Kasih Allah Bapa

Renungan Harian Rabu 5 Juli 2017

Bacaan: Kej. 21:5,8-20; Mzm. 34:7-8,10-11,12-13; Mat. 8:28-34

Dalam bacaan pertama dan Injil, bagaimana Tuhan Allah memperlakukan orang-orang yang tidak disukai ataupun tidak dihargai dianggap sebagai pengganggu orang-orang di sekitarnya dan dianggap sebagai orang-orang berdosa yang harus dijauhi, disingkirkan atau dihujat.

Dalam Kejadian 21:9: Pada suatu hari, Ismael, anak Abraham dan Hagar wanita Mesir itu, sedang bermain-main dengan Ishak, anak Sara. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”

Apa yang ada dalam perasaan dan pikiran kita, dan bagaimana kita memandang, menemui atau memperlakukan seorang seperti Hagar pembantu Sara yang mempunyai anak keturunan dari tuannya (suami Sara) dan harus hidup serumah, atau bagaimana sikap kita kepada kedua orang yang kerasukan setan dan sangat bahaya?

Kondisi  seperti ini banyak terjadi dalam kehidupan kita sehari–hari. Dalam satu sisi keberadaan orang-orang di sekitar kita yang melakukan perbuatan yang sangat menyakiti hati dan perasaan kita seperti yang Sara alami dan rasakan. Timbulnya perasaan terancam, khawatir atau tidak aman dan tidak nyaman dengan keberadaan mereka yang tidak normal dan buas di sekitar kehidupan kita. Maka tanpa terkendali, berbagai reaksi, tindakan dan kelakukan kita telah melampiaskan banyak yang buruk kepada mereka. Menjadikan mereka manusia yang terbuang, terpuruk, tersendiri, dikucilkan, diolok-olok dianggap sebagai manusia pengganggu ataupun berdosa.

Tanpa sadar sebenarnya bukankah kita pun lebih buruk dari orang-orang yang kita anggap buruk itu. Seperti tertulis dalam Matius 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Demikian pula terjadi pada diri saya sebagai manusia. Sering terjadi perasaan tidak suka; tidak senang; menolak  dan saya memiliki pikiran–pikiran yang negatif tentang mereka seperti di atas yang mengganggu kehidupan kenyamananku .

Sebagai manusia yang belum mengenal Tuhan Yesus, saya juga melakukan tindakan-tindakan dan sikap menghakimi, membenci, menjauh, membuang atau meninggalkan mereka yang menurut saya tindakan ini, baik dan aman bagi saya dari orang-orang yang telah menyakiti, merugikan, menipu saya dan saya anggap telah menghancurkan dan merusak kehidupan saya.

Karena saya anggap diri saya lebih baik dari mereka, saya bukan awal penyebab dan saya tadinya telah melakukan banyak hal yang baik bagi mereka. Saya mencoba melupakan dan terus berjalannya dalam kehidupan saya dengan segala ketidaknyamanan batin. Tetapi ternyata sakit atau luka di hati ini bagaikan luka yang meradang terinfeksi. Mudah sakit bila tersinggung sedikit. Seperti di 1 Kor 3:3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? Perasaan dan pikiran kebencian dan dendam makin berkembang, bahkan saya tak terkendalikan membalas dengan melampiaskan dalam kata-kata yang tak layak dan perbuatan yang tidak pantas, terlebih hati dan pikiran yang tanpa adanya pengampunan bagi mereka. Mata hati saya sungguh gelap dan buta. Benar seperti Santo Paulus tertulis di 1 Kor 2:14 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Dalam renungan hari ini, saya belajar terus melihat Hati Allah Bapa yang lebih dalam. Hati Allah Bapa dari dulu sampai sekarang mempunyai hati yang penuh berbelas kasih, membebaskan, melindungi, menyediakan, memelihara, memberkati Hagar dan anaknya. Yesus membebaskan dan melepaskan mereka dari setan yang merasuki mereka. Hati Bapa dan tindakan-Nya hanya mau membebaskan manusia dari kegelapan dosa. Saya makin memahami kasih Allah Bapa yang begitu besar bagi manusia. 

Proses kondisi kehidupan berubah setelah saya mengenal Kristus, meskipun tetap menjalani dan mengalami berbagai masalah kehidupan yang cukup berat dan berhadapan dengan berbagai karakter dan kondisi orang, tetapi saya dapat merasa pembentukan dalam diri saya dalam tuntunan-Nya, berjalan bersama-Nya dalam doa dan bersyukur boleh belajar dalam bimbingan-Nya jatuh bangun. Bertahap saya dapat mengubah hati saya yang penuh luka dan amarah. Saya makin menyadari hanya karena kerahiman dan kasih karunia Allah Bapa yang terus menuntun, membangunkan saya terus-menerus untuk belajar lebih mengenal-Nya dalam proses kehidupan bersama Roh Kudus dalam hidup saya. Proses bertahap ini melembutkan hati yang keras. Setiap Firman mengobati luka-luka dan memberi harapan baru, suatu pandangan baru dalam kehidupan, timbulnya harapan baru, iman dan kasih yang mau memberi dan membagi kasih.

Hati yang penuh rasa kepedihan, amarah dan kebencian telah digantikan-Nya dengan suka cita yang penuh kasih.

 

WyN

Image result for father's love