Tinggallah Di Dalam Aku

Renungan Rabu 17 Mei 2017

Bacaan: Kis. 15:1-6; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Yoh. 15:1-8

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (Yoh 15:4)

Banyak metode pembelajaran dengan banyak alat peraga yang membantu peserta didik bisa lebih efektif dan berhasil, tetapi tidak bisa dipungkiri, bahwa yang menjadi penentu keberhasilan itu adalah mutu genetik baik yang dipunyai para peserta itu sendiri.

Yesus Sang Pendidik mengajar kita semua untuk menjadi benih yang baik, baru mencari tanah yang baik, kemudian mengelola semua agar bisa tumbuh sebagai pohon yang berbuah lebat bisa dinikmati banyak orang.

Lebih detail lagi Yesus mengatakan bahwa ranting kalau tidak tinggal di dalam pokok angggur, ranting itu tidak akan berbuah. Ranting-ranting harus melekat dan tinggal di dalam pokok anggur.

Banyak kursus-kursus, retreat-retreat, yang diminati banyak orang, kalau semua hanya menjadi tren dan gaya hidup rohani saja dan firman Yesus tidak masuk sampai ke jiwa dan mendarah daging masuk ke sumsum tulang, semua itu tidak akan bisa menghasilkan buah. Tinggallah dan melekatlah dalam Yesus. Artinya Firman Yesus yang menciptakan kehidupan ini hendaknya dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran hidup ditingkatkan, kebiasaan-kebiasaan baik dikembangkan, pola pikir positif dipelihara, perasaan positif ditumbuhkan, mulut dikendalikan, terlebih lagi perbuatan-perbuatan setiap hari dikendalikan. Upaya dan usaha kita bukan instan, tetapi sungguh harus berjerih payah bekerja keras dengan segenap hati dan jiwa, sebagai perwujudan cinta kita kepada Yesus Sang Juru Selamat Tuhan kita, Allah kita. Dengan demikian kita tinggal di dalam Yesus, dan Yesus tinggal di dalam kita.

Itu bisa kita selidiki di dalam hidup kita, apa kita sudah sungguh merasakan cinta-Nya Tuhan meresap di hidup kita. Kalau sudah, kita akan memancarkan keceriaan di wajah kita yang penuh suka-cita, dan hidup kita bisa kita nikmati dengan damai sejahtera. Kita berani menghadapi semua masalah dan beban-beban berat di hidup ini, sekaligus bisa tetap bersabar kepada sesama apa pun perbedaannya, sifat, karakter, sosial dan budaya, pendapat dan keyakinannya. Meskipun demikian kita akan bisa tetap murah hati, terus mengampuni, terus berbagi, terus memberi, dan terus berbuat kebaikan ke sesama. Terlebih lagi kita bisa menunjukkan diri sebagai anak Allah, yaitu tetap setia kepada Tuhan Allah apa pun yang terjadi. Tetap setia kepada Gereja-Nya yang kudus, setia pada pernikahan kita, setia pada tanggung dan kewajiban kita, setia pada tugas harian kita. Apa pun yang terjadi kita tetap berlaku lemah lembut dan rendah hati. Sebagai anak Allah kita punya penguasaan diri yang prima.

Inilah buah yang ingin Yesus hasilkan di dalam diri kita, agar kita tinggal di dalam Dia, dan Dia tinggal di dalam kita.

Tuhan memberkati kita semua.

Vincent A. Dipojugo

Image result for abide in me