Kusta Rohani

Renungan Jumat 30 Juni 2017

Bacaan: Kej. 17:1,9-10,15-22; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mat. 8:1-4

Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (Mat 8:2)

Setelah Yesus turun dari bukit, tiba-tiba ada seorang penderita kusta menghampiri-Nya, sujud memohon kesembuhan atas sakit kustanya. Kisah Yesus menyembuhkan orang kusta ini sangat terkenal sehingga kita dapat temukan pada tiga Injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) yang menceritakan kisah tersebut.

Penderita kusta tersebut tergolong nekat dan berani, sebab pada zaman itu penderita kusta bukan hanya ia menderita sakit, tapi ia dikucilkan, bahkan oleh keluarganya sendiri. Di zaman Musa hingga jaman Yesus penderita kusta rambutnya harus diurai dan harus memakai pakaian rombeng, supaya tampak compang-camping, maksudnya agar dengan mudah membedakan bagi orang yang terkena kusta dan tidak. Ia harus menutupi mukanya dan sambil terus berkata najis-najis agar orang tidak mendekat padanya, dan tinggalnya harus di pengasingan di luar perkampungan penduduk (Imamat 13: 44-46).

Namun penderita kusta yang satu ini tergolong nekat, berani mati (tidak takut diusir, dipukul atau dilempar batu) karena berani mendekat kepada kerumunan orang banyak, bahkan berani mendekat kepada Yesus, padahal menurut hukum Taurat barangsiapa menyentuh orang kusta, maka ia akan menjadi najis.

Dapat dipastikan ada suatu keberanian dari dalam diri si penderita kusta untuk menerobos kumpulan orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Yesus, kemudian sujud di hadapan-Nya, disebabkan karena:

  1. Ia sudah tidak tahan lagi dengan penderitaannya.
  2. Ia mengimani sepenuh jiwa, bahwa Yesus adalah Mesias, sang penyembuh jaya.
  3. Dengan segala risiko yang harus dihadapi, ia tidak takut dan tidak malu lagi untuk menghampiri Yesus, memohon pertolongan.
  4. Ia sujud di hadapan Yesus, sujud tanda seseorang menyerahkan diri, merendahkan diri, menyembah, meletakkan semua harapan, memohon pertolongan.
  5. Ia memiliki iman yang besar, memutuskan untuk menyerahkan permasalahan hidupnya pada Yesus, karena ia percaya sepenuh hati, Yesus mampu menolongnya.
  6. Dengan iman kepercayaan itulah, ia maju menghampiri Yesus dan Yesus menyembuhkannya.

Bagaimana dengan kita? Sangat mungkin kita bukan penderita kusta jasmani, namun bisa jadi kita adalah penderita kusta rohani. Beranikah kita mengakui keberdosaan kita, kerapuhan kita, lalu mengambil keputusan datang pada Yesus dengan berani menerobos keramaian hiruk pikuk hidup kita?

  1. Dengan berseru pada Yesus, “Aku tidak tahan lagi akan penderitaan sakit kusta rohaniku.” (dosa, masalah, beban hidup, dsb.).
  2. Dengan mengimani sepenuh jiwa, bahwa Yesus adalah Mesias, sang penyembuh jaya yang dapat menolong.
  3. Dengan segala risiko kita berani meninggalkan hidup lama kita, komunitas yang merusak hidup kita, zona nyaman kita, datang menghampiri Yesus, dengan mengesampingkan kegiatan-kegiatan yang menyibukkan sehingga kita tidak ada waktu bagi Tuhan, mengesampingkan ego dan gengsi, dsb. kemudian dengan iman pengharapan yang penuh akan Kristus yang bangkit, menghampiri-Nya untuk ditahirkan hidup lama kita yang penuh dengan kegelapan, kebusukan, kenajisan, dengan berkata, “Yesus jika Engkau mau maka saya akan tahir dari hidup lama saya.” Maka percayalah saudaraku, Yesus tidak akan berdiam di kala kita datang dan memohon pertolongannya.
  4. Sujud di hadapan Yesus, sujud tanda menyerahkan diri, merendahkan diri, menyembah, meletakkan semua harapan, memohon pertolongan, memohon pengampunan.
  5. Dengan memiliki iman yang besar dan memutuskan untuk menyerahkan permasalahan hidup kita pada Yesus, percaya sepenuh hati, Yesus akan menolong kita.
  6. Dengan iman kepercayaan penuh mari maju menghampiri Yesus dan percayalah Yesus akan menolong dan mentahirkan sakit kusta rohani kita, dosa kita, permasalahan kita.

Milikilah iman sebesar iman si penderita kusta itu, datang dan hampiri Yesus, Ia bukan hanya menyembuhkan kusta jasmani, Ia juga akan memyebuhkan sakit kusta rohani kita. Yesus yang dahulu menyembuhkan si penderita kusta, Yesus yang sama akan menyembuhkan sakit kusta rohani kita saat ini (Ibr 13:8).

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

I.G.P.

Related image