Membangun Peradaban Kasih

Renungan Senin 19 Juni 2017

Bacaan: 2Kor. 6:1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Mat. 5:38-42

Nelson Mandela adalah seorang negarawan dari Afrika Selatan. Hidupnya penuh dengan perjuangan yang begitu indah. Ketika orang Belanda menjajah Afrika Selatan mereka melakukan politik apartheid yang mana orang-orang berkulit putih meremehkan bahkan menindas orang-orang Afrika Selatan yang berkulit hitam. Dampaknya adalah orang-orang kulit hitam menjadi warga negara kelas dua. Situasi ini tentu tidak disetujui oleh Nelson Mandela yang juga berkulit hitam. Ia memberontak melawan orang-orang berkulit putih sehingga ia harus dipenjara pada tahun 1963. Selama di penjara, Nelson Mandela berpikir bahwa perlawanan yang paling bagus bukan dengan cara frontal karena cara ini hanya akan mendatangkan kebencian di antara manusia. Lebih bagus perlawanan dan kebencian diganti dengan cinta kasih. Pada tanggal 11 Februari 1990 Nelson Mandela dilepaskan.

Apa yang dilakukan Nelson Mandela setelah menghirup udara bebas di luar penjara? Ia tidak membalas kejahatan para penjajah secara frontal tetapi ia membangun sebuah peradaban kasih. Ia pernah menjadi presiden Afrika Selatan sebelum diganti oleh Thabo Mbeki tahun 1999. Dalam masa kepemimpinannya itu ia tidak meminta orang berkulit hitam untuk membalas dendam serta mengusir orang-orang kulit putih, tetapi ia lebih mengingatkan mereka untuk hidup berdampingan sebagai saudara. Ia sendiri menunjukkan teladan yang bagus. Selama di penjara, ia banyak dihina dan disiksa oleh para sipir penjara. Ketika menjadi presiden ia mengunjungi penjara tersebut dan bertemu dengan para sipir. Sambil tertawa ia mengatakan kepada para sipir, “Kalian semua pernah menganiaya aku selama di penjara ini.” Mandela memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang pernah menjadi sasaran pukulan dan penganiayaan para sipir. Tentu semuanya takut kepadanya tetapi Mandela mengatakan, “Kalian jangan takut, aku sudah berusaha melupakan kekejaman kalian. Aku memaafkan kejahatan kalian padaku.” Ini adalah sebuah kisah inspiratif dari Mandela bagi kita semua. 

Bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk hidup sebagai pengikut-Nya yang terbaik dengan menunjukkan sikap saling memaafkan dan tidak ada niat untuk membalas dendam kepada semua orang yang telah menyakiti diri kita. Kalau hukum lama sebagaimana disebutkan dalam Kitab Imamat: Patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Im 24:20), Yesus sebaliknya mengajar para murid-Nya: Jangan kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.” 

Contoh perbuatan jahat dari orang terhadap diri kita adalah: kalau ada orang menganiaya dengan menampar janganlah dibalas tetapi biarkanlah orang itu melakukannya. Kalau ada yang menginginkan barang-barang kepunyaanmu, berikanlah. Kalau dipaksa mengerjakan sesuatu, lakukanlah lebih dari itu. Segala sesuatu yang orang minta atau pinjam darimu, berikanlah.

Paulus dalam bacaan pertama mengatakan bahwa waktu ini adalah waktu yang tepat, waktu perkenanan di mana orang berusaha membangun sikap tobat di dalam hidupnya. Tuhan sendiri bersabda: Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan dikau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Untuk itu kita hendaknya menyiapkan diri untuk menyambut hari Tuhan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Waktu perkenanan diisi dengan saling memaafkan dan mengasihi sebagai saudara.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk membangun peradaban kasih (civilization of love). Peradaban kasih itu dibangun dalam suasana saling memaafkan, tidak mengingat masa lalu seseorang, tidak ada nafsu untuk membalas dendam kepada orang-orang yang menyakiti diri kita. Apakah untungnya Anda membalas dendam, tidak mau mengampuni sesama, membenci sesama? Rasanya tidak ada keuntungan apa pun dari semua ini. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, balaslah dengan kebaikan! Peradaban kasih jauh lebih luhur dan membuat semua orang merasa sebagai saudara! Apakah Anda mau ikut membangun dunia ini dengan sebuah peradaban kasih yang baru dalam Kristus?

Doa: Tuhan, semoga dari hari ke hari kami dapat bertumbuh dalam kasih dan mampukan kami juga untuk membangun peradaban kasih sebagai pelayan-pelayan Allah dalam terang Roh Kudus. Amin. (JH).

Civilization of Love