Tangan Kosong

Renungan Rabu 21 Juni 2017, Peringatan Wajib St. Aloysius Gonzaga

Bacaan: 2Kor. 9:6-11; Mzm. 112:1-2,3-4,9; Mat. 6:1-6,16-18

Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. (Mat 6:1)

Jika kita renungkan bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajak kita memberi sedekah, berdoa dan berpuasa, atau lebih luas lagi termasuk pelayanan dan perbuatan baik kita, bukan untuk berkenan kepada manusia, bukan supaya dilihat orang dan dipuji orang; tetapi Tuhan Yesus mengajak supaya kita melakukan segala kewajiban agama dan melakukan segala sesuatu yang baik untuk berkenan kepada Allah, dan supaya Bapa yang di tempat yang tersembunyi yang melihatnya dan membalasnya (Mat 6:4,6,18).

Dewasa ini kita hidup di era digital, di mana perkembangan media sosial sangat luar biasa. Sudah menjadi ‘makanan sehari-hari kita’ yang namanya WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, dsb.. Setiap orang di media sosial ini berkeinginan bercerita tentang dirinya, pikirannya, keluarganya, pekerjaannya, liburannya, pilihan politiknya, bahkan di dunia rohani pun, kita ingin menampilkan kelompok dan pelayanan kita.

Termasuk saya akhir-akhir ini sangat bersemangat posting tentang “Tahun Yubileum Emas Pembaruan Karismatik Katolik” (Golden Jubilee CCR) yang dirayakan secara meriah di Roma pada hari raya Pentakosta 4 Juni 2017 yang lalu, dan tentunya karena tahun Yubileum, maka dapat dirayakan kapan saja selama setahun ini.

Saya begitu bersemangat karena di tengah lesunya perekonomian karena hujan yang berkepanjangan bulan Februari yang lalu, saya terus berdoa karena khawatir akan kewajiban-kewajiban yang harus dibayar. Waktu itu tanggal 17 Februari 2017, sambil berdoa saya melihat kalender harian, seperti diingatkan ini tanggal kelahiran Pembaruan Karismatik Katolik (PKK), lalu saya lihat di slide pengajaran yang berkaitan dengan sejarah dan spiritualitas PKK. Dianggap sebagai titik awal PKK, yaitu tanggal 16-18 Februari 1967 dengan diadakan retret akhir pekan yang diikuti kurang lebih 30 orang (mahasiswa dan dosen) di Universitas Duquesne, Pittsburgh, California, Amerika Serikat.

Tahun 1967 sampai 2017 berarti 50 tahun, langsung saya berpikir bahwa ini adalah suatu perayaan yang istimewa. Lalu saya mencari di google tentang “duquesne”, sampai akhirnya menemukan website perayaan golden jubilee ini (http://www.ccrgoldenjubilee2017.org/). Semakin mencari semakin menemukan bahwa Golden Jubilee ini sudah dipersiapkan sejak April 2016, ketika dua badan internasional PKK, yaitu ICCRS dan Catholic Fraternity bertemu dengan Paus Fransiskus, dan akan dirayakan secara meriah untuk seluruh Gereja Kristus pada hari raya Pentakosta 2017. Saya menjadi bersemangat dan menggebu-gebu (walaupun toko sedang sepi saat itu). 

Beberapa waktu kemudian saya seperti didorong untuk menyampaikan kepada kelompok-kelompok PKK supaya diadakan perayaan ini, kemudian saya whatsapp  pengurus BPK, pelayan KTM, baik di tingkat pusat dan provinsi. Lalu ternyata, puji Tuhan, hal ini ditanggapi dengan baik, dengan dibuatnya acara-acara berkaitan dengan Golden Jubilee ini. Saya juga sangat berterima kasih karena ada yang tergerak untuk menuliskan teks Bahasa Indonesia untuk refleksi tiap bulan di youtube sebagai persiapan Golden Jubilee (search youtube: paroki algonz). Yang tidak pernah terpikir, malah diminta mengisi pengajaran di dua komunitas karismatik Katolik sesudah Pentakosta, kemudian saya hubungkan dengan Perayaan Golden Jubilee ini. Segala pujian dan syukur hanya bagi Tuhan.

Ada suatu keyakinan, setiap Gereja merayakan tahun Yubileum, maka Tuhan akan mencurahkan rahmat baru di tahun Yubileum, demikian juga dengan Golden Jubilee Pentecost 2017 ini.

Sebenarnya melalui sharing di sosial media, saya ingin mengajak saudara di mana pun dan kapan pun dalam tahun ini untuk merayakan Golden Jubilee CCR.

Dari apa yang saya alami, dan kemudian boleh ikut melayani dan kemudian saya sharing di sosial media, maka ketika direnungkan, sebenarnya adalah:

“Ketika Tuhan memakai kita untuk melayani atau melakukan pekerjaan-Nya (termasuk juga berdoa, berpuasa, bersedekah), Dia juga sudah memberikan ‘upah’, berupa sukacita dan kesenangan boleh ikut melayani Dia dan menyaksikan bagaimana orang lain mengalami buah-buah yang baik dari pekerjaan Tuhan itu”.

Karena itu mari kita  merenungkan apa yang dinyatakan seorang Pujangga Gereja, yang dikenal juga sebagai orang kudus dengan cinta kasih yang murni, yaitu St. Theresia Lisieux (1873-1897) :

“Pada senja hidupku, aku tidak akan meminta kepada Allah untuk menghitung perbuatan-perbuatan baikku, sebab tiap perbuatan baikku mengandung noda dan untuk tiap perbuatan baikku aku membutuhkan rahmat Allah. Aku akan datang di hadapan-Nya dengan TANGAN KOSONG, aku hanya akan mengenakan mahkota kepercayaan akan cinta kasih Allah yang Maha Rahim, dan aku akan menggunakan sisa hidupku ini hanya untuk menyenangkan Yesus”

Perenungan yang diberikan St. Theresia ini mengajak kita untuk :

  1. Tidak mengandalkan perbuatan baik dan jasa-jasa kita. 
    Contoh: “Saya sudah melayani ini dan itu, mana upahku?”; “Saya sudah berbuat baik dan berkorban”, dsb. Dalam Injil Lukas, Tuhan Yesus juga memberikan perumpaan tentang pemungut cukai dan orang Farisi, dan bagaimana kemudian orang Farisi membanggakan kebaikannya dan merendahkan orang lain (Luk 18:11-12).
  2. Menyadari tiap perbuatan baik mengandung noda, yaitu egoisme, dan untuk setiap perbuatan baik membutuhkan rahmat Allah. Oleh karena kedagingan (egoisme) kita, maka hal-hal baik juga bisa ternoda, misalnya: dengan puas diri, kebanggaan sia-sia, mencari pujian (atau di dunia sosial media mencari sebanyak-banyaknya ‘like’). Dan untuk tiap keinginan dan perbuatan baik, kita membutuhkan rahmat Allah (Flp 2:13, “Karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kamu, baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya”).
  3. Hadir di hadapan Tuhan dengan tangan kosong dan berharap hanya kepada kerahiman Allah. Dalam sabda bahagia dinyatakan oleh Tuhan Yesus: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3). Orang yang miskin tidak punya apa-apa, hanya mengandalkan belas kasihan orang lain. Demikian juga dengan kita, sesungguhnya di hadapan Allah kita tidak punya apa-apa, dan berharap pada belas kasihan Allah saja.
  4. Berusaha menyenangkan Allah. Spiritualitas St. Theresia Lisieux dikenal sebagai jalan kecil atau jalan kanak-kanak rohani, bersumber pada Injil sendiri: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat 18:3). 

St. Theresia Lisieux menggambarkan dirinya seperti anak kecil ‘pengapit’ penabur bunga, sebelum mempelai memasuki ruangan pesta:

“Aku tetap mau menjadi seorang anak kecil dan aku tidak mau mempunyai kesibukan lain daripada menabur bunga. Bunga-bunga cinta kasih dan bunga-bunga pengurbanan untuk mempersembahkannya kepada Allah demi menyenangkan hati-Nya”.

“Menabur bunga” ini dalam arti mempersembahkan kurban-kurban cintakasih, penyangkalan diri, dan perbuatan baik, mulai dari hal-hal kecil di dalam kehidupan sehari-hari, di dalam kehidupan bersama orang lain: keluarga, komunitas, pelayanan, di tengah masyarakat, dsb. Memang tidak kelihatan dan tersembunyi, tetapi bila dilakukan dengan iman dan cinta kasih yang besar, maka hanya “Bapa di tempat tersembunyi” yang mengetahui dan membalasnya. Amin. (ET)

Image result for bare hands