Allah Orang Hidup

Renungan Rabu 7 Juni 2017

Bacaan: Tob. 3:1-11a,16-17a; Mzm. 25:2-4a,4b-5ab,6-7bc,8-9; Mrk. 12:18-27

Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. (Mrk 12:27a)

Dalam bacaan injil hari ini orang-orang Saduki, yang adalah orang-orang terpelajar, ahli Kitab Suci dan pendukung hukum Musa yang fanatik, tidak menerima ajaran Yesus tentang kebangkitan. Orang-orang Saduki itu mengajukan pertanyaan kepada Yesus mengenai hidup sesudah kematian atau kebangkitan. Mereka sendiri tidak percaya akan kebangkitan. Mereka menampilkan contoh untuk menunjukkan bahwa tidak mungkin ada hidup sesudah kematian, karena akan membingungkan sekali seperti dalam contoh perkawinan itu. Jawaban Yesus singkat dan jelas.

Orang Saduki berpikir bahwa hidup setelah kematian sama seperti di dunia, cara berpikir inilah yang salah, Yesus menunjukkan kekeliruan dan kebutaan mereka terhadap pewahyuan Allah, akhir hidup manusia adalah menjadi seperti malaikat. Setiap manusia dihadapkan pada kenyataan akan adanya kematian yang tidak mungkin bisa dihindari. Namun demikian kenyataan ini justru membuka mata kita bahwa memang ada dua macam kehidupan yang dialami oleh manusia.

Pertama:  kehidupan di dunia sekarang ini yang akan ditandai dengan kematian.

Kedua: kehidupan abadi dalam Kerajaan Surga, yakni sesudah kematian yang akan dialami semua orang yang beriman pada Tuhan.

Satu hal yang tetap sama, yakni baik hidup di dunia maupun di surga yang menjadi penguasa adalah Tuhan Allah. Oleh sebab itulah bagi manusia yang percaya kepada Allah, hidup di dunia ini menjadi persiapan bagi kehidupan abadi.

Dapatlah kita bayangkan jika tidak ada kebangkitan badan dan hidup kekal? Cara kita menyikapi hidup di dunia ini pasti lain. Karena hidup hanya di dunia ini saja, mungkin kita lalu berusaha membuat hidup seenak mungkin. Kita mungkin mengabaikan norma kehidupan yang sifatnya menyangkal diri, mati raga, mengalah dan sebagainya. Mengapa hidup harus bersusah payah, marilah kita nikmati hidup ini. Bukankah setelah mati tidak ada kehidupan lagi? Kita jadi cenderung egois.

Akan tetapi bagi kita yang percaya pada kehidupan kekal, persoalannya menjadi lain. Kehidupan di dunia ini adalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan abadi. Apa yang kita lakukan di dunia ini mempunyai dampak pada kehidupan di dunia nanti. Segala susah payah di dunia ini bisa bermanfaat jika kita lihat dalam kerangka harapan akan hidup abadi.

Yesus menyatakan realitas dan kebenaran tentang kehidupan yang akan datang, yang harus menjiwai kehidupan kita di dunia ini. Itulah yang menjadi pengharapan kita dan itu pula yang diimani Gereja sepanjang masa. “Aku percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal”, untuk itulah Yesus menyerahkan hidup-Nya dan kemudian bangkit kembali pada hari ketiga. Untuk kebenaran itu pula tidak terbilang jumlah martir yang rela mati untuk memberi kesaksian bahwa tersedia hidup lain yang lebih penuh di balik kubur.

Tobit dalam bacaan pertama hari ini menyampaikan keluh kesah kepada Allah karena matanya buta. Dia mengira bahwa penderitaannya itu disebabkan oleh dosa-dosa pribadi atau nenek moyangnya. “Janganlah menghukum aku karena segala dosaku atau karena dosa yang dibuat oleh nenek moyangku.” (Tob 3:3b).

Kepercayaan seperti itu bukan tidak lazim pada masyarakat kita. Orang yang mengalami malapetaka atau bencana dipercayai karena dosa yang dibuat pada masa lampau. Misteri penderitaan telah menjadi teka-teki yang sulit dijawab hingga kedatangan Yesus. Melalui wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa penderitaan tidak dilihat lagi sebagai akibat dosa pribadi melainkan sebagai satu jalan yang harus ditempuh guna mencapai keselamatan.

Di dalam Yesus yang bangkit kita percaya bahwa penderitaan dan kematian bukanlah akhir segala-galanya, sebab Allah kita, bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kiranya dengan iman seperti ini kita bisa menerima penderitaan kita dengan sabar dan menyatukannya dengan penderitaan Yesus dan hanya dengan itu kita memperoleh keselamatan.

Doa: Ya Allah Bapa yang baik tolonglah kami untuk menerima salib-salib hidup kami sebagai jalan yang harus kami tempuh untuk memperoleh keselamatan dan hidup seperti malaikat di surga. Amin.

MLEN

Image result for god of the living