Ayunan Hati

Renungan Kamis 22 Juni 2017

Bacaan: 2Kor. 11: 1-11; Mzm. 111:1-2,3-4,7-8; Mat 6:7-15

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. (Mat 6:8)

Di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK), dituliskan bahwa doa berarti mengarahkan hati kepada Allah, ketika seseorang berdoa, ia  masuk ke dalam hubungan yang hidup dengan Allah (KGK 2558-2565). St. Theresia Lisieux mengatakan, “Bagiku doa adalah ayunan hati. Suatu pandangan sederhana ke Surga, seruan syukur dan cinta kasih, baik di tengah pencobaan maupun kegembiraan.” Doa merupakan pintu gerbang untuk berkomunikasi dengan Allah. Di sini perlu ada iman dan kepercayaan bahwa Allah sungguh ada dan hidup sehingga pribadi kita dapat berkomunikasi dengan-Nya.

Doa adalah salah satu cara Tuhan mengajar kita untuk menjadi dewasa. Kita terus belajar menjadi dewasa dalam iman melalui doa kita. Makin kita mengenal Allah, makin kita mengetahui bahwa tidak semua yang kita minta berkenan di hadapan-Nya. Makin kita menyadari, ketika kita berkata-kata di hadapan Tuhan, akan muncul pertumbuhan iman. Ada kedewasaan. Kita makin bertumbuh. Bertumbuh menjadi tidak egois dan tidak hanya mementingkan diri sendiri.

Doa membuat kita sadar akan banyaknya kebutuhan kita dan betapa kita tidak mampu memenuhinya tanpa bantuan rahmat Allah. Doa membantu kita menjadi miskin di hadapan Tuhan, sekaligus belajar mengenal dan melakukan apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita.

Doa dan pengampunan adalah merupakan kebutuhan pokok hidup manusia. Dengan berdoa berarti menyadarkan kita akan kemiskinan dan kelemahan kita, ketergantungan kita pada Tuhan Allah. Kita datang pada-Nya untuk memuji nama-Nya dan untuk ‘curhat’ kepada Bapa  tentang keadaan kita sesungguhnya. Segala kesesakan kita, masalah yang kita hadapi, kesulitan hidup, sakit penyakit bahkan segala kecemasan dan ketakutan hidup kita. Karena kita yakin Bapa mencintai kita dan senantiasa mendengarkan doa-doa kita. Karena itu yakinlah, bahwa dalam setiap doa kita selalu mendapatkan sesuatu. Ketika doa kita dikabulkan, Tuhan menambahkan iman kita. Ketika doa kita belum dikabulkan, Tuhan menambah kesabaran kita. Dan ketika doa kita terjawab tetapi jawaban itu tidak sesuai dengan harapan kita, maka sesungguhnya Tuhan telah memilih dan memberikan yang terbaik buat kita.

Kita juga membutuhkan pengampunan Tuhan. Kita tidak bisa hidup tanpa kerahiman-Nya. Dan juga kita harus dengan kesadaran diri mau mengampuni sesama, artinya kita mampu membangun relasi yang sehat dengan sesama.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengajarkan pada para murid dan kita tentang hal berdoa. Thomas Aquinas mengatakan bahwa Doa Bapa Kami adalah doa yang paling sempurna. Doa Bapa Kami dikatakan sempurna karena mengandung tujuh intensi yang bagus: “Dimuliakanlah Nama-Mu, Datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam Surga, Berilah kami rejeki pada hari ini, Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami, janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat” . Secara sadar atau tidak, kita selalu mengucapkan semua intensi ini setiap mengucapkan doa Bapa Kami. Kita memuji nama Tuhan Allah, dan memohon semua yang kita perlukan setiap hari termasuk membentuk relasi hubungan dengan sesama bisa terjalin dengan baik. Dengan demikian membuat kita semakin bertumbuh dan berelasi akrab dengan Tuhan dan sesama kita.

Sabda Tuhan hari ini sungguh luar biasa. Yesus mengajarkan kita bagaimana berdoa dan apa yang kita doakan. Yesus mengajar kita untuk menjadikan doa sebagai percakapan dengan Bapa. Kita memprioritaskan Tuhan Allah dalam doa kita. Di hadapan Tuhan, kita berdoa sambil memohon tiga intensi pertama, yaitu memuliakan nama-Nya, kedatangan kerajaan-Nya  dan terpenuhinya kehendak-Nya di bumi seperti di Surga.

Doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan Yesus bukan berisi daftar apa yang harus Tuhan lakukan untuk kita, tetapi lebih pada ajakan bagi kita untuk melakukan dan menerima kehendak Tuhan dalam hidup ini.

Sebagai orang Katolik kita pasti sudah hafal dengan doa Bapa Kami. Tetapi apakah doa Bapa Kami yang kita ucapkan benar-benar keluar dari hati atau sekedar kata-kata hafalan saja?

  • Bapa kami yang ada di Surga

Apakah kita selalu mempunyai waktu untuk mengucapkannya dan mengimani Allah Bapa kita di Surga sebagai satu-satunya Tuhan dan juru selamat kita?

  • Dimuliakanlah nama-Mu, Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu

Apakah benar kita mengakui Allah Bapa sebagai Raja atas hidup kita? Atau ketakutan dan kecemasan hiduplah yang sedang merajai hidup kita saat ini? Apakah benar kita mengharapkan kehendak Tuhan saja yang terjadi ataukah kita lebih menuntut pada kehendak dan keinginan kita saja yang harus dituruti?

  • Berilah kami rejeki hari ini

Adakah keserakahan dalam diri kita? Ataukah kita benar-benar sadar bahwa hidup ini hanya merupakan anugerah-Nya semata?

  • dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami

Apakah kita benar-benar sudah memaafkan kesalahan orang lain terhadap kita? Ataukah kita masih menyimpan dendam dan kemarahan dalam hati kita?

  • dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

Sadarkah bahwa seringkali kita sengaja masuk dalam lautan pencobaan atau mengundang yang jahat atau melakukan perbuatan dosa dalam diri kita?

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita sering takut jika disuruh memimpin doa. Mengapa harus takut dan tidak mau berdoa hanya karena merasa tidak menemukan rumusan kata-kata yang tepat? Hal ini bisa menghalangi relasi kita dengan Tuhan.

Dalam kehidupan keseharian keluarga kami, kebiasaan memimpin doa secara bergantian sering kami lakukan. Kami mengajarkan pada anak-anak untuk dapat memimpin doa secara spontan, dengan keluguan dan kesederhaan bahasa yang mereka miliki, mereka mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas anugerah Tuhan yang diberikan kepada mereka dan juga mereka dapat mengungkapkan apa yang menjadi kerinduan hati dan harapan mereka pada Tuhan. Menumbuhkan iman percaya sebagai anak Tuhan.

Berkat dan kasih Tuhan menyertai kita semua.

VRE

Image result for matthew 6:8