Percaya Tanpa Bukti

Renungan Rabu 28 Juni 2017

Bacaan: Kej. 15:1-12,17-18; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Mat. 7:15-20

Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (Mat 7:16)

Abram tetap percaya akan janji Allah bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit, meskipun tanda-tanda untuk mempunyai keturunan tidak tampak karena usianya sudah lanjut. Namun demikian kepercayaan Abram kepada Allah tidak goyah.

Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus mengatakan: “Dari buahnyalah kalian akan mengenal mereka.” Memang benar bahwa hanya dari buahnyalah kita bisa mengenali apakah perbuatan seseorang itu baik dan didasari oleh Roh Kudus atau tidak baik dan hanya untuk dirinya sendiri. Sering kali kita ragu apakah orang ini baik atau tidak baik, sehingga kita menolak berbuat baik kepada orang tersebut hanya karena khawatir bahwa orang lain itu jangan-jangan orang yang tidak baik.

Tidak jarang kita curiga dengan melihat orang lain yang baik kepada kita dan berpikir bahwa pasti ada maunya. Setelah nanti dia mendapatkan apa yang dia mau maka akan kembali ke tabiat aslinya. Hal seperti ini yang sering membuat kita ragu untuk berbuat baik dan menolong orang lain.

Belajar dari  Abram dalam bacaan hari ini, Abram tetap setia pada janji Allah walau janji itu sangat meragukan. Bagaimana tidak? Sudah berusia lanjut tetapi belum punya keturunan, padahal Allah berjanji memberikan keturunan sebanyak bintang di langit. Namun, sekali lagi Abram tetap setia pada janji Allah. Bagaimana dengan kita?

Marilah kita belajar dari Abram yang menyerahkan semua kepada Allah. Jangan sampai keraguan kita menghalangi kita untuk berbuat baik kepada orang lain. Berbuat baik kepada orang lain adalah kewajiban kita kepada Tuhan. Masalah mereka baik atau tidak, itu adalah urusan mereka dengan Tuhan, bukan urusan kita.

Ada pasangan suami istri yang harus berpisah karena suatu pekerjaan. Pada awalnya mereka baik-baik saja, tetapi seiring berjalannya waktu, keraguan mulai muncul di antara mereka, kesibukan dan tuntutan pekerjaan mengakibatkan komunikasi di antara mereka berkurang dan menyebabkan mereka saling curiga. Perasaan saling curiga ini menjadikan mereka tersiksa dan mengakibatkan hubungan mereka bagaikan telur di ujung tanduk, sampai ahirnya mereka memutuskan untuk berpisah.

Ini pelajaran bagi kita bahwa percaya tidak memerlukan bukti. Dengan percaya kepada Tuhan kita bisa melewati semua masalah hidup kita dan keraguan kita bersama dengan Tuhan. Jangan sampai keraguan kita kepada sesama menghalangi kita berbuat baik. Seperti sabda Tuhan, dari buahnyalah kita bisa mengenali mereka. Maka mari kita selalu berbuat baik agar kita juga menghasilkan buah yang baik bagi Tuhan dan sesama. Amin. (FXG)