Bejana Tanah Liat

Renungan Jumat 16 Juni 2017

Bacaan: 2Kor 4:7-15; Mzm. 116:10-11,15-16,17-18; Mat. 5:27-32

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. (2 Kor 4:7)

Ketika saya masih kecil saya mempunyai sebuah tabungan yang berupa kendi yang terbuat dari tanah liat, saya mampu membeli dengan uang jajan saya yang tidak begitu berlebihan karena harganya sangat murah, setiap hari saya mengisi tabungan itu dengan uang logam. Suatu ketika kendi itu sudah menjadi penuh dan saya ingin mengambil uang di dalamnya maka dengan mudah saya memecahkan kendi tersebut tanpa saya harus meminta bantuan orang lain karena kendi ini sangat rapuh.

Dalam kitab Kejadian 2:7 dikatakan bahwa ketika Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Sama seperti kendi yang terbuat dari tanah liat yang sangat rapuh, sebagai manusia kita semua sangatlah rapuh dan tidak berarti.

Namun ketika kita menjadi orang yang berhasil dalam sosial masyarakat baik itu sebagai seorang pengusaha, karyawan, guru, orang tua, bahkan sebagai pelayan Tuhan, kita mulai merasa bahwa kita berhasil karena usaha sendiri, karena kepandaian sendiri, karena kesalehan sendiri.

Mari kita kembali menyadari siapakah kita ini di hadapan Tuhan, yang tidak lain adalah debu, dan dalam Mazmur 103:15-16 dikatakan: Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya,  maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya  tidak mengenalnya lagi.

Dan akhirnya marilah kita terus bersyukur atas kasih karunia-Nya yang begitu berlimpah dalam hidup kita. Kalau sampai hari ini kita ada, hidup kita dicukupkan bahkan berlimpah, kita boleh ikut melayani pekerjaan Tuhan dan ikut ambil bagian dalam memperluas kerajaan Allah, semata-mata hanya karena anugerah-Nya yang besar bagi kita semua.

Doa: Bapa, aku bersyukur dan berterima kasih karena kasih-Mu yang luar biasa dalam hidupku, berilah aku kerendahan hati supaya aku selalu memohon kepada-Mu, agar Engkau selalu menguasai aku dan menuntun setiap langkah hidupku. (CTS)