Mendengar Kabar Baik Adalah Hak Setiap Orang

Renungan Kamis 13 Juli 2017

Bacaan: Kej. 44:18-21,23b-29; 45:1-5Mzm. 105:16-17,18-19,20-21Mat. 10:7-15

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. (Mat 10:7-8)

Firman dari Injil hari ini menggambarkan dengan jelas bahwa Tuhan Yesus Kristus mengutus kita, para murid-Nya untuk memberitakan Kabar Baik Kerajaan Allah. Dalam Kerajaan Allah ada keselamatan dan pembebasan bagi setiap orang. Tuhan Yesus menginginkan semua orang mengetahui, menerima dan mengalami keselamatan itu.  Atau dengan perkataan lain; Tuhan Yesus dengan penuh kasih memberikan hak kepada setiap orang untuk memperoleh keselamatan dan pembebasan yang ditawarkan-Nya. Kita, orang yang percaya diminta mewartakan Kabar Baik itu karena mendengarkan Kabar Baik merupakan hak setiap orang. Bila kita tidak mewartakan Kabar Baik itu, maka sebenarnya kita telah merampas hak orang lain tersebut.

Agar kita dapat menjalankan tugas perutusan itu, Tuhan Yesus memberi kita bekal dan kemampuan agar kita dapat mewartakan Kabar Baik Kerajaan Allah dengan berani. “Bekal dan kemampuan” ini mengingatkan kita kembali akan pengajaran di kelas Misi Evangelisasi Bab 2 mengenai Evangelisasi – Pendalaman yaitu tentang Petunjuk Yesus Secara Khusus (Instruksi Sang Guru).Image result for matthew 10:7

Dengan pemberian “bekal dan kemampuan” itu, kita diminta tidak mengandalkan kekuatan manusiawi kita, namun kita bersandar penuh pada kuasa-Nya. Bukan pada “kehebatan” kita dalam mewartakan Kabar Baik, namun pada ketaatan, kesetiaan dan ketekunan kita terhadap tugas perutusan-Nya; mewartakan kehadiran Kerajaan Allah dalam diri Yesus kepada semua orang, karena hal ini merupakan hak setiap orang untuk mendengarkannya.

Dan kita dapat mulai mewartakan Kabar Baik dalam lingkup yang terdekat dengan kehidupan kita; keluarga, pekerjaan dan para sahabat di lingkungan, wilayah kita. Memulai dengan cara yang paling sederhana; mengasihi keluarga dan sesama yang terdekat dengan kita. Menjaga sikap, tuturkata kita untuk tidak menyakiti hati mereka. Memaafkan dan mengampuni kesalahan mereka, seperti yang dilakukan Yusuf kepada para saudaranya. (Kej 45:1-2) sehingga dapat menyembuhkan luka batin diri kita maupun mereka yang terdekat dengan diri kita.

Dahulu saya kurang suka bila mendengar seorang teman atau kerabat saya menceritakan keselamatan hanya melalui Yesus Kristus. Ketika mendengar hal itu, pikiran saya selalu menuduh mereka arogan, sok benar sendiri, menutup mata terhadap keyakinan yang lain.

Namun saya beruntung. Tuhan memindahkan saya ke kota Surabaya. Dan singkat kata, saya boleh bergabung dalam Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) dan mengikuti pelajaran sampai dengan kelas Ajaran Gereja Katolik (AGK). Saya benar-benar beruntung karena lewat pengajaran-pengajaran yang diberikan, saya disadarkan bahwa keselamatan hanya melalui Tuhan Yesus Kristus. Oleh anugerah kasih-Nya, Ia memberikan kepada semua orang hak untuk memperoleh keselamatan dan pembebasan dari pada-Nya. Bila sekarang saya boleh terlibat mewartakan Kabar Baik Kerajaan Allah kepada banyak orang, selain karena saya sendiri telah mengalami kasih-Nya yang menyelamatkan diri saya, juga karena mendengarkan dan memperoleh keselamatan adalah hak setiap orang.

Terima kasih Tuhan Yesus Kristus. Engkau telah memilih dan mengijinkan diri saya untuk terlibat dalam tugas perutusan mewartakan Kabar Baik dan menjadi saksi-Mu. Biarkanlah setiap hari saya dapat menghampiri diri-Mu sebagai sumber sukacita yang sejati, agar saya pun dapat membagikan sukacita dan kasih-Mu kepada banyak orang di sekitar kehidupan saya. Bantulah diri saya untuk dapat terus melekat erat kepada-Mu supaya saya dapat taat, setia dan tekun melakukan tugas perutusan-Mu. Amin.

Tuhan memberkati.

Set