Masihkah Perlu Tanda

Renungan Senin 24 Juli 2017

Bacaan: Kel. 14:5-18; MT Kel. 15:1-2,3-4,5-6; Mat. 12:38-42

Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. (Mat 12:39)

Yunus berkhotbah kepada orang Niniwe, mereka tidak meminta tanda, tapi mereka mendengarkan seruannya dan mereka bertobat dari dosa-dosa mereka. Mereka peka dan patuh terhadap pemberitaannya. Mereka sadar bahwa Yunus mengatakan kebenaran. Bagi mereka kebenaran itu sudah cukup dan orang Niniwe percaya kepadanya. Image result for this is a good sign

Para ahli Taurat dan orang Farisi para intelektual Yahudi dan elitenya, sekalipun mereka telah melihat Yesus banyak membuat mukjizat dan tanda heran, mereka masih meminta tanda sebagai wujud ketidakpercayaan mereka kepada orang yang mereka panggil dengan sebutan Guru. Namun Yesus tidak menolak tuntutan mereka akan tanda ajaib sebagai bukti kebenaran ucapan tentang diri-Nya. Dia berikan sebuah tanda yang bila diterima dengan iman akan membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana nabi Yunus tinggal dalam perut ikan tiga hari tiga malam lamanya, demikian juga Yesus selama tiga hari tiga malam dalam makam, wafat dan bangkit itulah tanda Tuhan Yesus. Tetapi karena tegar tengkuk, mereka menolak ajaran Ilahi yang terkandung dalam tanda yang diberikan Tuhan Yesus tersebut.

Dari kitab suci kita tahu justru kaum miskin, kaum yang bukan cerdik pandai, pelacur dan mereka-mereka yang tersisihkan, mereka percaya tanpa suatu tanda apa pun dari Tuhan Yesus sehingga Tuhan Yesus mengulurkan tangan memberikan tanda ajaib berupa kesembuhan dan kehidupan kepada mereka.

Bagaimana dengan kita?

Apakah untuk percaya kepada Tuhan Yesus kita juga memerlukan sebuah tanda?

Dapatkah kita seperti bunda Maria yang ketika menerima kabar dari malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung, meskipun tidak mengerti tetapi Bunda Maria menunjukkan imannya tanpa meminta suatu tanda apa pun, berpasrah dengan mengatakan “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”?

Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mendengar sabda Tuhan, entah kita sendiri membacanya atau mendengar ketika dibacakan di gereja atau dari radio, tetapi mengapa kadang-kadang sulit bagi kita untuk beriman dengan benar? Kadang kita terbawa arus, senang bila menyaksikan suatu tanda yang spektakuler dari seseorang dan kita mengagumi orangnya bukan sumbernya.

Doa: Tuhan aku merindukan sebuah kehidupan yang selalu dekat dengan-Mu. Anugerahkanlah Roh Kudus agar membimbing aku untuk tidak menuntut suatu tanda, tetapi agar tanpa tanda pun aku rela berubah ketika mendengar suara-Mu memanggilku. Amin. (LKME)