Komitmen Seorang Murid

Renungan Sabtu 15 Juli 2017

Bacaan: Kej. 49:29-32; 50:15-26aMzm. 105:1-2,3-4,6-7Mat. 10:24-33

Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. (Mat 10:28)

Dalam perikop ini Tuhan Yesus memberikan jaminan kepada para murid agar mereka berani dan bersemangat dalam tugas perutusan yang mereka terima yaitu:

  1. Penderitaan yang mungkin akan mereka alami, tidak akan melebihi dari apa yang telah diterima Tuhan Yesus di dunia ini.

Dalam Mat 10:24-25 Tuhan Yesus menggambarkan: “Seorang murid tidak lebih dari gurunya”, “Seorang hamba daripada tuannya” ataupun “Tuan rumah dan seisi rumah” sebagai hubungan diri-Nya dengan murid-murid-Nya. Kalau pun mereka harus menerima penolakan dan penganiayaan tidak akan melebihi dari apa yang telah diterima Tuhan Yesus.

  1. Jaminan kehidupan

Mengenai keselamatan Tuhan Yesus pastikan bahwa keselamatan hidup mereka akan dijamin Allah. Sebab yang memanggil dan yang mengutus mereka adalah Allah. Apapun yang ada di dunia ini semuanya adalah sepengetahuan Allah, sampai “rambut di kepala” Tuhan mengetahuinya. Tuhan memastikan pemeliharaan kehidupan murid-murid-Nya dari Allah.

  1. Penderitaan yang mungkin akan mereka terima, tidak akan dapat dibandingkan dengan hukuman bagi mereka yang menolak kesaksian mereka.

Tuhan mengingatkan kembali untuk jangan takut kepada yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa (Mat 10:28), sebab hanya Allah sajalah yang berkuasa membunuh jiwa dan tubuh. Oleh sebab itu, kalau pun mereka akan menerima suatu penganiayaan, mereka harus menyadari bahwa itu tidak akan sebanding dengan yang akan mereka dapatkan yaitu hukuman dari Allah yang akan membunuh baik tubuh maupun jiwa mereka.

Panggilan ini bukan hanya kepada kedua belas murid Yesus, tetapi kepada kita juga orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Tuhan memanggil kita untuk memberitakan kabar sukacita dari Tuhan sebagai mana kita adalah satu tubuh-Nya. Dalam kehidupan kita sebagai orang kristen tidak jarang kita akan menghadapi tantangan mulai dari hal-hal kecil sampai di luar batas kemampuan kita. Namun demikian ada hal yang harus kita ingat bahwa Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan untuk membenci mereka, namun kita juga jangan jadi takut, sehingga kita tidak terjerumus dalam sikap fanatik yang picik dengan mengabaikan amanat agung Tuhan Yesus yaitu kasih dan pengampunan.

Melalui perikop ini Tuhan menggugah komitmen kita sebagai pengikut-Nya, bagaimana kasih kita kepada Allah? Apakah kasih kita kepada-Nya sudah seutuhnya? Apakah kita telah menempatkan Tuhan di atas segalanya? Sebab bagaimana kita mampu untuk memberitakan Injil Kristus dalam kehidupan kita jika belum mampu menguasai diri sendiri atas godaan-godaan kehidupan ini. Sebab itu, sebelum kita menghadapi tantangan dari luar kita harus mampu memenangkan tantangan dari diri sendiri untuk mengalahkan keinginan daging.

Sehingga komitmen kita mengikut Yesus sangat jelas. Apakah kita berani mengakui Yesus di depan manusia? Mengaku tidak hanya kata, tetapi lebih dari itu adalah mengakui Yesus dalam perbuatan dan tindakan kita. Bagaimana kita berani menyatakan kebenaran di tengah-tengah hidup yang tidak benar; bagaimana menyatakan kasih di tengah-tengah kebencian; bagaimana kita berani menyatakan teguran dalam situasi yang salah; bagaimana kita menyatakan belas kasih di tengah-tengah hidup yang membutuhkan uluran tangan kita; bagaimana kita mampu untuk memaafkan orang yang menyakiti kita; bagaimana kita mampu menyatakan iman kita ketika kita digoda untuk menyangkal iman. Di sinilah Injil Kristus kita beritakan. (SWW)

Image result for it's about commitment