun percaya.

Dari peristiwa yang dikisahkan Injil hari ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar persekutuan di mana kita berada dapat memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan iman.

  • Kesaksian “Kami telah melihat Yesus”. Masih adakah semangat dan spontanitas tiap anggota dalam menceritakan perjumpaan dengan Tuhan Yesus? (Rasul-rasul bercerita kepada Tomas tentang kedatangan Yesus di tengah mereka).
  • Tetap bersama dan menyatu. Sekali pun ada anggota yang tidak sehati sependirian, masihkah ada kasih dan pelukan kebersamaan , karena tiap orang adalah berharga? (Delapan hari kemudian Tomas tetap bersama mereka, sekali pun dia menunjukkan ketidak percayaan terhadap kesaksian saudara-saudaranya).
  • Tidak ada nafsu mementingkan diri sendiri. Apakah tiap anggota memiliki kerinduan besar menolong setiap orang mengalami pertumbuhan iman dan memperoleh kesempatan bertemu Yesus?

Semoga semua komunitas dalam Gereja melahirkan para Tomas yang pada saatnya percaya bahwa sesungguhnya Yesus sudah bangkit dan hidup selamanya. Semoga semua komunitas dalam Gereja menjadi tempat di mana setiap umat selalu memuji dan memegahkan nama Allah. Sebab kasih-Nya hebat dan kesetiaan Tuhan untuk selama-lamanya. Haleluya!

Doa: Roh Kudus, teruslah membangun komunitas kristiani yang sehat dan sejati bagi kemuliaan Allah Bapa. Amin.

-ips-