Label Anak-Anak Tuhan

Renungan Selasa 13 Juni 2017, Peringatan Wajib St.Antonius dari Padua

Bacaan: 2Kor. 1: 18-22; Mzm. 119:129,130,131,132,133,135; Mat. 5:13-16

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (Mat 5:13-14)

Masa remaja merupakan masa yang sangat indah. Meskipun mengalami banyak masalah, kesulitan dan tantangan, mereka tetap merasa senang dan bahagia seolah-olah hidup mereka tanpa beban. Inilah label masyarakat yang diberikan kepada anak-anak remaja.

Tuhan Yesus memberi label bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Garam akan berfungsi ketika larut dan menyatu ke dalam suatu bahan lain, umpamanya lauk pauk, kue dan sebagainya. Begitu pula diri kita sebagai anak-anak Allah dan murid-murid Kristus. Kehadiran kita dalam suatu masyarakat akan dirasakan oleh orang lain ketika kita menyatu dan memberi warna dalam kehidupan mereka yaitu dengan tindakan kasih dan pengampunan serta tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita dapat dilakukan dengan penuh tanggung jawab, maka terang ikut bersinar dan menerangi orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang akan melihat Yesus dalam hidup kita.

Santo Antonius dari Padua semakin termotivasi memberitakan Injil meskipun dia mendengar lima sahabatnya dibunuh di Afrika. Dia menyatukan diri dengan orang-orang Padua sehingga banyak orang sesat yang bertobat.    

Sekarang ini Indonesia sedang krisis teladan. Orang yang jujur, penuh kasih, bertanggung jawab dalam pekerjaannya justru dipaksa masuk penjara. Meskipun demikian, Paulus menasihati kita untuk tidak ragu-ragu menjadi garam dan terang Kristus: “Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya” (2 Kor 1:19). Kita tidak boleh bimbang dan ragu dalam mewartakan Injil Kerajaan Allah. Hambatan, tantangan dan kesulitan selalu ada, namun dengan kerendahan hati serta menyatu dengan masyarakat di mana kita ditempatkan, Tuhan akan memampukan kita untuk mengatasinya. Bersama Tuhan dan mengandalkan-Nya, kita menjadi terang dan nama Tuhan dipermuliakan.

Pengalaman saya ketika terjun di masyarakat desa, mereka mengatakan bahwa orang-orang Kristen (yang mereka pahami bahwa semua pengikut Yesus adalah Kristen) dapat diandalkan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya bahkan lebih dari itu, yaitu dengan penuh kesabaran dan kesederhanaan mau mengajari orang-orang lain agar bisa melakukan apa yang dipercayakan kepadanya. Sedangkan dalam komunitas Eikumene desa, mereka lebih percaya dan memberi kepercayaan pada orang-orang Katolik untuk memegang keuangan atau bendahara. Syukur kepada Allah, perbuatan sekecil apapun boleh dirasakan dan dialami oleh orang-orang lain karena ada garam yang mewarnai kehidupan mereka dan terang Kristus juga bercahaya atas mereka. Puji Tuhan.

“….Tuhan, firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh. Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu, dan janganlah segala kejahatan berkuasa atasku” (Mzm 119:130, 133).

Tuhan Yesus memberkati.

ECMW

Image result for Matthew 5:13-14