Hati Yang Berbelas Kasih

Renungan Selasa 11 Juli 2017

Bacaan: Kej. 32:22-32Mzm. 17:1,2-3,6-7,8b,15Mat. 9:32-38

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat 9:36)

Saat berada di dunia, Yesus tidak pernah berhenti untuk bekerja. Dia berkeliling ke semua kota dan desa, melayani orang-orang yang datang kepada-Nya. Dengan kesibukan yang padat, di tengah kelelahan-Nya, semangat Yesus tidak menjadi kendor. Dia terus berkarya, tetap berusaha melayani secara optimal untuk memberitakan Kerajaan Surga dan mengulurkan tangan menolong mereka yang sakit dan yang lemah. Kita membaca dalam Kitab Suci bahwa semua tindakan Yesus ini seringkali digerakkan dan didorong oleh sesuatu dari dalam hati-Nya yaitu belas kasihan yang diwujudkan melalui suatu tindakan. Belas kasih yang tulus dan tidak mengenal lelah, walaupun Yesus harus menghadapi pertentangan-pertentangan.

Sebagai contoh dalam bacaan hari ini, ketika Yesus menyembuhkan orang bisu yang kerasukan setan, Yesus dicurigai menggunakan kuasa penghulu setan. Sungguh suatu tantangan yang tidak mudah, namun Yesus mampu untuk tetap melanjutkan karya pelayanan-Nya dengan konsisten. “…Anak manusia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani….” (Mat 20: 28).

Dalam perjalanan hidup ini kita juga mengalami kelelahan, merasakan kepenatan saat menghadapi masalah demi masalah, keterlantaran karena tidak tahu arah yang harus dituju, kebingungan untuk menentukan pilihan atau keputusan yang harus diambil. Di dalam kelelahan dan keterlantaran inilah, Tuhan Yesus “memandang”  kita dengan hati-Nya yang penuh belas kasihan. Belas kasih yang melayani dan menyelamatkan. Dan inilah yang menjadi dasar kekuatan bagi kita dalam mengarungi hidup ini.

Karena itu, Yesus juga menghendaki kita, murid-murid-Nya meneladan Dia. Karena dengan belas kasih yang kita terima, kita akan dimampukan untuk juga berbelaskasih kepada orang lain yang membutuhkan.

Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:37-38)

Ungkapan ini muncul karena saat itu Yesus prihatin terhadap orang-orang yang mengerumuni-Nya baik untuk mendengarkan ajaran-Nya maupun yang mohon disembuhkan dari penyakit dan kelemahan. Dikatakan “mereka seperti domba tanpa gembala”.

Tidak hanya 2000 tahun lalu, saat ini pun kita dapat melihat dan menemukan banyak orang di sekitar kita yang “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. Mereka mengalami kebingungan, kesedihan, kehausan, keputusasaan, kelelahan, ketakutan; yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita. Yesus pun mengajak kita untuk memiliki compassion, perasaan menderita bersama, empati terhadap sesama kita. Untuk bisa sampai pada tahap ini maka kita harus mampu mengalahkan ego kita, meninggalkan kepentingan diri sendiri dan melihat orang lain sebagaimana Yesus melihat dia. Kita dapat berbelaskasihan dengan menyediakan telinga yang mau mendengar, menyampaikan kata-kata yang menguatkan, menunjukkan sikap baik dan apabila terbuka kesempatan bisa juga terjadi evangelisasi bagi mereka yang belum mengenal Kristus ataupun re-evangelisasi bagi saudara seiman kita yang “terhilang”. 

Kepada siapa pun yang tersesat dan terlantar seperti domba tanpa gembala…

“….mintalah kepada tuan yang mempunyai tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”

Aspek doa juga merupakan unsur yang sangat penting karena Tuhan sendirilah yang mempunyai pekerja-pekerja itu. Maka doa ini tidak hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri kita, sebab kita pun harus merasa ikut dipanggil menjadi pekerja-Nya. Pekerja yang mau bekerja dengan hati yang rela untuk membagikan kasih Tuhan yang sudah kita terima.

Ingat, setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi kita selalu diundang untuk menerima tugas perutusan; “Pergilah kita diutus” dan kita menjawab “AMIN”.

Apakah kita sungguh siap diutus?

Apakah kita siap untuk menjadi pekerja-Nya?

Jangan berhenti berdoa mohon panggilan, supaya kita menjawab panggilan itu bukan karena kehendak pribadi dengan motivasi tertentu, melainkan Roh Kudus yang meneguhkan kita supaya mampu menjawab panggilan-Nya dengan menjadi pekerja yang memiliki hati yang berbelas kasih terhadap sesama.

Tuhan memberkati kita semua. (MFBD)

Image result for compassionate heart