Menabur Yang Benar

Renungan Sabtu 8 Juli 2017

Bacaan: Kej. 27:1-5,15-29; Mzm. 135:1-2,3-4,5-6; Mat. 9:14-17

Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. (Mat 9:16)

Shalom sahabat-sahabat SEP dan KEP,

Bacaan liturgi hari ini mengingatkan kita kembali, hidup seperti apa yang sedang kita jalani. Apa yang sedang terjadi saat ini, tidak terlepas dari taburan di waktu lalu. Apa yang kita harapkan terjadi di waktu yang akan datang, kita perlu menaburnya mulai dari saat ini.

Dalam bacaan pertama, kita melihat tindakan Yakub yang menipu ayahnya untuk memperoleh berkat anak sulung. Tindakan Yakub ini mendatangkan penderitaan di dalam hidup Yakub di waktu yang akan datang. Relasi persaudaraan dua anak kembar ini, Esau dan Yakub menjadi rusak. Yakub hidup di dalam ketakutan akan pembalasan saudaranya, sehingga dia harus lari dari orang tuanya. Seumur hidup tidak lagi pernah berjumpa dengan orang tuanya. Yakub lari ke rumah pamannya, Laban, saudara Ribka ibunya. Di sana Yakub ditipu oleh Laban. Bekerja selama 7 tahun tanpa dibayar untuk dapat menikah dengan Rachel anak Laban, ternyata saat pernikahan, yang diberikan Lea, kakak Rachel. Yakub harus bekerja selama 7 tahun lagi tanpa dibayar untuk dapat menikah dengan Rachel. Yakub juga ditipu oleh anak-anaknya yang mengatakan, bahwa Yusuf anak kesayangannya sudah meninggal diterkam binatang buas, sehingga mendatangkan kesedihan yang sangat mendalam bagi Yakub.

Sungguh sangat menyedihkan, penderitaan yang terjadi hanya karena tuaian dari taburan yang salah di waktu lalu. Padahal saat di dalam kandungan Ribka, Allah telah menyampaikan nubuat tentang bayi kembar ini kepada orang tuanya, bahwa  dua suku bangsa ada dalam kandungan Ribka dan anak yang tua akan menjadi hamba bagi anak yang muda (Kej 25:21-23).

Setelah dewasa, saat Esau lapar, dia pun menjual hak kesulungannya kepada Yakub dengan ditukar roti dan semangkuk kacang merah (Kej 25:29-34). Hak kesulungan ini sah telah menjadi milik Yakub. Sayangnya, untuk memperoleh ucapan berkat dari ayahnya, Yakub dan ibunya telah melakukan satu penipuan yang menimbulkan penderitaan di dalam hidup mereka.

Rencana Allah tetap terjadi di dalam hidup Yakub, terlepas dari kelemahan dan keterbatasan manusiawi Yakub. Belajar dari kehidupan Yakub ini, kita dapat menjauhkan penderitaan-penderitaan yang sebetulnya tidak perlu terjadi, dengan melakukan taburan yang benar.

Bagaimana jika sudah terlanjur salah di dalam menabur di waktu lalu? Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi kita dapat berharap kepada Allah. Kasih karunia Allah lebih besar dari hukum tabur tuai. Berdamailah dengan Allah dengan mengakui dosa-dosamu melalui Sakramen Tobat (1Yoh 1:9) dan berdamailah dengan sesamamu dengan saling mengaku dosa dan saling mendoakan (Yak 5:16), dan hadapilah bersama-sama dengan Allah kehidupan yang sedang terjadi saat ini.

Belajarlah mengharapkan tuaian yang baik di waktu yang akan datang dengan melakukan sesuai bacaan Injil dan mazmur tanggapan hari ini. Tuhan Yesus melalui contoh kain baru yang belum susut dan baju yang tua, serta anggur baru dan kantong yang tua, mengajarkan, agar hidup baru kita tidak dicampur aduk dengan hidup lama yang dikuasai dosa, karena hanya akan mendatangkan kerugian bagi kita.

Seperti yang diungkapkan di mazmur hari ini, yang perlu kita lakukan adalah mengakui kebesaran dan kebaikan Tuhan melalui perkataan dan perbuatan kita. Tuhan mampu mewujudkan rencana-Nya di dalam hidup kita, seperti yang telah dilakukan-Nya dalam hidup Yakub.

Marilah kita memuji dan bermazmur bagi nama-Nya, melayani Dia. Hidup yang berpusat pada Tuhan, pada rencana-rencana-Nya, bukan berpusat pada diri sendiri yang terbatas, sehingga menghalalkan segala cara. Ingatlah, apa yang kita tabur, akan mendatangkan tuaian yang berlimpah. Mari kita menabur kasih dan hidup benar, dan melakukannya sesuai dengan Firman Tuhan, seperti bait Pengantar Injil hari ini, Yoh 10:27, “Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.”

Doa: Allah Roh Kudus, penuhi dan pimpin seluruh hidup kami, sehingga berkenan pada Bapa, hidup yang memuliakan Tuhan Yesus dan membawakan kehidupan-Nya kepada sesama. Demi Kristus. Amin.

Berkat kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus beserta kita. Sekarang dan selama-lamanya. Amin.

(HLTW)