Pengharapan Orang Percaya

Renungan Minggu 16 Juli 2017

Bacaan: Yes. 55:10-11Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13,14Rm. 8:18-23Mat. 13:1-23

Tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. (Rm 8:21)

Setiap orang pasti mempunyai pengharapan tersendiri di dalam hidupnya. Pengharapan itu biasanya berupa suatu keadaan hidup yang lebih baik dari saat ini. Jika tanpa pengharapan orang akan menjalani hidupnya asal-asalan, monoton dan tanpa semangat.

Siapakah di antara kita yang tidak ingin menjadi orang yang sukses, mapan dan bermasa depan cerah? Itulah sebabnya kita mulai merancang/merencanakan segala sesuatunya sejak dini, agar apa yang kita harapkan menjadi kenyataan. Sebagai orangtua kita pasti memiliki pengharapan yang besar terhadap anak-anak kita supaya mereka sukses dalam studi juga karir. Begitu juga sebagai orang muda, mungkin ia memiliki harapan-harapan dalam hidupnya seperti pekerjaan yang mapan, punya rumah dan mobil, serta memiliki pasangan hidup sesuai yang diinginkan. Itu adalah gambaran pengharapan semua orang selama hidup di dunia ini, padahal kita tahu bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara (tidak kekal).

Maka dari itu adalah bijak bagi kita sebagai orang percaya untuk melihat pengharapan dari sudut pandang yang benar, yaitu sudut pandang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Alkitab mencatat bahwa tujuan dari iman itu sesungguhnya adalah keselamatan jiwa, dan itulah yang ditulis di dalam;

I Petrus 1:9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Jadi, kita yang telah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus telah memiliki kepastian keselamatan dan kehidupan yang kekal.  Hal ini seharusnya menjadi pengharapan yang kokoh bagi kita untuk menjalani kehidupan di dunia ini.  Karena itu kita tidak perlu takut dan kuatir akan hidup kita. Masalah, penderitaan, tantangan dan cobaan hidup hendaknya tidak membuat kita menyerah dan putus asa, lalu berpaling dari Injil. Tetapi justru kita harus tetap taat dan mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (Filipi 2:12), karena “…penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”  (Roma 8:18).

Memiliki pengharapan tanpa disertai dengan dasar yang kuat tidak akan berarti apa-apa. Dan dasar dari pengharapan itu adalah iman, yang mana dengan jelas dikatakan bahwa “…iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”  (Roma 10:17).

Sahabat, Injil hari ini menjelaskan bahwa tanpa benih firman yang tertanam tidak akan pernah ada pertumbuhan iman dan buah yang dihasilkan dalam kehidupan kita. Karena pengharapan itu sendiri timbul dari iman maka kita harus membuat keputusan untuk hidup dalam firman di segala aspek kehidupan kita, artinya rela untuk taat dan menyesuaikan hidup dengan firman. (Matius 13:1-23).

Iman dan pengharapan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan saling berkaitan satu sama lain. Iman berarti percaya kepada Tuhan dan firman-Nya, sedangkan pengharapan berarti menantikan jawaban dan pertolongan dari Tuhan dengan tekun dan sabar. Pengharapan inilah yang mendorong kita untuk terus-menerus berelasi dengan Tuhan siang dan malam, melalui doa dan firman-Nya.

Semakin kita tinggal tetap di dalam firman-Nya semakin kita mengetahui kebenaran-Nya, dan kebenaran itu yang akan memerdekakan kita. Firman Tuhan bukanlah seperti sebuah cerita fiksi yang bila habis dibaca satu atau dua kali kita letakkan atau simpan bukunya. Firman Tuhan itu hidup dan berkuasa mengubah hidup kita. Oleh karena itu, kita harus bertekun dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan karena firman-Nya memberi hikmat, menuntun kita kepada keselamatan dan membawa kita kepada keberhasilan. demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”  (Yesaya 55:11).

Sahabat, dari kebenaran ini, kita bisa mengerti sekarang bahwa pengharapan orang percaya sesungguhnya bukanlah semata-mata hanya persoalan kebutuhan jasmani, tetapi lebih dari pada itu, yaitu keselamatan jiwa kita di kekekalan nanti. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.(FHM)

Image result for hope