Ketaatan Bukan Kewajiban

Renungan Kamis 8 Juni 2017

Bacaan: Tob. 6:10-11; 7:1,6,8-13; 8:1,5-9; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mrk. 12:28b-34                                                

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:33-34)

Latar belakang perikop ini adalah karena banyaknya aturan-aturan dalam hukum Taurat. Sudah menjadi kebiasaan para tokoh agama Yahudi mempertanyakan dan memperdebatkan dari sekian banyak hukum/peraturan Taurat yang berisi perintah dan larangan itu, hukum mana yang paling utama. Secara global di antara para ahli Taurat mempunyai dua pendapat bahwa hukum yang paling utama adalah mengasihi Allah (Ul 6:5) dan hukum yang kedua adalah mengasihi sesama seperti diri sendiri (Im 19: 18). Maka ketika Yesus muncul di antara mereka, seorang ahli Taurat mempertanyakan hal tersebut kepada Yesus dan Yesus mengetahui bahwa pertanyaannya bukan seperti pertanyaan ahli Taurat lainnya yang berusaha untuk menjebak-Nya kemudian menuduh-Nya dan mempersalahkan-Nya. Maka di sini Yesus mengemukakan sesuatu yang baru yaitu menyatukan kedua hukum itu: cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama menjadi satu hukum tak terpisahkan dan ahli Taurat tersebut menangkap serta menyetujui-Nya, karena ada tertulis di dalam ayat-ayat Kitab Suci juga menyebutkan bahwa kasih mengatasi korban, sehingga Yesus memujinya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”

Bagaimana dengan kita sekarang ini? Masihkah Yesus dapat memuji kita khususnya saya pribadi dalam melaksanakan cinta kasih ini? 

Ciri khas Kristianitas kita adalah pengakuan dan keseimbangan antara ungkapan cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama. Orang yang hanya menekankan cinta pada Tuhan akan terjerumus pada fanatisme sempit. Sebaliknya orang yang menekankan cinta kepada sesama akan jatuh pada aliran humanisme dengan melalaikan yang ilahi. Itulah sebabnya Yesus menegaskan bahwa cinta kasih itu harus berdimensi vertikal dan horisontal. Mencintai Allah harus juga mencintai sesama. Cinta kepada Tuhan (relasi vertikal) dan cinta kepada sesama (relasi horisontal) akan membentuk salib Kristus. Konsekuensi kita mencintai Tuhan dapat mengakibatkan salib yang harus kita pikul dalam hidup kita. Bukankah hal ini juga berarti kita melakukan pemberian diri dan hidup demi orang lain?

Dalam hidup sehari-hari, hal ini sudah kita praktekkan tetapi kita belum menyadari atau belum memasukkan dalam wilayah rohani, misalnya rela berhenti merokok demi uang sekolah anak, rela tidak beli kosmetik demi membiayai retret teman yang tidak mampu atau bangun pagi-pagi demi menyiapkan segala sesuatu kebutuhan suami dan anak-anak dan masih banyak lagi.

Doa: Ya Tuhan berilah kami kesadaran bahwa tindakan-tindakan kami yang sering sepele untuk menyenangkan orang lain adalah bukan sekedar melakukan kewajiban terhadap sesama, tetapi merupakan ketaatan kami dalam melakukan cinta kasih terhadap-Mu, sehingga kami dapat melakukannya dengan tanpa mengeluh. Amin. (LKME)

Image result for Mark 12:32-34